Rabu, 17 Januari 2018

a battle with my mind

akhirnya gue punya courragement buat nulis ini
ambil yang baik-baiknya aja, ya


Sebelumnya, gue mau kasih tau, kalo gue gak ada background psikolog atau psikoterapi atau apapun itu dengan berbagai macam turunannya. Pun gue bukan berasal dari jurusan tersebut di kampus. Gue orang biasa, mahasiswi 19 tahun yang akhir-akhir ini.. ya, bisa dibilang di tahun ini, banyak banget realize dan terus mencoba untuk meng-improve diri gue.

Sejak gue tau kalau kepribadian gue adalah INTP sekitar 2 tahun lalu dan sekitar dua bulan lalu berubah jadi INFP, gue jadi terdoktrin banget kalo gue itu adalah orang yang introvert tulen. Meng-iya-kan segalanya tentang kepribadian itu karena gue ngerasa itu emang gue banget. As peoples know, introvert cenderung selalu di rumah atau tertutup karena sulit untuk bersosialisasi. Rasa socially awkward and anxiety itu lah yang gue – kita – rasain. Even dalam circle keluarga pun, gue merasa “beban” untuk cuma sekedar nyapa mereka duluan dan itu yang buat gue merasa buruk di hadapan mereka.

Sebagai orang introvert – yang gak gue bangga-bangga amat --, yang udah dicap sebagai socially awkward ini, gue pernah berada di titik dimana semuanya meaningless. Kosong. There is no one I can talk with. Sampai akhirnya gue merasa bosen dan berpikir, “what if I end my life now?” .. dan pikiran itu muncul saat gue masih duduk di Kelas 3 SMP. Sekarang, kalau ingat-ingat masa itu rasanya ironic banget. Dan bangga. Bangga karena gue masih bertahan sampai sekarang. Kebosenan yang saat itu malah menggiring gue kepikiran-pikiran negatif. Really, at that time I had nothing to do. Literally, nothing. Karena saat itu gue udah selesai Ujian Nasional dan persiapan untuk daftar-daftar SMA. Yang gue lakuin sehari-harinya sambil nunggu pendaftaran SMA buka adalah main internet, nonton youtube to be exact. Dan itu semua gue lakuin sebulan penuh. There is no family vacation or whatsoever. Cuma di rumah, gak keluar rumah sama sekali. Untung gak jamuran. Hahaha.

Beberapa hari kemudian, setelah sempet punya suicidal thought, hari senin kayaknya. Gue sama sahabat gue ke sekolah, akhirnya setelah sebulan gak keluar rumah dan gak ketemu orang selain Ibu, Adik, dan Mbah, gue pun keluar. Hari itu ada agenda untuk cap tiga jari SKHUN. Gue merasa semangat banget karena mau ketemu mereka. Sahabat gue. Setelah nintain surat keterangan hasil ujian pakai jari tangan kiri, kita foto-foto untuk di upload ke dunia maya. Saat itu yang tren adalah Facebook. Biasa, show off abis cap tiga jari. Hehehe. Dan gue liat hasil foto yang kita ambil. I looked terrible! And older! And it’s feels like not me there! Gue kaget. Se-depressed itu kah gue kemarin? Mikirin apa sih gue? I asked myself. Gue cuma bosen padahal. Bosen karena gak ngapa-ngapain, bosen karena gak kemana-mana, bosen karena gak ngetawain apa-apa, bosen karena gue mengulang terus apa yang udah dilakuin di hari kemarin, kemarin, dan kemarinnya. Bosen. Bosen yang akhirnya memandang semuanya, apapun, siapapun itu membosankan. Bosen yang sampai di taraf bosen hidup. Ya, jokes bosen hidup itu, I had experienced it and it’s sucks.

Gue gak kebayang kalau saat itu gak ada arahan dari guru untuk datang ke sekolah buat cap tiga jari. Apa gue masih bisa ngetik cerita ini? Entahlah..

Yang jelas, rasa bosan dan kesepian yang gue alami selama sebulan itu langsung cair saat gue ketemu sahabat-sahabat gue. I feel alive and fully present.

Semakin bertambah umur gue, gue jadi sadar kalau gue juga harus aware sama diri gue sendiri. Jadi inget, dari masih SD gue selalu nulis diary. Selalu. Setiap hari. Cerita apapun yang udah gue lewatin di hari itu. Serentas gue SMP, gue udah mulai jarang nulis-nulis. Karena jujur aja, SMP adalah masa-masanya blinded by love banget bagi gue. Jadi, apapun yang gue tulis ya mostly kode-kode roman receh buat doi. Hahaha. Ah! Gue inget, kelas 2 SMP, kalau gue punya buku diary atau jurnal kali ya, kayaknya kalau diary agak “cheesy” gimana gitu, hehe. Tapi, gue jarang keep up. Malah kayaknya gak ada tulisan tentang perasaan gue secara intim? Kebanyakan isinya tentang kutipan buku atau lirik lagu yang cheesy gitu. Like I said before, I was blinded by love back then. Lol. Dan harga bukurnya quiet pricey. /cough/

Seiring berjalannya waktu, saat-saat gue pengen balik lagi untuk nulis, untuk mencurahkan pikiran dan hati gue secara fisik – nulis jurnal – adalah saat jadi anak serabutan. Iya, serabutan. Udah lulus sekolah tapi belum tau bakal kuliah dimana. Pikiran itu muncul gitu aja, lagi jalan sendiri ke toko buku, ada buku jurnal lucu, yaudah gue beli. As simple as that. Tapi, impact-nya selama setahun gue nulis jurnal itu besar banget. And I’m grateful for stepping to that bookstore.

Masa-masa sulit gue sejauh ini ya saat nyari kuliah itu. Masa jadi anak serabutan. Semua orang yang kenal gue mendorong, meng-expect, dan mengharapkan hal besar dalam diri gue. Beban? Jelas. Dan gue sangat-sangat stress ketika gue gak keterima di PTN. Literally, 6 PTN nolak gue. Rasanya udah gokil banget hidup gue saat itu. Ibu gue berkorban banyak buat gue keterima PTN, tapi all I do is disappointed her. Gue nulis apapun yang gue rasain tentang sulitnya masuk PTN. Nulis di blog secara implisit dan nulis jurnal secara eksplisit. Gue kesel, kecewa, marah sama diri gue sendiri. Tapi, apapun yang gue rasain gue berusaha untuk write it down. Apapun. Mau ngatain diri sendiri sekali pun ya tetep gue tulis. Saat itu gue emang gak tau benefit-nya apa, tapi as I said before, semakin bertambah umur gue realize itu membuat gue lebih bijak dalam menghadapi suatu kondisi. Dan setiap selesai nulis, hati dan pikiran gue terasa lega. Gak sesak, kalut, dan tanpa arah lagi.

Masa tertekan dan “dibenci” orang terhebat gue adalah saat gue gabung di suatu organisasi eksternal kampus. The environment… bener-bener gak sehat. Gak sehat buat perkembangan dan mental gue sebagai orang yang baru mau belajar saat itu. Kali ini tekanan yang gue rasain adalah dimana orang-orang di sana sangat bertolak belakang dengan diri gue. Sangat. Mereka gak pernah sungkan untuk mencibir langsung di depan gue. Sampai tiap tawa yang mereka suara kan dari orang mereka sangat intimidating buat gue. Itu bukan tertawa karena ada yang lucu, tapi tetawa meremehkan, merendahkan. Cuma di lingkungan itu gue selalu merasa salah, bego, dan gak berguna. Gue ngerasa banget kalau mereka treated me different daripada yang lain. Even until now. Mereka gak segan untuk mematahkan argument gue dan men-judge gue radikal karena berbeda dari mereka. Yup, that’s stupid but that’s also real.

Perasaan-perasaan selalu rendah diri itu sangat-sangat gak sehat. Dan yang gue rasa bukannya kemajuan berorganisasi, tapi malah kemunduran.
Gue pun mencoba untuk self-healing dengan nulis. Gue nulis kejahatan mereka terhadap gue di twitter. Tentang gimana gue merasa gak blend with the society, not fit in the environment, dan anti perspektif yang templated. Gue ungkapin semua di sana karena gue bersyukur banget, orang-orang di kampus gue gak ada lagi yang main twitter.

Dan jujur, di mana pun medianya, ketika kalian udah menumpahkan “isi” kalian, setelahnya itu akan light-weighten your shoulder banget. Secara gak sadar kalian udah ngelakuin self-healing. Kalian merasa lebih baik. Ketika kalian nulis, kalian akan sadar hal yang mana yang work and doesn’t work on you. Karena jiwa kita juga perlu istirahat dan tenang tanpa perlu mikirin-mikirin amat the negativity of the world. Mereka semua itu hanya toxic dan kita berhak untuk punya space untuk diri kita sendiri. Ya, dengan nulis lah cara gue melakukan itu.

Cukup rasa kebosanan hebat itu gue alami di Kelas 3 SMP, cukup rasa tertekan itu gue rasain di awal berorganisasi, cukup.. dan semoga gak kejadian lagi di gue yang akan datang.

Tapi, karena nulis juga membentuk gue untuk bottled up inside. Gue selalu merasa malu kalau gue mengeluh, menceritakan hal-hal yang membebani diri gue ke orang lain. Gue rasa, mereka juga punya masalah sendiri, kenapa gue harus menambah masalah mereka dengan ceritain masalah gue?

Such a toxic mind.

Toxic mind yang sampai sekarang masih gue usaha untuk mengubah mind set tersebut. Tolong, siapapun, jangan ada yang mikir gitu, ya. Cukup gue aja. Itu beban. Kita sebagai makhluk sosial juga masih butuh satu dua orang dengan sepasang telinganya untuk mendengarkan kita. Hal ini baru gue sadar beberapa hari lalu, kalau ada beban dan bingung harus cerita ke siapa, inget, bukan masalah siapa yang paling lama deket, tapi siapa yang paling bisa mengerti.

Kesadaran-kesadaran itu emang butuh proses dan untuk mempercepat prosesnya bisa kita katalis dengan mulai bertanya ke diri sendiri, “kenapa gue begini?” dan itu akan menggiring kita untuk mencari jawaban-jawabannya.

It’s okay to be not okay,
It’s okay if you need time alone,
It’s okay to be stubborn,
It’s okay to asking for help,
It’s okay to be selfish,
It’s okay,
It’s okay,

Dengan begitu kita jadi lebih bisa tau mana yang baik, apa yang harus kita lakuin, gimana cara mengurangi hal negative, dan lainnya yang nantinya membawa kita ke pola berpikir positif kalau apa yang udah terjadi semata-mata buat naikin derajat kita. cliché, tapi, kalimat “Tuhan gak akan ngasih cobaan ke hamba-Nya sesuai kesanggupan mereka” itu emang bener. Cobaan, tekanan, kesulitan, perasaan apapun dari-Nya adalah cara untuk kita naik level ke derajat yang lebih tinggi.

Jadi, mulai dengan mencintai diri sendiri secara jiwa dan raga adalah cara agar orang di sekitar juga mencintai kita…