Sabtu, 27 September 2025

Viewers konten nyentuh 2+ digit, tanpa trending audio atau video? Kok bisa?!

Jadi hal lumrah buat pegiat digital pake trending audio atau visual hook supaya dapet “massa” ke konten mereka. Tapi, tentu ngga semua trend bisa diikuti,

✅ ngga align dengan citra merek

✅ ngga align dengan budaya perusahaan

✅ atau sesederhana ngga bisa diadaptasi aja trend-nya


Kalo pengalaman aku ada di poin ke dua: budaya perusahaan yang tidak menyarankan pake trending audio–khususnya lagu. Buat aku yang sebelumnya pegang brand dengan mayoritas kontennya adalah trend-jacking (untuk kebutuhan marketing, biasanya disisipi keranjang kuning), tentu ini jadi tantangan tersendiri. 


Tapi pada dasarnya, tiap brand memang punya treatment tersendiri untuk sosial media-nya, baik dari segi tujuan hingga output walau punya blueprint yang sama: increasing account engagement dan bikin audiens ‘jalan’ dari TOFU, MOFU, lalu BOFU. Nah, balik lagi ke pertanyaan awal, “Viewers konten nyentuh 2+ digit, tanpa trending audio atau video? Kok bisa?!”


Bisa dong



Berangkat dari pengalaman pribadi: sangat beruntung aku pegang akun dari 0, kosongan, with no followers, content, even following. Jadi aku bisa ‘berdansa’ di sini, alias melakukan A/B testing saat delivery kontennya sesukaku (tentu harus terukur dan bisa dipertanggungjawabkan, ya). So, here’s the steps:


1️⃣ Know Your Customer: persona, tone of voice, target market–or basically anything about YOUR audiences that you want to talk to


Semakin spesifik audiens yang dituju, biasanya masalah atau objektif yang mau dibahas bisa lebih spesifik juga. Di sini lah brand hadir, untuk jawab permasalahan audiens. Makin spesifik objektifnya, subliminally create a relatability among audiences, alias munculin ‘aha!’ moment, “Ini yang selama ini gue cari!”


Bonusnya lagi, dari konten yang relatable bisa bikin audiens engage ke konten. Makin banyak yang engage, makin kesebar luas kontennya. Jadi apa? Ya betul, Vay-ReL (baca: viral)~


2️⃣ Research: keyword, permasalah–relatability


Seperti yang aku udah sebut di poin #1, “Semakin spesifik audiens yang dituju, biasanya masalah atau objektif yang mau dibahas bisa lebih spesifik juga.”, tapi cara tau masalahnya gimana?


Jawabannya singkatnya: ✨PEKA✨


Pada dasarnya, suatu topik bisa relate itu karena dialami dan dirasakan banyak orang–apalagi suatu permasalahan. Bakal relate banget deh kalo udah bahas “masalah”, ibarat “bonded by trauma” kali ya wkwkwk ya salah satu cara dapet ‘masalah’ (bukan nyari ribut, heLP) dengan lihat ke keadaan sekitar alias peka.


Sebelumnya aku pernah nulis soal ✨PEKA✨, jadi lebih lengkap baca ke postingan ini ya!


Riset keyword aku lakukan untuk cari tau what’s revolve around the problem from audiences perspective. Tujuannya untuk memperkuat penulisan konten dengan di-inject ke dalam skrip untuk dinarasikan talent, caption, dan hashtag


3️⃣ Journal or article reference for credibility


Aku pernah pegang brand yang fokusnya ke teknologi blockchain, crypto, WEB3

Pernah juga pegang brand kesehatan


Dua ranah itu, menurutku, punya topik yang niche banget jadi ngga bisa sekadar culik-culik info umum untuk kemudian dijadiin konten. Harus ada spare waktu khusus di time table kerja buat baca jurnal: refresh knowledge dengan baca, ngisi kepala seputar topik itu supaya bisa nulis–ngeluarin produk yang mudah dicerna dan relate sama audiens yang udah ditentuin kayak poin #1.


4️⃣ Visual consistency


Strategi audiens ✅

Analisis pain point ✅

Cari referensi kredibel ✅


Tapi dari ketiga aspek tadi, perlu dikemas dengan ✨visual consistency✨; dimana kolaborasi epik antara penulis konten dengan graphic designer atau editor terjadi di sini. Penerapan ‘ciri khas’ atau sapaan teknisnya, brand identity, dilakukan. Namun ada aspek yang tak kalah penting selain keselarasan visual dari guideline: sosok yang muncul dalam konten.


Khususnya platform TikTok, sosok konsisten dalam konten diperlukan agar terdeteksi algoritma, membentuk familiarity, ini memudah konten naik alih-alih ganti sosok tiap videonya. Boleh ada sosok pendukung (cameo), tapi tetap harus ada sosok utama yang sering muncul itu. Selain penggunaan satu sosok sebagai main talent, aku juga menerapkan penggunaan wardrobe khusus di tiap video: signature warna brand yang aku inject ke kerudung talent.


Dari visual consistency jadi terbentuk brand recall deh~



NAH, ketika keempat tahap di atas dijalankan secara komprehensif akan membentuk 🌿evergreen content🌿, kemudian mengarah pada 🌿brand sustainability🌿. Wow, masyaAllaah tabarakallah. If only we can be this ideal ya guys :’)


Walau ini adalah steps versiku, tapi tanpa sokongan, tukar pikiran, dan kolaborasi dengan rekan-rekan internal bahkan lintas divisi, impossible banget buat gotong brand sendiri. Ada kutipan dari Goenawan Mohamad yang aku suka banget, “.... perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai.”, which evaluation after evaluation, testing after testing, (heated, sometimes) discussion, trial error, and so on is much needed to reach that level of branding. Dan perjalanan itu adalah pekerjaan kolektif; gotong royong antar divisi, memaksimalkan waktu temu singkat (meeting) untuk mencapai tujuan perusahaan 🙂



More of me: https://tinyurl.com/FatimahsPortfolio


Cheers! 🍵



*mirror posting on LinkedIn

Minggu, 11 Mei 2025

Penghambaan

30 Juli 2024

Engkau Maha Kaya,

Engkau Maha Besar,

Engkau pemilik segala yang ada di langit dan bumi, mudah bagi Mu untuk mencukupkan dan membahagiakan hamba kecil sepertiku..


Ya Allaah, kadang ada masa dimana aku takut untuk sekadar berdoa pada-Mu. Aku takut keterbatasanku lah yang justru membelokkan [makna] atas apa yang kuminta. Aku takut ketidak piawaianku dalam bertutur, justru tidak menghantarkan pada apa yang kumaksud. Maka dari itu, doa dan harapanku sering kali umum dan luas


Tapi, [aku yakin] Engkau mengetahui apa yang ada di hati dan pikiranku..


///


20 September 2024


Tiap merasa hal-hal positif ..... [gue percaya] itu juga come from within... I'm exuding the positive energy and vibes yang akhirnya bikin pede. Alhamdulillah, semoga dibubuhi doa di awal hari, menancap ke upaya yang telah diupayakan. Aamiin... Aamiin Ya rabbal'alamin...


///


07 Oktober 2024


I hope I can exuding the positive impact too to where I step myself into. Bismillah, InsyaAllaah...


///


29 Januari 2025


Dan segala hal-hal baik selalu menyertai dalam peluk perlindungan-Nya, Aamiin... 🤍


///


12 Februari 2025


... Namun, tetap lindungi dan bersamai kami dimana pun kami berada Ya Rabb... Aamiin... Aamiin... Ya rabbal'alamin...


///


02 Maret 2025


Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah...


Dari segala momen baik dan membahagiakan yang telah Engkau curah limpahkan kepada kami, jaga dan lindungi kami dimana pun berada Ya Rabb. Terutama dari prasangka, praduga, dan hipotesis orang lain terhadap kami. Lapangkan dan tenang kan juga hati, pikiran, jiwa, dan raga kami di jalan -Mu... Aamiin... La haula wala quwwata illa billah


///


15 Maret 2025


Alhamdulillah atas segala yang terjadi. Terima kasih Ya Rabb. Terima kasih atas kemudahan dan kelancaran yang telah Engkau berikan pada kami. Perlahan tapi pasti, apa yang selama ini terpanjat dalam doa dan harapan baik tercapai/terkabul. Aamiin...


La haula wala quwwata illa billah


///


22 Maret 2025


Alhamdulillah... Terima kasih atas berbagai berkah, rahmat, serta nikmat yang telah Engkau berikan pada kami


Alhamdulillah...

Terima kasih atas rezeki-Mu,

Terima kasih atas kepercayaan yang orang-orang tuju padaku atas ridho-Mu,

Terima kasih atas orang-orang baik yang melindungiku Ya Rabb..


Lindungi lah kami dimana pun kami berada, juga mudahkan dan lancarkan segala urusan kami...


La haula wala quwwata illa billah


///


24 April 2025


Terima kasih atas kesempatan kami untuk memperbaiki sesuatu di antara kami,


....


Pulihkan, sembuhkan kami dari perkataan yang menyakiti hati kami dan terpatri di ingatan kami

Sembuhkan lah kami atas hal-hal yang tidak terucap dan terdeskripsikan, wahai Engkau Yang Maha Mengetahui segala isi hati.. Engkau pula Yang Maha Membolak-balikkan hati—atas ketidakpastian, keraguan, keyakinan, pemakluman, "plin-plan" itu: lindungi kami Ya Rabb..


Astaghfirullah...


Mudahkan dan lancarkan segala urusan kami, karna tak ada daya upaya selain dari Engkau, Ya Rabb..


La haula wala quwwata illa billah


///


25 April 2025


Aku takut—tapi, aku percaya dimudahkan, dilancarkan, dan dilindungi oleh-Nya.


Bismillah

InsyaaAllaah

Alhamdulillah


Aamiin...


///


10 Mei 2025


Ya Allaah, sembuhkan luka-luka kami yang tidak terlihat mata,

Jadikan kami pribadi lebih baik .... sehingga dapat membangun relasi sehat dan baik ke sesama manusia, ke makhluk-Mu yang lainnya


Terima kasih Ya Allaah,

Terima kasih Ya Allaah,


Ringankan, mudahkan, lancarkan, ikhlaskan kami atas hal-hal yang tengah kami perjuang-upayakan



...

Kamis, 05 September 2024

How To Build And Maintain A Stong Community On Social Media?

"Communication is the key", they said.

Yes? No?

Well, that's 50% true. But, understanding is, I believe, that lubricated the key that will lead to trust.

How so?

I'll pick the example from my favorite US brands:
1️⃣ Glossier,
2️⃣ Rhode by Hailey Bieber, and
3️⃣ Fenty Beauty by Rihanna

They are my favorite not because I have tried them (oh, I wish), but the aesthetic and the social media presence they build.

Each brand I mentioned was for different target audiences; Glossier with simple and seer colors of makeup, perfect for teenagers or makeup beginners as a stepping stone for their makeup game. Rhode offers simplified beauty care, with Hailey Bieber as the owner and face of the brand, it psychologically touches the target market and builds a mindset, "If we buy Rhode, we'll be like Hailey".

Then comes the inclusivity, Fenty Beauty, because Rihanna doesn't come to play in the beauty industry with their wide range of shades for the makeup they sell. Different than Glossier and Rhode who mostly tackle the "clean girl" trend, Fenty Beauty's presence was to set the bar for the makeup industry by being inclusive and bold.

Talking about inclusivity, recently TIRTIR shook the beauty industry with the diversity of cushion shades range they offer. Even though TIRTIR is a Korean manufacturing brand—which is well-known for its beauty standards, they are pretty popular worldwide right now, especially with its Mask Fit Red Cushion. Another inclusivity I must say.

💄Is it a campaign or marketing gimmick? Well, despite that, they definitely knew what they were doing: https://lnkd.in/gMMjf7MH
💄And this is how's going now: https://lnkd.in/g3PGHxaa

So, how can TIRTIR be popular among beauty practitioners? Because...
✅ They listen to their audiences
✅ They become problem solvers

Extract marketing influencers from the equation, a brand itself can automatically be the trend if the brand hears its audience. Take the feedback, bounce higher then be loved by many. Expanding the shade of their cushion was what TIRTIR did.

Or, if the wonder is too high, we can start simply by being a friend to the audience. Isn't what's the important talk or issues we bring up to mass, but the important is for us, as a brand, to be present in ✨the language✨ our audiences speak. Start by throwing questions, "How's your day?", then let the convo do wonders. Like what a friend does.

hashtagsociallistening hashtagbrandvisibility hashtagsocialmediapresence

I made lemonade (figuratively), to expand my comfort zone!

Job seekers are vulnerable to "slacking" due to not having a routine like workers. Taking courses, free or paid, can be a solution for building new routines and habits to add to the daily agenda.

And here is mine!

As someone whose makeup only consists of lipstick and eyebrow wax* on a daily basis, have zero practical makeup experience, but decided to join a short course about Modifikasi Makeup Pengantin is definitely a challenge, yet fun!

From August 5th to 9th, the course held at Kelurahan where I live. The Pak Lurah said on his opening ceremony, to us, the 20 participants, "Tujuan dari kursus sekaligus sertifikasi ini untuk memberdayakan masyarakat kelurahan, kemudian membuka mata pencaharian baru di tingkat rumah tangga".

And now I'm delighted to share that I've unleashed new hard skills in makeup, namely Pelatihan Kecantikan Skema Pengantin Muslim or equal as Makeup Artist Assistant. More of the visual journey can be seen below!

[//]: https://www.youtube.com/shorts/gx5KBiB8nA4 

*Now eyelash curler and mascara are added to the routine! ;-)

Rabu, 21 Agustus 2024

My unorthodox way to stay updated on social media trends! 📱🥂

TikTok Creative Centre ❌
Google Trends ❌

Here is my unorthodox way to stay updated on the latest social media trends! 📱🥂

Keeping up with social media trends can be as easy as scrolling through social media itself. It can be in video form with niche POV and audio with short-form content, or if something is 'controversial' enough, it can be delivered in carousel or long-form content.

Sometimes, most of the time, I also saw there are "cross-trends", where what is trending on TikTok can also be trending on Instagram, Shorts, or other platforms. The challenging part of being a Social Media Manager is,

💬 "How do we join the trend while still staying on track with our branding?" 🤔

Other than getting my hands dirty by being chronically online, my way to stay updated and comprehend what's going on on social media is by watching video essays on YouTube. The Comments Section with Brett Cooper and Mina Le has been seated, safe and sound, on my YouTube subscriptions. Both of them not only deliver and "comment" on what's going on on social media plethora but also throw scientific journals and credible articles here and there to shape an objective point of view about the mainstream media.

That's the key point for a Social Media Manager: be objective. Very demure, very mindful. ✨

The Girls in Marketing on LinkedIn has also been my go-to source of information for social media trends. With the marketing experts on their sleeves, they educate their audiences by sharing an analysis of why some are trending with a compelling design (simple yet familiar to audiences, i.e., using emojis) they bestow.

💡 Despite the sources, being open, curious, and knowing more below the surface than "this is the trend we should follow!" can save the brand's online presence. It's also making the creator or the social media team more holistic and mindful of the content being produced, with the output of 🌿ever-green content🌿 in mind. Which play a vital role in ensuring the brand or the company's longevity.

After three years of handling social media professionally, it has come to fruition that it is part of the brand's and/or company's showcase. The people behind it need to be as niche as they possibly can to maintain the brand image and consistency while taking part in the bandwagon. Of course, it takes a village to do so. Not all-in-all being tackled by the Social Media Manager, but with a helping hand from other experts such as Graphic Designers, Copywriters, Content Creators, and other elements as its village governor.