Rabu, 07 Juni 2023

opini: the backfire of 'swasembada pangan'

Wakil Presiden Indonesia beberapa bulan lalu menghimbau, "Giatkan program diversifikasi pangan lokal secara masif. Masyarakat Indonesia saat ini masih tergantung pada beras sebagai sumber makanan pokok."....

....Padahal ada historis panjang sampai Indonesia hari ini akrab dengan konsumsi nasi sebagai makanan pokoknya. Bermula dari 1984-1986, Indonesia swasembada pangan berkat program pemerintah. Kemudian dilakukanlah penanaman padi di tiap daerah di Indonesia. Buka lahan pun dilakukan, diubah menjadi sawah. Singkat cerita, panen raya tiba, lalu beras mantap jadi makanan pokok Indonesia. Namun, here is the thing, Indonesia adalah negara kepulauan yang geografis dan iklimnya berbeda tiap wilayahnya. Perbedaan ini, secara alamiah mendikte "tumbuhan apa yang cocok untuk tumbuh", lalu warga lokal akan menjadikannya makanan pokok.

But, boy oh boy. Program swasembada pangan ini justru berbalik arah bak bumerang dikemudian hari. Masyarakat 'dijejali' nasi, ditinggalkanlah makanan lokal mereka, sampai terbiasalah mereka dengan tanaman dari famili Poaceae itu. Namun, setelah Dua Tahun dibiasakan, ternyata swasembada pangan tak berlangsung lama--mayoritas politik penyebabnya. Indonesia pun kembali mengimpor beras. Sayangnya, pola komsumsi makanan lokal tidak kembali, pembiasaan makan nasi itu mengakar sampai hari ini.

Kebiasaan makan nasi sebagai makanan pokok, jelas harus disubstitusi ke makanan dari tanaman lokal. Misal jagung, ubi, singkong, atau sagu untuk beberapa wilayah Timur Indonesia. Rejuvenasi makanan pokok ini perlu dilakukan dalam upaya mewujudkan Zero Hunger (SDG2) di Indonesia. Dengan pemerintahan sekarang yang sudah melek persoalan ini, harapannya di masa depan Indonesia benar-benar dapat mewujudkan "program diversifikasi pangan lokal secara masif" seperti kata Wakil Presiden. Walaupun pada kenyataannya "menghidupkan kembali pangan lokal adalah pekerjaan besar yang memerlukan kerja keroyokan", dikutip dari Dinakkeswan Provinsi NTB.   [  ]