Mengapa harus menulis?
Karena menulis...
Menulis itu indah, kata-kata disusun menjadi mantra.
Menulis itu bebas, ekspresi mu tak kan pernah luntur dimakan usia.
Menulis adalah didengar.
Menulis adalah wujud eksistensi.
Menulis adalah sekencang-kencangnya teriakan.
Menulis adalah pencapaian tertinggi dalam proses pemikiran.
Mari kita lihat ke
belakang pada masa penjajahan dulu. Dari sekian banyak pahlawan wanita yang
berjuang dengan bambu runcing atau kapur tulisnya, kenapa hanya R. A. Kartini
yang diabadikan dengan Hari Kartini tiap tanggal 21 April?
Ya, karena Kartini
menulis. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang adalah kumpulan surat yang dikirim
Kartini pada teman-temannya di Eropa. Ia menulis untuk menumpahkan keresahannya
pada masa itu. Masa Hindia Belanda dijajah dari materiil sampai moralnya. Buku
tersebut masih disebut-sebut dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas 5
SD. Karena tulisan itu abadi dan penulisnya akan tetap hidup di dalam
tulisan-tulisannya.
Membahas tentang tulisan
dan buku, pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan nama Plato dan
Aristoteles. Kepekaannya dalam bidang sosial, politik, dan filsafat menjadi
rujukan utama bagi pendalam ilmu-ilmu tersebut. Bangga betul orang Yunani punya
orang-orang hebat seperti mereka.
Tunggu, bagaimana dengan
Sokrates? Dia juga hebat. Pemikirannya dipakai juga dalam ilmu filsafat. Kenapa
tidak disebutkan juga seperti Plato dan Aristoteles di atas?
Sokrates. Filsuf
angkatan pertama Yunani. Orang paling bijak pada masanya. Tapi ia tidak tahu
kalau ia bijak karena orang bijak tidak akan mengakui kalau ia bijak. Terima
kasih atas pemikiran-pemikiran bijaknya. Tapi, nama siapa yang paling sering
muncul dalam buku bacaan mulai dari buku Pendidikan Kewarganegaraan tingkat SMP
sampai buku-buku tingkat perguruan tinggi?
Plato dan Aristoteles.
Kenapa begitu? Kenapa
bisa Sokrates, angkatan pertama filsuf Yunani jarang muncul dengan
teori-teorinya di buku-buku teks?
Karena Sokrates tidak
menuliskan teori pemikirannya. Plato adalah murid Sokrates. Plato menulis. Dari
36 buku yang ia tulis, beberapa di antaranya ia hidup kan kembali gurunya itu
di dalam tulisannya. Membuat bingung apakah cerita itu hasil dari pemikiran
Sokrates sendiri atau Plato.
Menulis membentuk pola pikir dan sikap. Menciptakan teori-teori
baru dari perspektif tiap individu. Dan bahasa adalah pengantarnya.
Al-qur'an sebelum dibukukan
pada jaman kekhalifahan Umar bin Khatab, ayat-ayatnya ditulis di atas pelepah
daun, tulang-belulang, dan batu. Semua itu dilakukan untuk mengabadikan ayat-perayat
yang turun sebelum Nabi Muhammad saw., wafat. Ayat-ayat yang menjadi penolong
umat dalam mengaji keilmuan dunia maupun untuk keselamatan di akhirat.
Bayangkan kalau ayat-ayat tersebut hanya dihafal oleh para sahabat, tanpa
ditulis, diabadikan secara aksara, mungkin sekarang tidak ada yang namanya
Islam. Karena ia tak berpedoman pada kitab. Para penghafal telah wafat sebelum
mereka sempat mengajarkan pada penerusnya. Dan mungkin tidak adanya al-qur'an
juga membuat kita tidak tahu kalau ada agama bernama Islam.
Mundur ke jaman di mana
belum mengenal tulisan, pra-aksara, namanya. Meskipun pra-aksara, manusia purba
sudah menggunakan arang, batu, tulang untuk mengukir di dinding-dinding goa.
Mereka membuat gambar-gambar membentuk kisah kebiasaan pada masa itu. Gesekan
batu itu menciptakan goresan dalam yang mampu bertahan hingga ratusan bahkan
ribuan tahun yang sekarang justru menjadi sumber ilmu pengetahuan hebat untuk
memprediksi usia bumi, antropologi. Manusia purba di masa itu tidak memikirkan
kalau goresan cerita berburunya akan menjadi sangat berharga di masa sekarang.
Contohnya seperti
seseorang membentuk goresan hati yang patah di epidermis pohon pada masa lalu
dan menjadi bermakna saat ia melihatnya lagi di masa sekarang. Goresan itu
bercerita. Ia bercerita kalau pernah ada yang patah hati saat itu.
Karena menulis itu abadi, maka menulis lah.
Hal-hal kecil tentang
apapun akan menjadi kilas balik terbaik jika dituangkan dalam kertas dengan
tintanya. Karena tidak ada orang yang benar-benar tulus pada mu 100%. Ia pasti
mengharapkan timbal-balik secara tersirat maupun eksplisit. Tapi buku dan
pulpen tidak begitu. Ia jujur apa adanya. Ia tidak mengumbarkan rahasia
terburuk mu. Ia akan menjaganya rapat-rapat.
Menulis lah,
Tak perlu tunggu hebat untuk jadi penulis.
Menulis lah,
Tak perlu fiksi atau roman, cukup dari kau bangun pagi hingga
kembali tidur
Menulis lah,
Karena opini mu mampu mempengaruhi dunia
Menulis lah,
Maka kau akan jadi dirimu sendiri.
Depok,
14 April 2017
Penulis,
Fatimah
Az Zahra
ditulis untuk mengikuti lomba menulis esai HUT IMM ke-53 PK. IMM FAI UMJ
