Kamis, 11 April 2024

Fiksi: mereka sama berkhianatnya

mereka sama berkhianatnya

Cross-posted on another account with the different characters' names

July 2022

 

.... pada dua negara di satu bumi


Note: Ini hanya fiksi dengan setting zaman penjajahan Belanda, sekitaran masa tanam paksa dan sebelum Jepang menyerang Indonesia. Bukan sumber untuk belajar sejarah.

 

. . .


H+40


Lembar potret dihimpit jemarinya begitu berirama selayak prisma dihantam cahaya. Polarisasi atas busana monokromatik hitam layu dan putih kuyu jadi jukstaposisi yang melindungi epiderminya. Seorang diri ia di pinggiran toko kelontong bercagak jati, berpayung jerami. Hanya selongsong bambu tersumpal kain suam kerosin melahirkan pelita lah yang membersamai ia dan determinasinya.

Awas tangannya, manakala lembar berkilat itu ia kembalikan pada singgasana aman di celah jaket ia yang mana juga berfungsi sebagai perisai tubuh dengan iklim luar ruang. Diabaikannya ngilu yang menjalar sampai ke ulu saat ujung jemari beradu dengan bongkah besi berantai. Lekas ia membebaskan tangannya dari jerat dan bertolak kemudian. Sol berikat yang dikenakan dibiarkan membawa kemana pun sesuai senangnya.

Sepi yang menulikan. Bagai tupai dalam roda berputar. Ia bergerak, tapi tak berpindah kemana-mana akibat ekologi hidup dan tak hidupnya terus sama: bangunan kayu rotan jauh berjarak satu sama lain, disokong pula pijar malu-malu di balik kelambu lubang ruang, pohon pisang liar, pohon ketela untuk pagar, dan vegetasi kayu rimbu lainnya jadi pendukung cakup lingkup petang hari. Terus begitu, terus kontinyu.

Maka selain ia, tak ada siapa pun yang menggerakan roda-- menghuni jalan setapak berkubangan nan lengket liat tanah merah kini. Namun, tapal karetnya masih ingin berakselerasi.

Ayun tangan ia berlawanan dengan gerak tuas dua tungkai. Iris biru pada manik ia melebar berkat tak ada berkas cahaya apapun yang menumbuk bebendaan sekitar untuk dipantulkan ke retina. Asumsi berkata ia masuk hutan, tapi dikikis lekas-lekas karena jalan yang ia tapak itu masih lumat tanpa penghalang--rerumput, daun kering, atau ranting.

Langit nian kental tanpa kejora. Seluar kian lusuh penuh bercak lumpur. Ia buta waktu. Tapi, lambaian nyiur hutan berkata telah pukul sepuluh. Dan solnya masih enggan berhenti--perjudian ia dengan waktu untuk menghasilkan harap tertulus dari sanubari masih ia perjuangkan.

Otot kakinya kencang sudah kala tiba di persinggahan. Bale rotan di salah satu bilik rangka tanpa sisi jadi pendaratan ia yang pertama setelah menjejakkan kaki di masa ini bersamaan rintih yang melolong membelah sepi. Dari panggul sampai ujung ibu jari kaki berbalut kulit sintetis dekil digantung ia dan tubuhnya dibawa rebah pada anyaman rotan berbantal lengan di kepala.

Bola-bola birunya menggerayangi langit-langit saling silang bilik, baru terbuka lagi saat sahut-sahut ayam jantan dan tumbukan alu menerobos indera pendengarnya. Ia pun berjalan lagi setelah menjinakkan segala protes sendi yang lama statis dibuat dinamis.

Tepat matahari di atas kepala, ia singgah untuk kedua kalinya. Hamparan pohon jagung menjulang membentengi jarak pandang. Tapi, yang jelas dekat radius mata melihat adalah banyak pekerja tengah membopong keranjang rotan berisikan jagung-jagung masak pohon di bahunya berasal dari balik pohon-pohon itu.

Ia mengeluarkan carik rekam dwimatra itu lagi. Dipandangi. Lama dan kian dipandang, kurva di bibir pun mengulung otot di pipi. Meski sorot maniknya mendung di cuaca yang menghukum.

"Hei!"

Gema sapa dari kejauhan buat jantungnya lompat menghantam rusuk. Lekas ia mengamankan kembali lembaran berwarna merefleksikan cahaya itu pada sakunya lalu mencari sumber suara.

"Hei! Angkat dengan benar jagung-jagung itu! Kau mau buat kita semua mati kelaparan?!"

Tak jauh dari ia singgah, seorang berseragam dilengkapi senapan di tangan tengah meneriaki seorang dari kelompok panen jagung menggunakan bahasa campuran Belanda dan Indonesia. Beranjak dari gubuk ia singgah, dihampiri lah pemakai seragam itu. Dari dekat, baru sadar ia jika para peseragam hijau bersenapan itu merupakan Koninklijk Nederlands Indisch Leger; KNIL. Atau Tentara Kerajaan Hidia Belanda. Ia pun berlari, mencegah tentara Belanda itu menghakimi lebih si pribumi.

Dilewatinya KNIL itu dengan mudah--seorang pribumi juga rupanya, pribumi yang manut pihak Belanda. Bebatuan pasir berterbangan diempas tapak kaki ia. Tapi, sol karetnya kaku seketika kala tiba di muka tiang-tiang jagung yang membelah. Dimana melahirkan seseorang berbulir peluh di sekujur tubuh. Bahu sempitnya penuh dengan bantalan keranjang berisi segunung jagung utuh.

Napas ia diputus realita. Biru irisnya menganga. Bergetar suara ia kala menyebut satu nama, "S, Sri..?"

Petani jagung itu menatap lurus-lurus apa yang ada di depannya. Membenarkan posisi bantalan keranjang jagungnya untuk mengurangi ngilu yang menusuk di bilah bahu kanan dan kiri.

Hendrik beku di posisi. Sorot jelaga di seberang sana tetap sama seperti milik Sri di umur tiga puluh empat tahun di dunianya. Tetap sama, penuh determinasi dan misteri. Pekat hitam amat dalam dan menyedot segala atensi untuk dijerat hingga terperangkap tak bisa lepas. Maniknya adalah lubang hitam yang candu. Tetap sama, seperti saat sebelum Sri menutup mata untuk menembus langit-langit menujuNya.

"Hei, kenapa diam saja? Cepat bekerja!"

KNIL itu berseru lagi. Kali ini menyadarkan Hendrik pada dunianya di masa sekarang dan Sri enam belas tahun yang kembali pada pekerjaannya. Kaki telanjang terseok menggerus kerikil dengan karung goni jadi pakaian terbaik adalah perawakan buruh tanam paksa di ladang jagung milik serdadu. Perlakuan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan Belanda dalam memasok senjata perang melawan negara para pekerja Inlander: Hindia Belanda.

"Stap opzij," bisik Sri. Kepalanya menengadah untuk jelaga ia dapat menantang iris biru Hendrik. Sedangkan yang ditantang perlu menunduk agar sua tatap mereka dapat mencapai titik temu.

"Sri ...., kau bisa melihatku?"

"Inlander bangsat!"

Sekali tendangan di betis merobohkan tonggak pijak Sri. Bersama jagung-jagung hasil panennya, Sri rebah di tanah kering nun berdebu.

"Jaga bicaramu! Kau pikir aku tak mengerti apa yang kau katakan?! Pakai bahasa mu sendiri, jangan pakai bahasa Kerajaan!"

Tangan-tangan nyaris tinggal tulang itu gemetar menyanggah badan dari rebahnya. Lewat kisi surai, manik itu tak gentar kala mengatakan, "londo ireng. Penghianat bangsa. Kau tak pantas hidup di sini lagi, Mas."

Mas...?

"Hei, hei. Ada apa ini?"

"Siang, Meneer. Seperti biasa, ada pekerja malas-malasan."

"Oh." Meneer penghisap cerutu itu mengarah pada Sri yang tengah mengisi kembali keranjangnya dengan jagung-jagung yang jatuh lagi bersimpuh. "Hei, Inlander. Cepat angkat jagung-jagung itu sebelum terlalu lama menempel di tanah. Jika ada yang cacat lebih dari tiga bonggol jagung, kupotong upahmu."

Hendrik termangu. KNIL yang ternyata adalah Mas Ngadiran, kakak laki-laki Sri, juga tuan tanah dengan cerutunya buyar membiarkan Sri sendirian. Manik-manik biru Hendrik terpaku pada tubuh Sri yang mulai bangkit dan kembali membopong keranjang penuh jagung. Masih dalam sirkumtansi sama, lagi, manik beda warna Hendrik dan Sri bersua.

Perlahan dan pasti, Sri menyeret kaki-kaki ia, sedangkan Hendrik enggan beranjak. Makin dekat Sri dengan Hendrik, hingga jarak tersisa satu depa. Lalu satu jengkal. Sampai dada bertemu dada. Lalu tubuh solid Sri menembus semu penampakan Hendrik, buat air matanya berhasil membuat kanal-kanal di bilah wajah ia.

Hendrik berhasil menemukan Sri-nya. Namun, Hendrik hanya lah sosok nihil dunia.


. . . . .

 

H-0


Letnan Hendrik van der Meer, tewas dalam kecelakaan tunggal pesawat kemiliteran angkatan darat. Pengiriman persenjataan ke Timur Jawa terhambat.


. . . . .


H+1


"Aku turut berduka."

"Terima kasih, Yuk."

"Sri."

"Sarti."

Dua yang punya nama bertemu dalam peluk. Simbolisme bagi tenang saat duka sukar ditolak.

Semerbak dupa di pusat ruang sempit memenuhi rongga hirup. Di antara sesak isak terbata-bata, hanya ada satu dari mereka yang senyumnya merekah-rekah, menenggelamkan bola mata dalam bukit wajah akibatnya. Betapanya tidak sopan.

Ialah dia yang dalam figura monokrom. Lencana jejak kepemimpinannya berkilau tetap kendati demikian.


. . . . .

H-948


"Saya pribumi, kau penjajah bumi ku! Dan sekarang kau meminta hati saya? Kau londo lancang!"

"...Maafkan saya, Sri."

"Minta maaf pada orang-orang saya! Yang seenaknya kalian tarik-ulur nyawanya di tangan kalian!"

Hujan masih berontak mengeroyok bumi priangan. Namun, dia yang Sri tak peduli basah akibatnya.


. . . . .


H-945


"Kau yakin meneer itu bilang begitu..?"

"Kita hanya sering kelaparan Sarti, bukan tuli."

"..."

"Kita tidak sekolah, tapi menjual negara untuk kemudian bercinta dengan penjajah itu," Sri buang ludah. "Aku tak sudi!"


. . . . .


H-850


Sri menjilat ludahnya sendiri.

Gubuk berpelita temaram di malam bergemintang terang, dia mengeja pelan-pelan nama sang tuan.

"H, Hen.. Hendrik..."


. . . . .


H-849


Asap bakaran membangunkan mereka yang bertautan di atas dipan rotan. Dada bertemu punggung.

"Kenapa?"

Bahkan cicak di langit-langit pun tak mendengar suara tanya itu. Tapi, dia dengar dan menjawab, "Saya cinta kamu."

"Pengkhianat..."

Hendrik merengkuh tubuh Sri erat. Jemari banyak kapal berkat cangkul dan pekerjaan kasar si pribumi lakukan digenggam si penjajah yang cuma ada garis tangan. Benar, mereka adalah pengkhianat bagi bangsa masing-masing.  [  ]