kodependen
Writing for a fan event on Twitter, posted on
Wattpad in a different name character
May 2021
[
Marjinalisasi sosial -- dianggap proletar; mereka. Padahal bagian dari kita
juga. Mereka adalah perwujudan atas frasa 'manusia makhluk sosial'; masih butuh
siapa-siapa walau hanya satu, dua.
Dan
mereka juga jadi penutup gerbang akhir dunia untuk siapa yang menghadap
Pencipta. ]
. . .
"Mas,
kok mau 'to kerja begini?"
"Biar
dekat sama teman saya, Pakdhe."
Bakaran
linting dihempas. Gesek lempeng besi bertemu besi turut membersamai.
"Tapi
kan, Mas nya ngganteng gini. Badane yo apik. Kerja di kantor kan bisa
'to, Mas?"
"Mboten, Pakdhe," bibir ia naik dua
inci, lalu menjawab lagi, "kulo
kesah ngulon riyen, Pakdhe."
"Oh,
nggih. Ojo suwi-suwi, lho, Mas. Dhiluk
engkas motore teka."
"Nggih, Pakdhe."
Yang
pamit, dengan sendal jepit berpeniti, meniti setapak susun bata dalam sunyi.
Tiba
di barat, hanya ada ia dengan bentukan kelabu teraso diukir nama. Tintanya
sewarna logam mulia. Bentuk penghormatan bagi dia yang namanya dituliskan
demikian.
Merendah
diri di sisi kiri bata ukir. Bersama ia kayu lengkung tapal besi berdiri
menemani. Rumput di genggaman enggan mengisi relung jiwa ia--begitu dingin.
Berkat hujan lebat semalam, awan yang merendah tipis-tipis menjeda daya
pandang. Namun, bagi ia yang bersimpuh di sana—
"Aku
sudah lulus."
—tak
perlu banyak jelas.
Semakin
jelas justru makin meremas tenggorokan.
"Aku
jadi bisa di sini, setiap hari."
Tarian
jajaran bambu menggesekan runcing dedaunannya. Kamboja juga meranggas satu,
dua. Bau bakaran kayu sisa semalam bercampur dengan embun penuh di rongga tukar
udara. Makin bertumpu bumi, alas karet ia makin terhisap. Jemari kaki paling
pinggir jadi korban pertama lekat lengket liat kemerahan.
"Pagi
ini tak secerah dua hari lalu."
"Semalam
hujan. Aku menginap bersama Pakdhe sambil main gaple."
Hening.
Kecuali
semu bumi dan jemari, tak ada yang bergerak di sekitar kaki ia berpijak. Jemari
ia merambat, diberanikan untuk meraba muka teraso. Menulis ulang tiap ukir
aksara yang ditulis di sana menggunakan telunjuk ia, lebih tepatnya.
"Tadi
Pakdhe tanya, kenapa aku nggak kerja di kantor," jeda lama ada untuk ia
menerawang panorama di depan ia, baru bisa ia menjawab, "tsk- mana
bisa."
Percaya
didengar semesta, ia tertawa.
Mentari
benar-benar diblokir oleh kabut. Praduganya akan ada hujan susulan.
"Wartamerta
kemarin petang, pagi ini dikebumikan."
"Dari
habis isya, pakai lampu petromaks, aku berdua Pakdhe mulai buat lubang. Selesai
mau dini hari."
"Baru
masuk gubuk, hujan turun."
Ia
diam. Bola-bola matanya hanya memindai tiap tulis-tulisan pada batu. Berulang
kali. Dari ujung ke ujung. Dari mula sampai titik.
"Mas,
motore wis teka!"
Sadarnya
diketuk kesekarangan —seruan Pakdhe dari kejauhan. Wisata di taman wisteria
ceritera masa lama bersama dia buyar sekejap bayangan, "nggih, ngentosi sekedhap, Pakdhe."
Suaranya tinggi —bukan emosi, memecah anak suara lain-lainnya jadi saling
bersahutan.
"Aku
ke sana dulu."
Dingin.
Kala bibir ia menggantikan jemari yang semula di liuk lekuk permukaan ukiran
nama.
"Nanti
kubawakan kuntum segar. Lili putih, kesukaan mu."
Beranjaklah
ia, akhirnya. Karena entah pula berapa lama bersimpuh ia menatap keramik batu
itu. Kayu lengkung tapal besi dipanggul ke bahu. Meninggalkan cekung--tumpuan
ia pada bumi Gusti, juga teraso kelabu berbadan rerumput.
Di
sanding kendi keramik nirisi, terukir nama Suratmi dengan tinta logam mulia.
Dan Sunarno adalah penghormat setianya. [ ]
