Setelah sebulan lebih gue resmi
jadi Sarjana Pertanian --Alhamdulillah, ditambah belum ada agenda permanen –baca:
masih nganggur, dan kondisi sosial yang lagi begini, bikin gue cukup punya
banyak waktu untuk mikirin hal-hal kecil, misalnya gue suka mikir, “Naruto sekarang lagi ngapain ya di Desa Konoha?”,
“Di episode Boruto minggu depan, Naruto
atau Sasuke muncul gak ya?”, dan hal lainnya salah satunya yang akan jadi topik
tulisan gue kali ini..
Tentang sebuah pencapaian.
Kadang kalau kita lagi berfilsuf
pada diri sendiri, pasti ada aja pertanyaan ringan yang malah menggiring ke jawaban
berat. Kayak misal akhir-akhir ini gue lagi mempertanyakan eksistensi diri gue.
Tentang pencapaian-pencapaian yang udah gua dapet dan perasaan atas pencapaian
tersebut. Sebagian orang yang tau gue mungkin tau juga kalau gue punya buku
jurnal, nah di masa berfilsuf ria, gak jarang gue juga jadi buka-buka buku
jurnal gue untuk liat how young and naïve I was back then. Seru dan malu
pastinya baca tulisan dulu dulu hahaha. Dan dari tulisan-tulisan di jurnal itu,
gue tau apa yang udah gue capai dan momentum yang udah gue lewati sampai
sekarang.
Not to sound cocky, tapi jujur aja
perasaan bangga dan besar kepala udah gak mungkin ditepis. Walaupun itu cuma dirasa
sendiri tanpa diungkapin atau ditunjukin. Karena berkat dukungan semesta juga usaha
gue untuk dapetin ini dan itu, gue berhasil mendapatkannya. Dan memuji diri
sendiri tentang how I’ve become until now.
Sampai akhirnya gue menghukum
diri gue sendiri dengan masuk ke perangkap komparasi.
Padahal semua punya pencapaian kebanggaannya masing-masing.
Sedikit berkunjung ke masa
remaja, jujur, gue ngerasa enam tahun di sekolah menengah, minim hal yang bisa
gue banggain. Gue merasa gak pernah fit in aja baik dari segi pertemanan maupun
akademik. Yang gue inget, gue selalu ranking sepuluh besar dari bawah di kelas hahaha.
Tapi walaupun begitu, gue inget betapa bangganya gue bisa juara dua lomba mengarang/nulis
cerita waktu di SMP dan juara dua lomba pidato bahasa jepang waktu SMA.
Sirkumtansinya sama sama dalam rangka bulan bahasa pula hehehe. Piala-piala
plastik sebagai wujud validasi jadi pajangan di rumah, jadi pengingat kalau gue
pernah berkilau di masa itu hahaha. Dan tentu aja, gue bangga banget dengan
pencapaian itu.
Peralihan dari SMA ke kuliah.
Lagi-lagi masih naïve, ditambah gengsi kalau cuma kuliah di kampus swasta
sedangkan temen seangkatan SMA ada yang bisa kuliah di kampus bergengsi dan
negeri. Gue pernah ngerasain hal gitu kok. Bahkan di semester kedua gue di
kuliahan, udah sempet ambil kursus online persiapan SBMPTN 2017. Ceritanya masih
belum terima kenyataan kalau gak bisa jadi anak teknik waktu itu hahaha. Tapi a
long the way, Fatimah di umur 18~19 tahun berpikir, “udah terlanjur basah, berenang aja sekalian!” Dan with her bold
determination, online course yang udah gue bayar full tiga bulan intensif dari
hasil tabungan nyisihin uang jajan kuliah gue lepas. Waktu itu akhirnya akun
online course-nya gue kasih ke junior di SMA buat dia belajar persiapan SBMPTN
juga.
Secercah determinasi itu lah yang
membawa gue ke ragam pencapaian sampai sekarang. Alhamdulillah.. Paling engga, tindakan
pertama yang gue lakukan saat itu adalah menerima keadaan kemudian ngebuang rasa
malu karena kuliah di kampus swasta dengan jurusan underrated.
Apa? Gimana? Underrated?
Woya jelas underrated. Fakultas
pertanian, pertanian, asosiasinya ya
pasti institusi di bogor dong. Pasti. Loh, kok ini di jakarta? Emang mau
nggarap lahan dimana? Bercocok tanam dimana? Dan pertanyaan lainnya yang non-substansial
di era 4.0 sekarang ini. Dan gue selalu ingat sebuah percakapan dengan tetangga
waktu awal jadi mahasiswa,
“Fatimah udah kuliah ya? Kuliah
dimana?”
“Iya, bu. Di Muhammadiyah Jakarta.”
“Jurusan apa?”
“Pertanian, bu.”
“Oh? Kok gak ke IPB aja?”
“Hehehe, engga, bu.”
Awkward ya? Hehehe. Dan setahun
kemudian –iya, anaknya setahun di bawah gue—anaknya satu kampus sama gue, di
fakultas yang berbeda. Hehehehehe. Hehehe. Hehe.
Pencapaian demi pencapaian
tergapai as the semester goes by. Mulai dari IPK yang stabil gak pernah lewat
dari 3.70, diamanahin ini dan itu, dipercaya ini dan itu, jadi finalis
mahasiswa berprestasi di kampus yang kemudian dipermudah untuk daftar beasiswa
dan dapet beasiswa untuk satu tahun, dan yang paling anyar adalah bisa lulus
3.5 tahun dan penulisan skripsi gue dinilai bagus dengan minim kesalahan jadi
dikasih waktu revisi pasca sidang cuma tiga hari. Super duper seneng banget
ketika ada yang muji tulisan gue. Selama ini gue –kalau ada ide—pasti selalu
nulis cerita dan gue post di akun nulis gue. Mungkin beberapa temen gue tau
kalau gue nulis, tapi gak tau how the flow of my writing –maybe?--, jadi ketika
penulisan ilmiah gue dicap bagus ya itu yang akan gue carried a long the way.
Dan gue bangga dengan diri gue sendiri. Gue bisa nulis!
Seperti yang khalayak ketahui
kalau saat wisuda pasti ada predikat-predikat yang disemat ke wisudawan/watinya.
Diukur berdasarkan IPK atau presentasi tersier lain tentu aja. Gue pernah
obrolin ini sama temen, tapi seperti yang gue bilang, justru malah percakapan
ini jadi buat gue terperangkap di perangkap komparasi dan insekyur dengan masa
nanti. Mungkin temen gue ini super baik untuk gak buat besar kepala dan tetep mijak
bumi. Tapi rasanya, pecapaian gue jadi gak ada nilainya.. I mean…
Oke, gue cumlaude misal, tapi
cumlaude-nya gue gak sebanding sama mereka yang cumlaude dari kampus prestige
dan negeri. Experience jadi asisten dosen atau praktikum, lulus 3.5 tahun,
finalis mapres, organisasi kenceng, akademik kenceng, semua pencapaian lain
pasti bakal masih kalah sama mereka yang juga ngelakuin hal yang sama tapi asalnya
dari kampus prestige dan negeri. Gue.. Ternyata masih belum bisa apa-apa..
Walaupun gue bangga dengan segala pencapaian selama ini, semua masih bisa
dipatahin.. Ngeliat ke atas yang paling atas, dan ternyata gue – kita—bukan apa-apa..
Jadi sebenarnya, pencapaian itu
bukan pencapaian kalau masih ada komparasi.. Ya gak sih?
Intinya, pencapaian gue selama
kuliah serasa nirmakna untuk masa nanti. Realistic wise.. Komparasi sulit
dihindari.. Paling tidak untuk momentum
sekarang.
Tapi bukan berarti gue memojokkan
atau mendiskreditkan mereka bahkan temen-temen gue yang jebolan dari kampus
negeri.. this is just how I thought, currently.. and at the end of the day, we
compete to each other.. right?
Oh, boy.. why this turn out to
sounds pathetic…
Ya.. di satu sisi, adanya
pencapaian bikin gue punya tujuan dan bergerak
tentu aja.. Tapi di sisi lain, aftermath dari tercapainya pencapaian itu bikin
gue membandingkan diri dengan yang lain. Bahasa gaulnya, insecure lah ya. Mempertanyakan
ini dan itu, “Apa gue pantes?”, “Kalau gue begini kesannya sombong gak sih?”,
“Yaelah, norak banget gue beginian aja
orang seluruh dunia harus tau. Ada yang lebih hebat dari gue..”, “Anjir annoying banget gue hal sepele gini
aja diromantisasi”, dan hal negatif lainnya.
Like the tittle itself, accomplishment is a double edged sword..
Oh, atau mungkin kita cuma manusia yang memang gak pernah dan gak akan pernah puas atas apa yang telah dicapai?
...
Gue tau semua orang punya porsi
dan masanya masing-masing, dan gue jadi belajar ketika ada yang seneng atau
bangga atas pencapaiannya, let them be.
Rasa itu temporer, kayak petasan aja. Udah meledak langsung hening panjang
lagi, banyakan ragunya sebenernya. Ya, setidaknya dalam kasus gue sih begitu.
…. I know the passages above isn’t
make any sense at all other than gue rambling perihal pencapaian dan komparasi.
Just.. Let it be, okay? We just a bundle of insecurities mixed with flesh
actually.. ;_;