Selasa, 02 Maret 2021

Memoar dari Cucu Kesayangan

 part of an anthology book, writing in collaboration with 35 writers

published by Azkiya Publishing - Februari 2021 - ISBN 978-623-6019-20-7

(unedited / raw version - might be triggering)

. . .

Menjadi anak pertama dari pasangan tukang ojek bawah pohon cersen dan pegawai swasta di tahun 1998 sama dengan tumbuh besar mayoritas di bawah asuhan orangtuanya orangtua. Apalagi selang satu tahun tiga bulan kemudian, ada jagoan kecil sebagai perwujudan dari slogan keluarga berencana, bekerja ekstra demi memenuhi kebutuhan kami berdua jadi rutinitas wajib Bapak Ibu.
 
Mbah adalah kawan solid sejak aku belum bisa baca tulis.
 
Mbah punya penyakit darah tinggi, namun suka makan mie. Tapi, makanan wajibnya adalah rebusan timun dengan sedikit irisan cabai di ujung hari.
 
Mbah dulu, katanya, seorang koki rumah sakit. Bukti autentiknya adalah masakan yang selalu enak tiada dua. Bahkan sampai saat ini, belum kutemukan tempe bacem seenak dan dengan bumbu sepresisi buatan Mbah.
 
Mbah juga cukup ditakuti teman-temanku dan adik dulu. Biasalah, lansia memang kadang punya aura tersendiri yang bisa buat anak kecil bergidik.
 
Ah, jadi ingat waktu awal masuk sekolah, Mbah yang mengantar. Senang rasanya bisa sama seperti teman-teman yang diantar jemput salah satu keluarganya. Tentu momen ini tak bisa dilupa. Pulang sekolah, Mbah membelikan gulali bentuk bunga. Namun, kegiatan ini tak bisa jadi rutinitas aku si cucu pertama. Ada segunung urusan rumah yang harus dipegang. Karena Bapak Ibu kerja, dan aku, si anak pertama harus jadi mandiri.
 
Tapi ternyata, keinginan –atau mungkin, keirian— ingin diantar jemput orangtua terpatri sampai kelas tiga.
 
Lepas itu, seiring berjalannya waktu, anak yang masih belajar menggunakan tisu untuk buang ingus itu sadar, jika tidak sama seperti teman itu tidak apa-apa.
 
Sampai aku di kelas akhir sekolah dasar, Mbah masih menggosok licin baju seragamku.
 
Sampai aku masuk SMP, Mbah masih mencuci manual seragam sekolahku.
 
Sampai aku SMA, Mbah masih suka dian-dian memberi uang jajan dengan imbuhan, “Jangan bilang Ibu.”
 
Dan dari sekolah dasar sampai menengah atas, tak pernah alpa teh manis hangat di gelas khusus untukku kokoh tersaji di meja, yang kata Ibu, aku adalah cucu kesayangan Mbah.
 
Ingat suatu ketika Mbah pernah bangga cerita ke tetangga, cucu enam belas tahunnya pulang dari Blitar ke Jakarta naik bus antar kota sendirian karena harus mengejar tanggal masuk sekolah.
 
Padahal dulu saat masih bodoh –aku—pernah bertengkar dengan Mbah. Bayangkan bocah SD, marah-marah ke orangtua seenak jidat.
 
“Yaudah, nanti kalau kakak sama Ibu pulang kampung, Mbah jangan nangis!”
“Gak sudi aku nangisin kamu!”
 
Waktu dan tempat untuk terbahak, dipersilahkan.
 
Mbah adalah salah satu dari perempuan-perempuan tangguh yang ada di lingkup keluarga. Beliau membesarkan Bapak, anak semata wayangnya, dengan welas asih tanpa dampingan Eyang Kakung. Belum sempat bertanya bagaimana romansa Mbah dengan Eyang Kakung, hanya yang kutahu, Mbah adalah istri kedua.
 
Ternyata hampir delapan belas tahun bersama, masih banyak lapisan kisah yang belum kami kupas bersama. Padahal kata Ibu, aku adalah cucu kesayangan Mbah.
 
Kalau mau merunut detail memoir masa lampau, rasanya terlalu banyak. Banyak sekali sampai ia bermuara di Februari 2016. Karena kata Ibu, aku adalah cucu kesayangan Mbah. Tapi, kurang lebih lima bulan sebelum bermuara, tak pernah dua bilah mata ini melirik ia. Tak pernah suara ini menyambangi telinga ia. Tak pernah tangan ini mengusap kerut kulit ia. Hingga tiba waktu dibajui terakhir kali pun, tak mampuku pandang wajah ia. Padahal kata Ibu, aku adalah cucu kesayangan Mbah.
 
Untuk menghibur diri, di bayangan, kulihat Mbah tersenyum lega sakitnya telah tiada.
 
Sampai kemudian tirani merasuk mimpi.
Beberapa kali kami bersua, ia benar tersenyum lega.
Yang sakit ganti aku. Meninggalkan hati yang tercubit kala raga kembali terjaga.
 
Padahal kata Ibu, aku adalah cucu kesayangan Mbah.
 
Tapi.. maafin kakak, ya, Mbak..

Depok, Januari 2021.