Jadi hal lumrah buat pegiat digital pake trending audio atau visual hook supaya dapet “massa” ke konten mereka. Tapi, tentu ngga semua trend bisa diikuti,
✅ ngga align dengan citra merek
✅ ngga align dengan budaya perusahaan
✅ atau sesederhana ngga bisa diadaptasi aja trend-nya
Kalo pengalaman aku ada di poin ke dua: budaya perusahaan yang tidak menyarankan pake trending audio–khususnya lagu. Buat aku yang sebelumnya pegang brand dengan mayoritas kontennya adalah trend-jacking (untuk kebutuhan marketing, biasanya disisipi keranjang kuning), tentu ini jadi tantangan tersendiri.
Tapi pada dasarnya, tiap brand memang punya treatment tersendiri untuk sosial media-nya, baik dari segi tujuan hingga output walau punya blueprint yang sama: increasing account engagement dan bikin audiens ‘jalan’ dari TOFU, MOFU, lalu BOFU. Nah, balik lagi ke pertanyaan awal, “Viewers konten nyentuh 2+ digit, tanpa trending audio atau video? Kok bisa?!”
Bisa dong
Berangkat dari pengalaman pribadi: sangat beruntung aku pegang akun dari 0, kosongan, with no followers, content, even following. Jadi aku bisa ‘berdansa’ di sini, alias melakukan A/B testing saat delivery kontennya sesukaku (tentu harus terukur dan bisa dipertanggungjawabkan, ya). So, here’s the steps:
1️⃣ Know Your Customer: persona, tone of voice, target market–or basically anything about YOUR audiences that you want to talk to
Semakin spesifik audiens yang dituju, biasanya masalah atau objektif yang mau dibahas bisa lebih spesifik juga. Di sini lah brand hadir, untuk jawab permasalahan audiens. Makin spesifik objektifnya, subliminally create a relatability among audiences, alias munculin ‘aha!’ moment, “Ini yang selama ini gue cari!”
Bonusnya lagi, dari konten yang relatable bisa bikin audiens engage ke konten. Makin banyak yang engage, makin kesebar luas kontennya. Jadi apa? Ya betul, Vay-ReL (baca: viral)~
2️⃣ Research: keyword, permasalah–relatability
Seperti yang aku udah sebut di poin #1, “Semakin spesifik audiens yang dituju, biasanya masalah atau objektif yang mau dibahas bisa lebih spesifik juga.”, tapi cara tau masalahnya gimana?
Jawabannya singkatnya: ✨PEKA✨
Pada dasarnya, suatu topik bisa relate itu karena dialami dan dirasakan banyak orang–apalagi suatu permasalahan. Bakal relate banget deh kalo udah bahas “masalah”, ibarat “bonded by trauma” kali ya wkwkwk ya salah satu cara dapet ‘masalah’ (bukan nyari ribut, heLP) dengan lihat ke keadaan sekitar alias peka.
Sebelumnya aku pernah nulis soal ✨PEKA✨, jadi lebih lengkap baca ke postingan ini ya!
Riset keyword aku lakukan untuk cari tau what’s revolve around the problem from audiences perspective. Tujuannya untuk memperkuat penulisan konten dengan di-inject ke dalam skrip untuk dinarasikan talent, caption, dan hashtag
3️⃣ Journal or article reference for credibility
Aku pernah pegang brand yang fokusnya ke teknologi blockchain, crypto, WEB3
Pernah juga pegang brand kesehatan
Dua ranah itu, menurutku, punya topik yang niche banget jadi ngga bisa sekadar culik-culik info umum untuk kemudian dijadiin konten. Harus ada spare waktu khusus di time table kerja buat baca jurnal: refresh knowledge dengan baca, ngisi kepala seputar topik itu supaya bisa nulis–ngeluarin produk yang mudah dicerna dan relate sama audiens yang udah ditentuin kayak poin #1.
4️⃣ Visual consistency
Strategi audiens ✅
Analisis pain point ✅
Cari referensi kredibel ✅
Tapi dari ketiga aspek tadi, perlu dikemas dengan ✨visual consistency✨; dimana kolaborasi epik antara penulis konten dengan graphic designer atau editor terjadi di sini. Penerapan ‘ciri khas’ atau sapaan teknisnya, brand identity, dilakukan. Namun ada aspek yang tak kalah penting selain keselarasan visual dari guideline: sosok yang muncul dalam konten.
Khususnya platform TikTok, sosok konsisten dalam konten diperlukan agar terdeteksi algoritma, membentuk familiarity, ini memudah konten naik alih-alih ganti sosok tiap videonya. Boleh ada sosok pendukung (cameo), tapi tetap harus ada sosok utama yang sering muncul itu. Selain penggunaan satu sosok sebagai main talent, aku juga menerapkan penggunaan wardrobe khusus di tiap video: signature warna brand yang aku inject ke kerudung talent.
Dari visual consistency jadi terbentuk brand recall deh~
NAH, ketika keempat tahap di atas dijalankan secara komprehensif akan membentuk 🌿evergreen content🌿, kemudian mengarah pada 🌿brand sustainability🌿. Wow, masyaAllaah tabarakallah. If only we can be this ideal ya guys :’)
Walau ini adalah steps versiku, tapi tanpa sokongan, tukar pikiran, dan kolaborasi dengan rekan-rekan internal bahkan lintas divisi, impossible banget buat gotong brand sendiri. Ada kutipan dari Goenawan Mohamad yang aku suka banget, “.... perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai.”, which evaluation after evaluation, testing after testing, (heated, sometimes) discussion, trial error, and so on is much needed to reach that level of branding. Dan perjalanan itu adalah pekerjaan kolektif; gotong royong antar divisi, memaksimalkan waktu temu singkat (meeting) untuk mencapai tujuan perusahaan 🙂
More of me: https://tinyurl.com/FatimahsPortfolio
Cheers! 🍵
*mirror posting on LinkedIn
Tidak ada komentar:
Posting Komentar