Jumat, 28 Mei 2021

Fiksi: Kodependen

 

kodependen

Writing for a fan event on Twitter, posted on Wattpad in a different name character

May 2021

 

[ Marjinalisasi sosial -- dianggap proletar; mereka. Padahal bagian dari kita juga. Mereka adalah perwujudan atas frasa 'manusia makhluk sosial'; masih butuh siapa-siapa walau hanya satu, dua.

Dan mereka juga jadi penutup gerbang akhir dunia untuk siapa yang menghadap Pencipta. ]

 

. . .

 

"Mas, kok mau 'to kerja begini?"

"Biar dekat sama teman saya, Pakdhe."

Bakaran linting dihempas. Gesek lempeng besi bertemu besi turut membersamai.

"Tapi kan, Mas nya ngganteng gini. Badane yo apik. Kerja di kantor kan bisa 'to, Mas?"

"Mboten, Pakdhe," bibir ia naik dua inci, lalu menjawab lagi, "kulo kesah ngulon riyen, Pakdhe."

"Oh, nggih. Ojo suwi-suwi, lho, Mas. Dhiluk engkas motore teka."

"Nggih, Pakdhe."

Yang pamit, dengan sendal jepit berpeniti, meniti setapak susun bata dalam sunyi.

Tiba di barat, hanya ada ia dengan bentukan kelabu teraso diukir nama. Tintanya sewarna logam mulia. Bentuk penghormatan bagi dia yang namanya dituliskan demikian.

Merendah diri di sisi kiri bata ukir. Bersama ia kayu lengkung tapal besi berdiri menemani. Rumput di genggaman enggan mengisi relung jiwa ia--begitu dingin. Berkat hujan lebat semalam, awan yang merendah tipis-tipis menjeda daya pandang. Namun, bagi ia yang bersimpuh di sana—

"Aku sudah lulus."

—tak perlu banyak jelas.

Semakin jelas justru makin meremas tenggorokan.

"Aku jadi bisa di sini, setiap hari."

Tarian jajaran bambu menggesekan runcing dedaunannya. Kamboja juga meranggas satu, dua. Bau bakaran kayu sisa semalam bercampur dengan embun penuh di rongga tukar udara. Makin bertumpu bumi, alas karet ia makin terhisap. Jemari kaki paling pinggir jadi korban pertama lekat lengket liat kemerahan.

"Pagi ini tak secerah dua hari lalu."

"Semalam hujan. Aku menginap bersama Pakdhe sambil main gaple."

Hening.

Kecuali semu bumi dan jemari, tak ada yang bergerak di sekitar kaki ia berpijak. Jemari ia merambat, diberanikan untuk meraba muka teraso. Menulis ulang tiap ukir aksara yang ditulis di sana menggunakan telunjuk ia, lebih tepatnya.

"Tadi Pakdhe tanya, kenapa aku nggak kerja di kantor," jeda lama ada untuk ia menerawang panorama di depan ia, baru bisa ia menjawab, "tsk- mana bisa."

Percaya didengar semesta, ia tertawa.

Mentari benar-benar diblokir oleh kabut. Praduganya akan ada hujan susulan.

"Wartamerta kemarin petang, pagi ini dikebumikan."

"Dari habis isya, pakai lampu petromaks, aku berdua Pakdhe mulai buat lubang. Selesai mau dini hari."

"Baru masuk gubuk, hujan turun."

Ia diam. Bola-bola matanya hanya memindai tiap tulis-tulisan pada batu. Berulang kali. Dari ujung ke ujung. Dari mula sampai titik.

"Mas, motore wis teka!"

Sadarnya diketuk kesekarangan —seruan Pakdhe dari kejauhan. Wisata di taman wisteria ceritera masa lama bersama dia buyar sekejap bayangan, "nggih, ngentosi sekedhap, Pakdhe." Suaranya tinggi —bukan emosi, memecah anak suara lain-lainnya jadi saling bersahutan.

"Aku ke sana dulu."

Dingin. Kala bibir ia menggantikan jemari yang semula di liuk lekuk permukaan ukiran nama.

"Nanti kubawakan kuntum segar. Lili putih, kesukaan mu."

Beranjaklah ia, akhirnya. Karena entah pula berapa lama bersimpuh ia menatap keramik batu itu. Kayu lengkung tapal besi dipanggul ke bahu. Meninggalkan cekung--tumpuan ia pada bumi Gusti, juga teraso kelabu berbadan rerumput.

 

Di sanding kendi keramik nirisi, terukir nama Suratmi dengan tinta logam mulia. Dan Sunarno adalah penghormat setianya.  [  ]

4 komentar: