Jumat, 31 Maret 2017

Bumi dan Langit; Mereka Beriringan

"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."

Beberapa waktu lalu, temen gue curhat di media sosialnya, ngebahas tentang betapa lelahnya dia kuliah salah jurusan. Plus, di universitas yang bukan impiannya. Sebenernya, gue juga termasuk anak-anak salah jurusan yang juga gak masuk di universitas impian. Gue jadi inget perjuangan gue untuk kembali bangkit dari masa-masa itu. Banyak banget tulisan-tulisan yang merupakan self-motivational supaya gue bangkit kala itu. Gue merasa bangga karena bisa 'menyembuhkan' jiwa, sakit hati gue dengan nulis. Di masa sekarang, kalau gue merasa 'lelah', gue suka re-read tulisan-tulisan yang kebanyakan nadanya sarkas dan penuh kebencian itu. Bikin gue kembali 'terbakar' dan kembali melakukan hal-hal yang harus gue lakukan. Hahaha.

Salah satu tulisan gue, begini bunyinya,


24 Agustus 2016

Plan Sep ~ Dec, 2016:
First, try to accept reality..  then I'll focus to my Agriculture majored at UMJ.. try to adapt, make a new friends, socialize as much as I can do, study for good achivement...


Dan gue simpen tulisan itu di binder. Gak gue baca-baca ulang, bahkan gue lupa kalo gue pernah nulis itu sampe suatu hari temen gue nanya, "Ini boleh gue baca?", sambil nunjukin lembar tulisan dengan tinta warna-warni. Sengaja ditulis begitu untuk meredam stress gue kala itu. Waktu itu pas mendekati UAS semester 1. Gak terasa banget, gue berhasil survive sejauh itu tanpa keluhan-keluhan yang berarti. Setelah temen gue baca, dia senyum-senyum sendiri. Gantian gue yang baca apa yang udah gue tulis. Kemudian gue malah mesem-mesem sendiri pada sosok gue di bulan Agustus lalu.

Singkat cerita, tahun berganti. IP semester 1 keluar. Gue gak terlalu expect dapet nilai tinggi cuma beberapa hari sebelum IP keluar, gue sempet mimpi kalo IP gue 3,85. Cuma mimpi, tapi ya di Aamiin kan aja.. batin gue. Oiya, sebelum IP-IPan nih, setelah UAS itu kan perkuliahan libur sampai akhir Februari. Ya, sekitar 1,5 bulan lah libur pra-semester 2. Gue merasa kosong. Dan kekosongan itu membawa gue untuk wujudin impian gue yang sempet -katakan lah- tertunda di tahun lalu. Gue memutuskan buat ambil online course untuk belajar SBMPTN. Teknik Lingkungan UI 2017 gue tempel sebagai motivasi kecil di meja belajar. Anak dari keluarga biasa dengan cita-cita tak biasa, ingin masuk jurusan Arsitektur tapi berubah menjadi Teknik Sipil di masa senior high-nya. Yang sekarang, di tahun keduanya, memilih jurusan Teknik Lingkungan dengan kepercayaan dia akan keterima di jurusan dan universitas impiannya. Gue belajar tekun dari akhir Januari sampai pertengahan Februari.

Februari awal IP keluar. 3,83. Ibu langsung nyiumin pipi kanan kiri gue 10 kali bolak-balik. Dan telpon budeh dan saudara di kampung. Ima entuk biji apik! Katanya. Menandakan betapa bangganya beliau. Gue bahagia, gue juga gak nyangka kalo akan sebesar itu. Ternyata gue nulis target di samping jadwal kuliah. Gue lupa target itu. Baru sadar saat gue beres-beresin fotocopy materi selama semester 1 dan siap-siap untuk semester 2. Gue nulis target: ikut organisasi dan IP di atas 3,00. Dan seakan alam mendukung dengan caranya, gue berhasil mewujudkan target itu. IMM dan 3,83.

Dengan IP segitu, bohong kalau gue gak besar kepala. Besar kepala di sini, gue menganggap kalau gue sebagai anak salah jurusan yang kuliahnya juga bukan di universitas impian bisa survive dengan baik. Sangat baik. Gue bangga pada diri gue tentang hal itu. Jadi self-motivational. Emang sih pada dasarnya, manusia itu egois. Gak ada yang benar-benar tulus ke orang lain tanpa mengharapkan feedback untuk dirinya sendiri. Prinsipnya, semua untuk aku. Dan dengan keangkuhan itu, gue mengurungkan niat gue untuk ikut SBMPTN 2017. Online course yang udah gue bayar kontan selama 3 bulan gak gue buka, gak gue pelajari. Buang-buang waktu, batin gue dengan angkuhnya. Keangkuhan gue itu memberi pelumas untuk lebih baik lagi di semester selanjutnya. Gue memantapkan diri kalau gue akan menyelesaikan apa yang udah gue mulai. Dan setelah gue sadar, selain egois, angkuh juga termasuk dalam sifat dasar manusia.

"....make a new friends,



socialize as much as I can do,



 study for good achivement..."

Banyak juga di luar sana yang kasusnya sama kayak gue, tapi mereka masih mau mendapat apa yang mau mereka dapat. Contohnya temen gue, yang gue sebut di paragraf pertama. Gue bangga dan salut sama mereka. Diciptakan sebagai individu, kita punya cara masing-masing untuk mempertahankan eksistensi. Manusia mau eksis, bahkan tanaman pun ada proses yang disebut suksesi. Tentu untuk menjadi eksis. Ah, jadi selain egois dan angkuh, ingin eksis juga masuk ke sifat dasar manusia. Tapi di antara eksistensi-eksistensi itu, individu hanya mengikuti template, label, kata-kata dari individu-individu lain. Membentuk pola pikir, cetakan yang sama dalam memandang sesuatu. Doktrin, istilah katanya. Mereka tercetak di kotak, kemudian melihat dari satu sudut. Maka jangan heran kalau gedung bertingkat menjamur di mana-mana.

Di semester 2 ini ada mata kuliah Pengantar Arsitektur Lansekap. Yang udah gue sebut di atas, kalau gue sempet pengen jadi arsitek, yang orang awam semua tahu kalau caranya ya masuk jurusan arsitektur. Tentu aja pas awal masuk matkul ini, gue semangat banget. Gak sabar mau gambar, kata gue waktu itu. Setelah kontrak belajar, dosen langsung kontan ngasih tugas gambar lansekap. Agrowisata, temanya. Gue seneng, menggebu. Selama pengerjaan gue berusaha lakuin dengan baik. Nanya-nanya ke senior, ngukur tapak, bikin gambar dengan skala, semua gue lakuin atas dasar mengobati rasa ingin jadi arsitek gue di masa lalu.

Hmm, intinya gini deh. Kalau seandainya gue ngulang tahun ini untuk masuk universitas impian gue atas dasar gue mau meng-impress orang-orang dan kebencian akan kegagalan di masa lalu, apa itu akan jadi berkah buat gue? Oke, misalkan gue lulus dan orang-orang memuji gue, apa orang-orang itu akan bantu gue dan menyukseskan gue di perkuliahan nanti? Apa dengan gue mengundur satu tahun karena gue merasa 'di sana bukan tempat gue' dan pindah ke tempat baru akan menghilangkan masalah perkuliahan gue? Terkesan skeptis memang, tapi kenyataannya kebanyakan orang termotivasi karena ketakutan mereka sendiri. Motivated by fear, kalau kata orang barat. Dan gak bisa dipungkiri kalau energi negatif lebih mudah mempengaruhi otak ketimbang energi yang positif.

Emas akan tetap menjadi emas meski ia berada di kubangan lumpur. Halah, persetan dengan kutipan-kutipan. Jadi individu mu sendiri! Aku adalah aku, kamu adalah kamu. Individu. Itu lah sebabnya gue suka nulis. Brain-stroming, merenung, berpikir, dan mengambil keputusan. Paling tidak, langsung atau tidak langsung dengan menulis gue udah menjadi diri gue, melihat dunia dengan cara pandang gue sendiri.

Dan inilah pandangan gue, terhadap fenomena yang sempat melanda gue.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar