Selasa, 18 April 2017

Karena menulis...

Mengapa harus menulis?

Karena menulis...

Menulis itu indah, kata-kata disusun menjadi mantra.
Menulis itu bebas, ekspresi mu tak kan pernah luntur dimakan usia.
Menulis adalah didengar.
Menulis adalah wujud eksistensi.
Menulis adalah sekencang-kencangnya teriakan.
Menulis adalah pencapaian tertinggi dalam proses pemikiran.

Mari kita lihat ke belakang pada masa penjajahan dulu. Dari sekian banyak pahlawan wanita yang berjuang dengan bambu runcing atau kapur tulisnya, kenapa hanya R. A. Kartini yang diabadikan dengan Hari Kartini tiap tanggal 21 April?

Ya, karena Kartini menulis. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang adalah kumpulan surat yang dikirim Kartini pada teman-temannya di Eropa. Ia menulis untuk menumpahkan keresahannya pada masa itu. Masa Hindia Belanda dijajah dari materiil sampai moralnya. Buku tersebut masih disebut-sebut dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas 5 SD. Karena tulisan itu abadi dan penulisnya akan tetap hidup di dalam tulisan-tulisannya.

Membahas tentang tulisan dan buku, pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan nama Plato dan Aristoteles. Kepekaannya dalam bidang sosial, politik, dan filsafat menjadi rujukan utama bagi pendalam ilmu-ilmu tersebut. Bangga betul orang Yunani punya orang-orang hebat seperti mereka.

Tunggu, bagaimana dengan Sokrates? Dia juga hebat. Pemikirannya dipakai juga dalam ilmu filsafat. Kenapa tidak disebutkan juga seperti Plato dan Aristoteles di atas?

Sokrates. Filsuf angkatan pertama Yunani. Orang paling bijak pada masanya. Tapi ia tidak tahu kalau ia bijak karena orang bijak tidak akan mengakui kalau ia bijak. Terima kasih atas pemikiran-pemikiran bijaknya. Tapi, nama siapa yang paling sering muncul dalam buku bacaan mulai dari buku Pendidikan Kewarganegaraan tingkat SMP sampai buku-buku tingkat perguruan tinggi?

Plato dan Aristoteles.

Kenapa begitu? Kenapa bisa Sokrates, angkatan pertama filsuf Yunani jarang muncul dengan teori-teorinya di buku-buku teks?

Karena Sokrates tidak menuliskan teori pemikirannya. Plato adalah murid Sokrates. Plato menulis. Dari 36 buku yang ia tulis, beberapa di antaranya ia hidup kan kembali gurunya itu di dalam tulisannya. Membuat bingung apakah cerita itu hasil dari pemikiran Sokrates sendiri atau Plato.

Menulis membentuk pola pikir dan sikap. Menciptakan teori-teori baru dari perspektif tiap individu. Dan bahasa adalah pengantarnya.

Al-qur'an sebelum dibukukan pada jaman kekhalifahan Umar bin Khatab, ayat-ayatnya ditulis di atas pelepah daun, tulang-belulang, dan batu. Semua itu dilakukan untuk mengabadikan ayat-perayat yang turun sebelum Nabi Muhammad saw., wafat. Ayat-ayat yang menjadi penolong umat dalam mengaji keilmuan dunia maupun untuk keselamatan di akhirat. Bayangkan kalau ayat-ayat tersebut hanya dihafal oleh para sahabat, tanpa ditulis, diabadikan secara aksara, mungkin sekarang tidak ada yang namanya Islam. Karena ia tak berpedoman pada kitab. Para penghafal telah wafat sebelum mereka sempat mengajarkan pada penerusnya. Dan mungkin tidak adanya al-qur'an juga membuat kita tidak tahu kalau ada agama bernama Islam.

Mundur ke jaman di mana belum mengenal tulisan, pra-aksara, namanya. Meskipun pra-aksara, manusia purba sudah menggunakan arang, batu, tulang untuk mengukir di dinding-dinding goa. Mereka membuat gambar-gambar membentuk kisah kebiasaan pada masa itu. Gesekan batu itu menciptakan goresan dalam yang mampu bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun yang sekarang justru menjadi sumber ilmu pengetahuan hebat untuk memprediksi usia bumi, antropologi. Manusia purba di masa itu tidak memikirkan kalau goresan cerita berburunya akan menjadi sangat berharga di masa sekarang.

Contohnya seperti seseorang membentuk goresan hati yang patah di epidermis pohon pada masa lalu dan menjadi bermakna saat ia melihatnya lagi di masa sekarang. Goresan itu bercerita. Ia bercerita kalau pernah ada yang patah hati saat itu.

Karena menulis itu abadi, maka menulis lah.

Hal-hal kecil tentang apapun akan menjadi kilas balik terbaik jika dituangkan dalam kertas dengan tintanya. Karena tidak ada orang yang benar-benar tulus pada mu 100%. Ia pasti mengharapkan timbal-balik secara tersirat maupun eksplisit. Tapi buku dan pulpen tidak begitu. Ia jujur apa adanya. Ia tidak mengumbarkan rahasia terburuk mu. Ia akan menjaganya rapat-rapat.

Menulis lah,
Tak perlu tunggu hebat untuk jadi penulis.
Menulis lah,
Tak perlu fiksi atau roman, cukup dari kau bangun pagi hingga kembali tidur
Menulis lah,
Karena opini mu mampu mempengaruhi dunia
Menulis lah,
Maka kau akan jadi dirimu sendiri.


Depok, 14 April 2017

Penulis,

Fatimah Az Zahra



ditulis untuk mengikuti lomba menulis esai HUT IMM ke-53 PK. IMM FAI UMJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar