Minggu, 01 November 2020

Aku dan Tulisan

Gua suka nulis. Banget. Dari masih SD, gue sring bikin comic strip dengan gambar dan alur cerita gue sendiri. Terus mulai merambah ke nulis cerita pendek. Jadi, ada satu buku tulis yang isinya itu tulisan cerita dan comic strip gua. Pernah suatu ketika gue bikin cerita + penggambaran tokohnya. Pernah juga bikin comic strip di lembaran-lembaran kertas HVS, digambarnya pake pulpen berwarna, terus gue bawa ke sekolah biar temen-temen gue bisa baca.

Come to think about it, gue besar dan tumbuh bukan dari baca komik di masa SD gua, --hell, I did't even know how to read them until this early day-- tapi ketika gua masih balita sampai early elementary school, I guess, I do read A LOT of buku cerita bergambar. Ibu gua dapetin buku-buku itu dari temennya yang anaknya udah pada gede saat itu, dan ya karena anak-anak Ibu masih kecik-kecik jadi dihibahkanlah buku-buku itu. Cukup banyak, dan dua buku yang cukup gua inget, even I still have a copy of them now, itu cerita tentang lumba-lumba dan cerita tentang keluarga kelinci (in English). Walaupun saat itu gue belum bisa baca atau belum bisa ngerti artinya, I do enjoyed a lot reading them.

Long story short, waktu gue kelas tiga atau empat SD, Bapak langganan koran, sekalian deh tuh gue dilangganin Majalah Bobo. Dan gue langganan Majalah Bobo sampe kelas satu SMP.

Mulai SMP, gue udah gak nulis banyak, karena gue gak tau siapa yang bakal baca. Dulu kan pas SD, gue bawa 'buku' karya gue ke sekolah, pas SMP gue gak tau who will be my reader.

Tapi waktu kelas dua SMP, kenal KPOP really have a major impact on my writing experience. Selain bisa nulis, gua juga jadi bisa baca karya orang-orang yang ada di Facebook atau WordPress. Mulai merambah lagi ke AsianFanfic dan baca fenfik bahasa Inggris since then.

Sejak saat itulah cita-cita gue untuk jadi penulis buku muncul.

Tapi sampai sekarang, in my 22, I have not published a copy of the book yet.

I do post my writing --the majority of it was Fanfiction with pairing I love-- on the online platform; WordPress, AsianFanfic, even Wattpad. But, I don't have enough credit for it.

Mungkin karena I write for my own contentment, jadi kadang mood-nya suka anget-anget tai ayam, dan mungkin itulah yang menyebabkan I don't have settled place for me to get enough appreciation.

Suatu hari I really do have a quite massive supporter dari fenfik yang gue bikin, itu di tahun 2018. Cukup dapet eksposyur juga dari fanbase shipper yang gue tulis ceritanya, tapi along the way, karena banyak yang komen dan kadang ada juga 'tuntutan tuntutan' dari pembaca, I lost from my own story. The expectation is too much, to the point I'm overwhelmed and lost on a road called story block. I know it's sounds weird, but I do have my storyline or fragments or draft or whatever you called it on my notes but I just CAN'T follow them anymore. Jadi sampai sekarang, dua cerita itu gak gua lanjutin tapi masih ada di akun Wattpad gua. Gak di-unpublish. I let them sit there to remind the legacy.

Mungkin juga, karena tulisan gue adalah fenfik, bukan tokoh original, cakupannya gak bisa melingkupi semua orang. Alias cuma dari fandom dimana tokoh itu berasal. Tapi kadang, walaupun udah dari fandom yang sama pun, masih aja kok yang beda preferensi perkara pairing. And that's sering terjadi, by the way.

Dan mungkin juga, karena gue nulisnya fenfiksi, yang kadang tokohnya ganti-ganti tergantung lagi dimana gue masuk fandom, that's another factor why I didn't get much credit or knowledge or appreciation because today I write about person A and B, but two weeks later here am I bringing you person C and D's story. Boom.

Atau mungkin, orang-orang di sekitar gua, lebih mengenal karya fiksi adalah karya yang kata-katanya puitis, angsty menyayat hati a la a la Fiersa Besari, bukan perkara pembangunan karakter tokoh, latar belakang cerita, dinamika, dan potongan kehidupan santai.

Atau mungkin, mereka mengenal tulisan ya tulisan ilmiah, siapa yang paling jago buat esai ia dapat piagam orang paling intelek se-Antariksa. Tulisan fiksi? Cerita fiksi? Khayalan babu.

Atau mungkin juga, apa yang gua tulis terlalu imajinatif sampai-sampai dinilai terlalu menghayal dan menyentuh pada hyper realitas. Tunggu, apa ini tandanya gua sakit?

Gue gak tau. Tapi, kemungkinan-kemungkinan bisa ada benarnya juga.

Terlepas dari apa-apa yang gua sebut di atas, until this day, I'm still considering myself as an average writer. Bukan spesialis dimana-mana, cuma penulis biasa yang bisa nulis. And I also still find that's not that special, at least for me and my standard.

Yah, intinya, gue pengen banget tetep bisa nulis dan menyalurkan ide gua, tanpa obligasi tapi tetap diapresiasi. Lol. Muluk-muluk banget hahahaha. Pengen banget punya buku cerita dari hasil tulisan sendiri yang gue sangat menyukai proses pembuatannya hingga apa yang gua tulis juga sampai ke hati pembaca. Aamiin..

Maybe I'm still far from my favorite fanfiction author, but I do and always keep writing the story I want to write with the pairing I like.

And I think, in general, shouldn't feel ashamed cuma gara-gara gua seorang penulis fenfik kecil yang karyanya belum tentu ada yang baca hahaha. Sekarang gua bakal coba balik untuk build [#1] my own confident as a writer and [#2] my platform to publish my writing. Bismillah, semangat!!   []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar