![]() |
klik di sini untuk mendengarkan audio |
Yang terhormat Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta, Bapak Ir. Sularno, MSi
Yang terhormat Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ibu Dr. Meisanti, SP, MP selaku Wakil Dekan I dan Bapak Ir. Sudirman, MSi selaku Wakil Dekan II
Yang terhormat Ketua Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ibu Dr. Rita Tri Puspitasari, MSi
Yang
terhormat Dosen dan Karyawan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah
Jakarta
Dan yang
tengah berbahagia, teman-teman lulusan tahun 2020, yang saya bangga kan.
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh..
<muqadimah>
…..Indonesia merupakan negara agraris
penghasil ragam produk pertanian juga perkebunan. Produk pertanian terbagi
menjadi ragam subsektor yaitu subsektor tanaman pangan, tanaman hortikultura,
tanaman perkebunan, peternakan, juga jasa pertanian dan perburuan…..
….
Pasti semua teman-teman yang ada di sini akrab dengan penggalan paragraf yang
saya baca kan tadi; ya, itu adalah bagian dari pendahuluan –latar belakang skripsi,
tugas akhir yang kita kerjakan sebelum resmi dibaiat dengan gelar Sarjana
Pertanian. Tapi, sebelum kaki menepak keluar dari ruang sidang, ada banyak
jejak langkah perjuangan tercetak di belakangnya. Dan di sini saya ingin
mengajak teman-teman semua untuk berjalan mundur, merefleksikan tiap momentum
yang terekam dalam tembok bisu Gedung Fakultas Pertanian.
5
September 2016, hari senin, hari itu adalah hari pertama masuk kuliah bagi
angkatan 2016. Saya ingat mata kuliah pertama saya hari itu adalah Ilmu
Pengantar Pertanian, tapi saya datang telat di hari pertama perkuliahan, buat
saya berpikir, “Apa ini tandanya gue bakal telat lulus?”
Setelah hari itu, semua berjalan baik-baik aja. Oiya, saat itu gedung Fakultas Pertanian letaknya di bawah, mungkin bisa dibilang titik nol-nya UMJ ya Fakultas Pertanian.
Ada
dua setengah ruang kelas; satu ruang untuk kelas A, satu untuk kelas B, dan
setengah untuk kelas?
Ya,
benar, kelas C. Karena ruangan kelas C harus dibagi dua dengan perpustakaan.
Ya, walaupun begitu, dengan kuantitasnya yang cukup, kekeluargaannya jadi terasa hangat dan lekat. Kebun percobaan yang luas, laboratorium yang cukup, juga rimbun dari pepohonan besar sekitar fakultas buat senior betah berlama-lama di fakultas.
Iya, senior, soalnya anak 2016-nya waktu itu masih kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Belum terkontaminasi organisasi dan kejayaan yang berarti.
Kuliah
di gedung bawah cuma berlangsung dua semester untuk anak angkatan 2016, tepat
di semester tiga, kita semua udah mulai mobile di gedung pascasarjana yang katanya bakal jadi gedung Fakultas
Pertanian. Tapi, sampai saya lulus sekarang, Alhamdulillah…. statusnya masih
abu-abu.
Mulai
semester tiga, saya mulai jadi kura-kura dengan tempurung kejayaan bernama
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Selain saya, banyak juga teman-teman yang jadi
kura-kura dengan label tempurungnya masing-masing, seperti Badan Eksekutif
Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Agroteknologi, Himpunan Mahasiswa Islam…., dan
lain-lain.
Ya,
walaupun ada juga yang masih tetap istiqomah jadi kupu-kupu, tapi gak masalah, mereka
tetep keren kok! Hehehehehe.
Terlepas dari itu, semua mulai aktif, mulai berani bertukar pendapat dan adu argument layaknya “mahasiswa” yang didefinisikan senior-senior kala orientasi dan LDK lalu. Karena, ya, memang begitu lah kampus, laboratorium pendidikan; tempat bertukar ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Selain aktif menjajal dinamika organisasi, di semester tiga ini mulai hectic-hecticnya praktikum. Melipir ke lahan hampir setiap hari, yang mana semenjak pindah gedung di pascasarjana, lahan jadi pindah jauh di samping Guest House. Gotong royong ngangkut pupuk, patungan untuk beli benih, beli konsumsi di lahan; semua rasa capek dan panas terik matahari makin terasa kalau ada temen kelompok yang gak ikut bantuin. Pengen nyoret namanya dari daftar kelompok, ya kasian, tapi dikasianin malah minta dikipasin.
Oiya, di semester ini juga ngerasain diajarin Dosen baru yang belum pernah ngajarin angkatan 2016 di semester satu dan dua; sebutan hormat untuk Ibu Dr. Ir. Hj. Elfarisna, MSi dan Ibu Ir. Hj. Helfi Gustia, MSi.
Saya
jadi ingat dengan cara mengajar Bu Helfi yang unik, beliau selalu membuat
“kontrak” nguap dengan mahasiswa ajarnya. Kalau nguapnya sudah lima kali, kelas
dibubarkan. Tapi, Alhamdulillah, saya belum pernah nguap dan merasakan kelas
dibubarkan karena nguap saat mata kuliah beliau.
Selain
itu, beliau juga bisa banget spot-spot mahasiswa yang mulai gak konsen saat KBM
dan disadarkan kembali dengan dilempari pertanyaan.
Bayangin,
kalian lagi ngelamunin soto ceker di foodcourt, eh ditanya, “_____, jelaskan
respirasi pada buah tomat setelah dilakukan pemanenan!”
Nah
loh, kan kaget ya…
Masuk semester empat, gak banyak yang saya ingat, kecuali kalkulator untuk mata kuliah statistika. Soalnya kalau lupa, mending segera ke fotokopian depan fakultas deh.
Semester
lima, menurut saya adalah semester terberat, karena ada apa?..... Ada yang tau
gak?..... Yap, karena ada Rancob… yang soalnya sama tapi jawabannya bisa beda
satu kelas, tapi kalau Db-nya samaan nih kita udah bismillah aja insyaaAllaah jawabannya
bener wkwkwkwk---- sebutan hormat untuk Bapak Ir. Junaidi, MSi selaku Dosen
Rancangan Percobaan pada masanya.
Mungkin sampai di sini teman-teman mengira kalau saya akan menceritakan panjang lebar untuk semester enam, tujuh, dan delapan -------
-----
tapi engga kok, karena semester-semester tersebut masih cukup fresh diingatan
kita.
Gimana
bergairahnya kita tapi juga gelisah saat mata kuliah metode penelitian,
Kemudian
kita menyebar jauh untuk melaksanakan magang, eh bulan berikutnya udah geser
koper aja ke kontrakan tempat KKN….
Membahas semester tujuh, belum afdol kalau tidak memberi spot khusus untuk Ilyas Mahendra Amli, SP., sebagai pembuka gerbang kolokium pertama untuk angkatan 2016. Semua angkatan hajatan di kolokiumnya boss anggrek FTan.
Kemudian, satu persatu, kita pun melaksanakan penelitian; angkatan 2016 adalah angkatan pertama yang terpecah konsentrasi jadi agroteknologi dan agribisnis. Walaupun begitu kita masih terus berjalan, berjalan, berjalan, berjalan, dan terus berjalan pada satu tujuan yaitu Sarjana Pertanian.
Selebrasi
hari ini adalah persinggahan sementara atas jejak langkah yang kita tapak
perjuangkan.
Setelah
ini kita masih harus terus melangkah, sampai nanti tiba di persimpangan dengan
pilihan; lanjut S2, bekerja, atau…
menikah.
Pun
setelah memilih berhaluan kemana, kedua tungkai ini, beralas Nike atau sandal
jepit berpeniti, masih tetap –masih harus terus melangkah menjalani pilihan
yang dipilih.
Dengan
nadi yang mendenyutkan semangat perubahan, harapan, dan doa kedua orang tua;
menjadi bahan bakar untuk terus berjalan sampai nanti tiba di peraduan.
Kita adalah manifestasi dari rasa cinta dan rasa sakit.
Kita adalah
komet yang membelah ruang dan waktu, meninggalkan jejak kala menabrak apapun. Serpihannya
adalah pengingat kalau sesuatu yang hebat pernah terjadi di sini..
1527
hari yang lalu, kita masuk ke dalam gedung susun bata Universitas Muhammadiyah
Jakarta, tapi pasti kita bukan orang yang sama saat berjalan keluar.
Dalam
perjalanan waktu singkat itu banyak yang berubah, namun begitu banyak juga cerita
yang telah ditulis.
Cerita
setiap orang berbeda-beda, tetapi yang berarti bagi kita saat ini, kita sama
sama duduk di sini dengan memakai toga tanda kelulusan dari Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Saya adalah
orang suka bercerita dan menulis cerita, terima kasih semua karena telah
mengizinkan saya menceritakan sedikit kisah perjalanan kita bersama sampai pada
titik ini.
Tapi
yang terpenting, saya bangga menjadi bagian dari semua orang yang ada di sini.
Jadi, terima kasih kepada Fakultas Pertanian, angkatan 2016, dan lulusan tahun 2020
karena telah mengizinkan saya menjadi bagian dari cerita perjalanan kalian
semua.
Billahi fii sabililhaq, Fastabiqul khairat
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
***
hari dimana kita pakai toga dan kebaya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar