Senin, 30 Mei 2022

Fiksi: BURN OUT

 


written for Zakir as a commission.


Sinopsis

Bramantyo Adiwilaga, Ketua Tim Alpha Pemadam Kebakaran Senakarta, selalu mampu menaklukan si jago merah di tiap misinya. Namun, betapa lengahnya ia hingga tak menyadari bahwa ada percikan api yang muncul di rumahnya. Lambat laun api itu membesar, tak terkendali. Kini tugas Brama adalah memadamkan api dalam keluarga kecilnya.


. . .

Index
Bagian I ................ Sulung
Bagian II ............... Anjing Tua
Bagian III .............. Teknologi dan Emosi
Bagian IV ............... Naratemu
Bagian V ................ Rekonsiliasi
Bagian VI ............... Bala
Bagian VII .............. Kilat Kirmizi
Bagian VIII ............. Obituari
Bagian IX ............... Mulanya
Bagian X ................ Kemudian
Bagian XI ............... Mulai Pembalasan
Bagian XII .............. Penyelesaian


Trigger Warning:

Kekerasan dalam rumah tangga antara ayah ke anak, Spontaneus human combustion, Mistis, Profaniti, Kekerasan, Kematian karakter, Salah paham
Total word count: 21,545

. . .


Bagian I
Sulung

Akumulasi minyak, sampah udara, dikultus dengan pekat termo siang menusuk lewat lubang udara memperburuk lekat lengket kulit dengan kain yang dikenakan. Bulir sebiji wijen rembes bebas diperas panas, bertengger ditahan kelok alis di dahi, walau sesekali ada yang lolos jadi niagara lewat pelipis.

Gatal. Dagu berambut, ketiak, punggung, selangkangan. Dipelanting dari satu titik ke titik lain. Satu lokasi ke lokasi lain. Menantang panas dengan senapan karet berpeluru tekanan air. Membunuh lawan sampai jadi abu. Berhari-hari. Berulang kali. Mengacaukan jam tukar kerja, menandaskan waktu libur, dan menghapus kata mandi. Pusat Pemadam Kebakaran Kota Senakarta nyaris kolaps akibat bencana kebakaran bergilir yang belum terpecahkan penyebabnya hingga kini.

Dua kuda besi berbeda tahun lahir tiba bersamaan dari arah berlawanan. Sejenak gatal, lengket, dan bebau di tubuh Bramantyo luntur dipertontonkan tokoh dalam keluarga kecilnya yang guyub. Michelle—istri—dan anak-anaknya—Aruna dan Mayang—lah bahan bakar Brama untuk tetap setia pada semboyan Yudha Brama Jaya yang terpatri di lengan kanannya. Dengan membopong ransel di pundak, Brama turun lalu menghempas kelewat kuat saat menutup pintu mobil Jeep hitam tuanya.

Sejenak sorot bola-bola Brama bertumbuk di udara dengan milik anak sulungnya, Aruna. Sebelum remaja tanggung itu buang muka dan berjalan cepat untuk masuk ke rumah. Mayang, si bungsu, menggandeng boneka sapi di tangan mengekor Aruna.

"Hai," sapa Michelle. Menanti Brama dengan bersandar di badan mobilnya, tangan dilipat di depan dada sambil memperhatikan kelakuan anak-anaknya.

"Hai," Brama merendahkan tubuhnya untuk bertemu dengan tengkuk Michelle yang mendongak dan saling memberi kecup isyarat rindu nyaris satu pekan tak bersua. Setelah kecup diputus, pertanyaan tentang si sulung pun dihunus, "kenapa Arun?"

Empas napas Michelle adalah preambule buruk dalam simpulan atas isyarat kecil Brama yang bertemu tatap dengan Aruna. "Kami baru pulang dari sekolah Aruna, ada pertandingan hari ini. Tapi, Aruna kalah dan tereliminasi."

"Apa? Kalah? Apa dia tak menyentuh samsak selama aku pergi?" Brama lupa jika ia masih mengenakan seragamnya yang bau matahari dan tinggi intonasi ia jadi bertamu ke telinga tetangga.

Michelle melepas pelukan diri untuk membawa telapak berjari panjang ia pada dua bilah dada bidang Brama. Membelah permukaan berlencana nama juga jabatan di dada kanan dan kiri hingga hinggap di lengan padat ditempeli lambang damkar dan lambang kota. "Hei, hei. Tenangkan dirimu, Mas. Arun latihan setiap hari selama Mas bertugas. Dia pasti tak ingin buat Mas kecewa, tapi—"

"Itu dia. 'Tapi'. Tapi A, tapi B, C, terus sampai Z. Alasan." Kendati Brama berkelakar, sentuhan Michelle berhasil meredam suaranya. Menyisakan penekanan yang nyata di telinga.

"Arun memang berlatih, Mas. Aku yang mengantarnya. Apa Mas tak percaya padaku?"

Iris tegas Brama ditantang Michelle yang sendu. Jika Brama si badan besar, berjenggot lebat itu memiliki soft spot pada sang istri, maka ia tak akan mengatakan itu. "Okay, okay. Aku percaya. Seharusnya kalau begitu ada peningkatan, bukan? Musim kemarin berhasil mengalungi perunggu, masa' musim ini mendapat ucapan selamat saja tidak."

"Sayang.."

"Itu benar, bukan? Aku mau Arun jadi anak laki-laki yang kuat dan tangguh. Hanya itu, Michelle. Apa salah harapanku itu sebagai seorang ayah?"

Yang ditanya menggelengkan kepala. Surai pirang ia dibuat goyah karenanya. "Tidak ada yang salah. Baik Mas Bram ataupun Arun. Hanya saja, bela diri memang bukan hal yang ingin Arun tekuni."

"Dengan aku memasukan Arun ke perguruan bela diri adalah cara agar ia bisa bertahan di dunia kerasnya hidup, Michelle." Agar Arun bisa menjadi pemadam kebakaran.

"Dan Mas tak pernah hadir di tiap latihan atau kompetisi yang Arun ikuti."

Klandestin tarik ulur antar manik cokelat dan emeral itu diputus oleh Bramantyo lalu disusul dengus, "ayo, masuk. Aku ingin berendam."

Michelle diam. Tapi, bersamaan itu juga, dia dan Brama mulai mengangkut karton-karton belanjaan yang ada di bagasi. Brama mengangkut karton besar dan berat, sebaliknya untuk Michelle.

"Banyak kasus kebakaran misterius akhir-akhir ini. Makanya aku tidak pulang beberapa hari." Brama buka suara manakala Michelle membantu untuk memperkuat genggamannya pada karton berisi bahan pokok. Lengan Brama berkontraksi, menegaskan urat-urat yang merambat di lengan ia.

"Banaspati."

"Ya?"

Suara awang-awang Michelle dinaikkan untuk mempertegas kata, "banaspati", lalu dilanjut, "itu adalah sosok makhluk gaib yang selalu menjadi dalang di tiap kasus kebakaran masif dan terstruktur."

Brama dan Michelle, untuk kesekian kali, bersua tatap lagi.

"Itu cuma dongeng. Akal-akalan nenek moyang." Titik pada akhir ucapan Brama adalah mutlak.

Sebelum beriringan mengangkut mengangkut belanjaan ke rumah, netra Brama mengarah pada bilik jendela milik anak sulungnya yang menganga. Dan kontak manik serupa warna itu terjadi lagi. Aruna lekas-lekas membanting jendela kamarnya. Isyarat itu membasuh salah pada marwah Brama.

"Anak itu benar-benar."

- - -

Degup Aruna tak karuan. Menyembunyikan rupa ketakutannya di antara lutut yang dipeluk lengan. Drat pintu utama yang dibuka lalu ditutup kemudian terdengar itu berasal dari lantai bawah, buat Aruna kian mengerutkan diri sendiri.

Aruna menghitung mundur saat-saat dimana Brama akan mendobrak kamar dan memukulinya, seperti hari-hari biasa jika Brama ada di rumah. Namun, sampai lewat sepuluh menit hitungan kasar asal Aruna, skenario ia tak jua terjadi. Tengkuk tertunduk itu diangkatnya perlahan sebelum disergap kebas sebab aliran darah yang terdistorsi. Peluk diri pun ia lepas. Aman. Brama tidak menginvasi zona aman Aruna. Setidaknya untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan yang ia semogakan.

"Halo, halo, semua!"

Adalah sapaan Aruna untuk penonton siaran langsung ia—setelah irama jantungnya tenang dan tarikan nafasnya normal—di Snackgram. Media sosial wadah dimana Aruna dapat menerapkan dan mengekspresikan atas apa yang ia minati, yaitu tentang psikologi. Tak jarang ia membuka sesi curhat bagi ribuan pengikutnya dan mencoba memberi saran terbaik sebisa ia.

Misi Aruna adalah membuat komunitas juga tempat aman bagi pengikutnya bahwa "apapun yang kalian rasa adalah valid dan kalian tak usah malu akan hal itu".

Di menit ke empat puluh delapan, pintu kamar Aruna dibuka oleh Brama. Dengan tremor akibat invasi mendadak, Aruna mematikan siaran langsungnya dan menyingkirkan ponselnya di balik buku. Komentar terakhir yang sempat tertangkap netranya adalah, "siapa itu? Apa itu Ayah Aruna?"

Ya, dia ayahku. Dulu.

"Kenapa tidak membukakan pintu?"

Aruna memang berusia delapan belas tahun, tapi tinggi Brama yang menyentuh dua meter membuat remaja tanggung itu tetap saja dipandang sebagai inferior.

"Maaf, aku tidak dengar, Ayah."

Kedatangan Brama jelas menyedot energi riang Aruna. Yang tersisa hanyalah robot: tunduk dan patuh.

"Bagaimana pertandingan bela diri mu di sekolah?"

Nada tenang Brama diartikan sebagai persekusi. Dijawab apapun, Aruna yakin akan tetap kena pukul. Bulan sabit telah tercetak di telapak tangan ia yang mengepal. Lebih baik ia utarakan sekarang, atau mati dalam penyesalan.

"Aku kalah," suara Aruna keluar begitu stabil, berbanding terbalik dengan kepalan tangannya. Perlahan Aruna pun menambah kaliber pada tiap kata yang ia ucap, "berulang kali aku bilang pada ayah kalau aku tidak minat menekuni bela diri," tambah lagi, "tapi tetap saja ayah tak peduli." Lagi. "Tiap aku kalah bertanding, ayah selalu memukul dan marah padaku. Berkata bahwa aku buat malu keluarga dan tak dapat dibanggakan."

Napas Aruna memburu. Ia mendongak untuk meluncurkan ultimatum terakhirnya dan mendapati sang ayah yang perawakannya tak jauh berbeda darinya—napas patah-patah, mata memerah menahan marah. Dalam hati, Aruna mencemooh kenyataan, ternyata aku hanya gambaran lepas darinya.

"Aku melakukan semuanya karena terpaksa, Ayah. Terpaksa demi menjaga 'wajah' Komandan Pemadam Kebakaran Kota Senakarta!"

Begitu ucapan terakhir diserukan, Aruna terlempar ke lantai. Wajah kanannya perih, rongga mulutnya merasakan besi.

Berlapis racun, Brama meludahi Aruna dengan frasa, "jaga ucapanmu." Sebelum bertolak menunggalkan sang anak yang tetap diam di tempat.

- - -

Denting utensil ditata bertemu piring mengisi petang hari waktu makan malam Keluarga Bramantyo. Michelle menyajikan wadah beruap berisi makanan masak, Mayang sendiri telah duduk di samping Brama bersama boneka sapi di pangkuan. Sisa dua tempat duduk kosong, untuk Michelle juga Aruna. Tapi, sampai wadah terakhir diletakkan, Aruna tak kunjung turun bergabung.

"Sayang, kenapa tidak sekalian ajak kakak?" tanya Michelle pada Mayang.

"Sudah, Bu. Tapi kakak tidak jawab."

Sebelum bangkit dari singgasana makan malamnya, Brama melepas napas, "biar kupanggil."

Dalam perjalanan dari dapur berbelok melewati ruang tengah menuju lantai dua, Brama dijeda distraksi mega-mega kemerahan nyala melayang-layang di luar rumahnya dari jendela. Lalu cahaya itu melesat cepat ke arah atas.

Brama anti spekulasi. Tapi, apapun itu, mega-mega itu membuat ia memangkas dua anak tangga dalam sekali pijak dan kian cepat langkahnya untuk mencapai kamar Aruna.

"Aruna."

Selimut kecemasan mustahil Brama tanggalkan manakala puncak kepalannya berkali-kali menghantam papan gapura tanpa dapat jawaban dari dalam ruangan. Tiap rapal nama Aruna yang ia serukan adalah doa semoga si sulung baik-baik saja.

Sayangnya, Brama dikutuk oleh surga. Setan-setan asap tipis yang berhasil lolos lewat celah pintu menertawakan ia. Membuat Brama disapa kepulan asap pekat disusul ledakan hebat kemudian yang membuat pria besar itu terlempar ke lantai bawah setelah ia mendobrak paksa kamar Aruna.

"Michelle, Mayang, keluar dari rumah! Sekarang!"

Susah payah Brama mematikan rasa sakit di kepala juga badan agar ia dapat buka suara, bangkit, dan mengambil APAR di dapur. Brama kembali ke kamar Aruna, mengarahkan moncong selang alat pemadam— "sial, kenapa bisa habis?!"

Cokelat pupil mata Brama nyalak kala kobaran api kian menjadi. Dadanya perih, tapi bukan akibat banyak asap sangit yang ia hirup. Tenggorokannya pun tercekik kontraksi sendiri. Brama beranjak menyusul Michelle dan Mayang dengan membawa kanal kepedihan pada wajah ia yang solid.

"Aku sudah menghubungi pusat damkar," adalah sapaan Michelle begitu Brama bergabung. Tak lama, Tim Damkar Alpha, unit kerja Brama datang.

Bobby, rekan Brama, menghampiri tanpa sepatah tanya untuk memberi fire-suit lengkap dengan perintilannya. Brama pun bergeser peran, dari kepala rumah tangga menjadi Komandan Damkar Alpha.

"Tunggu," jeda polisi wanita berlencana nama Leti di dada kiri pada Brama yang hendak menyusul Bobby juga tim.

"Ada apa?"

Leti memberi ruang untuk Michelle. Tangan istri Brama itu bergetar mengarahkan layar ponselnya pada Brama. Berupa ruang obrol maya ia dengan Aruna. Namun, fokus Brama tersemat pada balon obrol terakhir yang dikirim Aruna berpuluh menit lalu. Sebuah tautan yang menghantarkan pada suatu unggahan di media sosial. Video. Video pendek-pendek dikompilasi jadi satu menit lamanya. Video rekaman tersembunyi momentum betapa ringannya tangan Brama yang sering mendarat di tubuh Aruna Manggala; anak sulungnya.

- - -

"....menyatakan bahwa Bramantyo Adiwilaga telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, dengan dijatuhi masa tahanan selama tiga belas tahun penjara."

Tiga kali palu diketuk, sidang ditutup. Brama digiring menuju lapas untuk menghabiskan masa tuanya. Sejak malam ia ditangkap sampai putusan dibacakan, tak banyak kata yang diucapkan. Wajah ia tetap solid dan manut digiring ke sana kemari. Namun, jauh di lubuk hati, ia berjanji pada diri sendiri. Pada langit juga bumi dengan kaya determinasi untuk mengusut kebenaran kematian Aruna yang sebenarnya. Bukan hanya dugaan bunuh diri dengan membakar diri, buah dari ledakan emosi yang tertekan selama ini.

Maafkan ayah, Aruna. Anakku. Sulungku.  [  ]


Bagian II
Anjing Tua

Satu dekade lebih Brama mendekam di Rumah Tahanan Negara Cisena dan hari ini jadi hari pembebasan tahanan demi hukum. Berpamitan dan mengucapkan perpisahan dilakukan ia pada teman akrab bertemu di balik jeruji juga beberapa sipir yang cukup kenal baik dengannya. Salah satu kawan tahanan satu selnya ada yang berceletuk, "Bram, kalau aku bebas nanti, kuajak kau ke Warteg langganan aku. Enak 'kali tempe oreknya. Uhh, rindu betul aku." 

Brama, sambil mengemas sandang, hanya tertawa. "Bukannya anak dari Ibu Warteg itu kau bacok, Ded? Makanya kau ada di sini. Yakin betul kau Warteg itu masih buka saat kau keluar rutan nanti."

Satu blok sel yang mendengar jawaban Brama untuk Dedi Siregar, si preman pasar tradisional asal Medan, tertawa. Pun juga Dedi, yang wajahnya turut masam menahan malu, tapi tak menyanggah apa yang diucap Brama.

"Selamat, Pak Brama. Anda dibebaskan."

Itu adalah ucapan cita dari Kepala Sipir, yang tiga belas tahun lalu turut andil dalam proses pemenjaraan Brama. Walau tertutup topi, rambut Kepala Sipir itu selalu rapi dibelah samping kiri, tak terkecuali kini, pikir Brama. Hanya corak-corak kelabu di rambut dan kerut-kerut halus di wajah kala tersenyumlah pembeda antara lalu dan kini. Aku pun sama. Sudah lama sekali, rupanya.

Sejenak, hangat hati Brama kembali melihat orang-orang familiar masih sehat jiwa dan raga. Namun, sisi kepala Brama, si penyimpan memori lama terpelatuk syaraf ironia. Buat ingatan tentang Aruna, anak sulungnya, bocor seketika. Menyerang ia bagai tsunami rasa. Menyebabkan anomali transendental memporak-porandakan organ dalamnya.

Pelukan hawa panas. Sangit bakaran mencubit hidung. Nafas dicekik asap. Bola mata dicolok gas nitrogen. Akumulasi sensasi itu masih pekat dirasakan Brama sampai hari ini. Sebuah elusif kompulsif jika detail rekaman jiwa itu pudar dengan mudahnya. Mungkin, batin Brama, itu sekadar balasan dari Dia atas dosa yang kuperbuat, neraka kecil di dunia sebelum benar-benar jadi penghuni permanen kelak.

Hirup hempas nafas Brama lakukan untuk menyeka kabut kemelut ingatan lalu. Bahunya kembali ditegakkan meski usia telah memangkas sekian persen massa tubuh ia. Dengan tas selempang menyilang di badan, Brama melangkah keluar rutan dengan mantap. Kembali menjadi warga sipil bersama kemelut sandang, pangan, dan papannya.

- - -

Tiga bulan pertama, Michelle—dan sesekali bersama Mayang—rajin menjenguk Brama di Lapas Cisena, kadang membawakan masakan rumah jadi teman mereka bersua rindu dengan kaca tembus pandang jadi sekat hangat momen keluarga kecil itu. Tapi, memasuki awal bulan ke empat, Michelle seorang diri datang tanpa menjinjing apa-apa—tak seperti biasa. Rambut pirangnya yang kian panjang, diikat bagai ekor kuda. Wajah cantik Michelle Kohann dibuat terekspos cakrawala nabastala.

"Aku mau minta cerai, Mas."

Tanya-tanya tentang cuaca di awal sua Michelle dan Brama dipangkas langsung ke inti temu. Tengkuk Brama ngilu dipaksa mendongak dari tunduknya yang mana tengah mencongkel kotoran di sela kuku dengan kuku lain.

"Michelle? Apa— Kenapa—"

"Jika Mas kira aku selingkuh, tidak, Mas. Aku tidak. Perbuatanmu pada Arun— aku masih tidak bisa terima."

Brama tak lekas menjawab. Suami istri—yang tengah di ujung tanduk—itu hanya saling tatap. Sendu bertemu kejut. Sekeliling mereka adalah noise di rungu masing-masing. "Michelle ... kenapa—“ kenapa baru sekarang, tak kuat Brama untuk menyelesaikan frasanya. Namun, ia berharap sorot jelaganya dapat mengucapkan dengan jelas yang Brama rasa.

"Aku berusaha lupa, tapi sulit, Mas. Kini misi hidupku tersisa hanya untuk melindungi Mayang.” Michelle mengatur laju nafasnya. “Tinggal Mayang satu-satunya, Mas. Jika kamu— Mayang— aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Kalimat di akhir dibuat menjadi bisik untuk konsumsi lingkup Brama dan Michelle seorang diri.

"Michelle..."

"Maaf, Mas Bram."

Hening. Bagai berkaca pada cermin refleksi, kejut ekspresi Brama telah menjadi sendu serupa Michelle, sang istri.

"Baik, aku kabulkan.” Tak hanya Michelle, Brama pun terkejut atas apa yang ia ucap. Betapa cepatnya keputusan yang otaknya finalkan padahal hatinya diremas dan dipelintir kenyataan. “Kamu dari dulu tidak pernah minta aneh-aneh. Bahkan jika meminta pun, selalu sudah dalam masak pertimbangan. Permintaan kamu sekarang ini, aku yakin juga demikian. Buat kebaikan kamu juga Mayang. Buat Arun—"

Tak sekalipun, dalam deklarasi sang suami, Michelle berani menginterupsi. Sirkulasi udara untuk kepentingan tubuh saja dijeda oleh ia, menantikan konklusi apa yang akan Brama dakwa kan untuknya.

Brama menghirup nafas lamat-lamat. Matanya terpejam, lalu berbarengan nafas diempas manik-manik jelaga ia membulat sekuat tekad. "Michelle. Kita cerai."

- - -
 
Dulu, selain naik mobil tua yang jika ditutup harus dibanting kuat pintunya, Brama menggunakan transportasi umum untuk berpindah tempat. Koantas Bima, Kopaja, Metro Mini, Debora, oplet, angkot-angkot beragam seri jadi sejawat masa muda hingga ia berkeluarga. Tapi hari ini, di tahun 2022, hampir satu jam Brama berdiri, menunggu segala ragam kendaraan yang dihitung jari ia, tak satupun yang disebut tadi melintas depan mata. 

Hanya pengemudi kendaraan pribadi dengan tipe-tipe keluaran anyar yang mengambil alih jalan saat ini. Dan yang mencolok netra Brama adalah banyak juga pengendara bermotor dengan seragam hijau juga oranye begitu sporadik ke sana kemari.

"Ada kampanye partai, ya. Pantas tak ada kendaraan umum." Asal Brama, tak pada siapa-siapa, tapi dirinya.

“Nunggu siapa, Bang?” Tanya seseorang yang menghampiri Brama. Berpelindung kepala hijau, jaketnya pun sama.

“Nunggu angkot, Bang,” jawab Brama.

“Oh. Sekarang jarang angkot lewat, Bang.”

“Kalau metro mini? Lewat sini ‘kan?”

“Waduh, apalagi itu, Bang. Sudah lama ditarik pemerintah. ‘Nggak boleh beroperasi lagi. Sekarang yang banyak ojek-ojek online.”

“Ojek online?”

Dan begitulah cara Brama dapat duduk di kursi penumpang taksi online menuju alamat rumah Michelle. Setelah mantan istrinya menikah lagi dan pindah tinggal bersama suami baru, di tahun keenam Brama dipenjara, Michelle datang untuk memberi alamat rumah dimana ia tinggal.

“Aku tak mau memutus hubungan Mas dengan Mayang. Bagaimana pun, Mas Bram tetap ayah Mayang.” Adalah pengantar untuk secarik kertas bertulis tangan berisikan alamat.

Maka menemui anak perempuannya jadi agenda pertama dan utama yang Brama lakukan setelah bebas dari hukuman. Selama tiga belas tahun belakangan, belum sempat mengucap maaf pada dua hawa di keluarga kecil Brama—dulu—itu cukup menghantui hari-harinya, maka meminta maaf dijadikan agenda kedua ia. Meski Brama pun tahu, maaf tak akan mengubah segala yang telah terjadi. Arun tidak juga dapat kembali.

Walaupun Brama dijatuhi hukuman perihal kekerasan rumah tangga, kasus Aruna yang dilabeli sebagai Spontaneous Human Combustion akibat Banaspati masih belum dapat dipecahkan secara rinci oleh pihak berwajib. Namun, Brama yakin ada sesuatu yang lebih dari itu. Dan Brama masih tetap memboyong tekad lalunya untuk mengusut hal tersebut nanti.

Setengah perjalanan menuju kota digulung Brama dengan berkontemplasi perkara masa lalu dan yang akan datang. Pandangan baru Brama lempar ke kondisi luar mobil setelah spiral pemikirannya belum menemukan ujung dan malah disuguhkan panorama ramai-ramai mobil truk pemadam kebakaran dari sisi lain jalan arah berlawanan.

Bagai oase di sahara tandus, kecil peluang untuk ditemukan tapi bukan suatu keniscayaan, Brama melihat Bobby Simanjuntak—sang sahabat karib—di antara para petugas yang terlibat dalam konvoi mobil pemadam kebakaran yang sirinenya berkedip nyala, tanda darurat untuk membuka jalan menuju lokasi kebakaran. Lekas Brama meminta supirnya putar arah, mengikuti kemana mobil-mobil pemadam kebakaran itu menghilir.

Gedung gelanggang olahraga adalah lokasi dimana mobil-mobil Damkar menepi, Brama jadi harus rela merogoh kantong lebih dalam akibat melipir jauh dari destinasi utama. Keluar dari mobil, Brama menyaksikan tim Damkar beraksi. Sedikit banyak kilat masa-masa kejayaan ia dulu muncul di kepala, membuat hati jadi digelitik rindu. Namun, Brama seketika juga dilanda dungu melihat segala alat yang digunakan untuk memadamkan api dulu dan kini amat jauh berbeda. Banyak peningkatan. Alat-alat zaman sekarang telah berbasis teknologi yang mana kecanggihannya belum ada di masa kepemimpinan Brama.

Mulai dari miniatur helikopter yang membawa selang hydrant untuk menyemburkan air dari ketinggi yang tak dapat digapai oleh tangga truk damkar—aku akan tanyakan apa nama benda itu nanti pada Bobby, batin Brama. Bahkan ada juga kendaraan otomatis seperti miniatur tank dengan meriam penyembur busa anti api yang dapat masuk menerobos reruntuhan gedung yang terbakar. Keren!

Pandang takjub Brama buyar manakala dari sisi lain di mana tim Damkar berusaha menjinakkan api, histeris seorang ibu begitu pilu terdengar kemana-mana mengalahkan riuh gaduh sirine beserta orang-orang di sekitarnya. Meski telah ditahan warga sipil lain, wanita itu tetap memaksakan diri untuk menerobos barikade jarak aman yang ditetapkan tim Damkar.

“Anak saya! Anak saya masih di dalam! Tolong! Tolong anak saya!”

Ada yang memutar pisau di hati Brama. Bagaikan kunci yang membuka kendali, rasa ngilu di dada menggerakkan sistem koordinasinya untuk memandang sekitar, turut mencari pertolongan. Namun, nihil personel Damkar yang siaga untuk masuk ke dalam gelanggang olahraga. Para petugas tengah sibuk menjinakkan api dari luar dan sebagian lagi mengoperasikan alat-alat robotik yang Brama masih belum tahu masing-masing namanya.

Netra Brama mendapati Bobby yang tengah memberi komando pada para petugas. Tanpa pikir panjang, Brama lekas menghampiri dan menodong dengan, “Bob, aku pinjam pakaian Damkar tahan panas, Bob. Tolong.” Nafas Brama patah-patah dalam mengucapkan tiap katanya saat tiba di hadapan Bobby.

“Bram? Kau— Apa yang kau lakukan di sini?” Wajah tegas Bobby yang mengatur penjinakkan api berganti kejut ketika mendapati Brama; hidup, sehat, bebas, dan …. tua. Bahkan dalam lontar tanyanya pun, Bobby tak dapat menutup keterkejutannya.

Dan betapa pun haru yang Brama bendung berkat dapat bersua kembali dengan kawan lama, di muka batas barikade sana ada yang perlu ia selamatkan. Ingin ia selamatkan. “Itu cerita nanti, sekarang tolong pinjamkan aku pakaian tahan panas, Bob. Segera.”

“Maaf, Bram. Tidak bisa. Meski kau pernah menjadi bagian dari Damkar—“ oh, pisau di hatinya sedikit mengiris. “—sekarang statusmu adalah warga sipil. Tentu kau tahu, warga sipil tidak diizinkan mengenakan pakaian Damkar. Dan kami pun tidak dapat memberikannya cuma-cuma. Maaf, Bram.”
Brama otomatis mengangguk, “oke. Baik. Terima kasih, Bob.” Dan menepuk lengan Bobby sebelum berlalu.

Bobby menggigit bagian dalam pipi sendiri, sebelum akhirnya kembali memberi komando pada anak buahnya.

Dulu, manakala Brama didaulat jadi Komandan Pemadam Kebakaran Tim Alpha, tentu bukan tanpa sebab. Deret panjang prestasi pribadi juga keberanian di lokasi dalam menjinakkan api jadi tangga-tangga kecil yang mengantarkan Brama pada posisi tersebut. Maka kini, saat nalurinya memanggil untuk melakukan apa yang pernah jadi kewajiban, ia tak bisa duduk tenang.

Berbelok dari rute awal buat Brama memutari truk-truk pemadam yang terparkir sejajar. Niat hati ingin menyelinap ke dalam truk dan mengambil sendiri cadangan baju anti api, tapi malah jadi urung kala melihat kapak dan tabung aerosol merah berlabel Fire Stop Portable dicetak tebal yang duduk bebas di aspal samping truk bersama dengan peralatan lain. Tentu itu adalah hal ceroboh, biasanya dilakukan oleh petugas-petugas baru turun lapang yang tidak tahu harus membantu apa sebelum dikomando.

Kendati demikian— “Mungkin ini hari baikku,” —seringai prasyarat kemenangan Brama lolos sambil ia memboyong kapak, tabung Fire Stop Portable, dan hal lain yang diperlukan.  Dengan mantap, Brama pun melesat mencari rute yang minim atensi untuk ia dapat masuk ke gedung olahraga. Tanpa pelindung apapun.

Brama tidak memakai sepatu bot tempur yang biasa ia pakai di lapangan kala melakukan pemadaman, pun tak lagi muda. Namun, dalam tiga kali tendangan dan sekali pangkas kapak pada selot pintu akses berbahan baja itu berhasil Brama taklukkan.

“Hei, apa ada orang di sini?” teriak Brama pada kepul asap yang memperpendek jarak pandangnya.

“Tolong! Tolong!”

Suara serabutan seorang anak sampai ke pendengaran Brama. Terkanya bahwa suara itu berasal dari ruang ganti pemain lantai satu. “Hei, Nak. Tunggu di situ! Cari tempat aman yang dapat melindungi kepala mu!”

Perih menusuk bola-bola mata dan hirup sempit oksigen untuk dada Brama lupakan. Brama tetap menyelami kepulan asap dan menghalau reruntuhan langit-langit bangunan. Katup tabung Fire Stop Portable itu selalu ditekan untuk memadamkan benda-benda terbakar yang menghalangi langkah Brama menuju anak malang yang terjebak di antara kobaran api. Tiba di ruang ganti, dilihatnya seorang anak meringkuk tak berani bergerak. Brama mengerahkan isi tabung untuk memadamkan api di sekitar, setelah aman Brama langsung menggendong si anak untuk bersiap keluar dari ruang ganti yang sudah nyaris tak berwujud.

“Pegangan yang kuat,” ucap Brama, kedua tangannya jadi tameng melingkar pada kepala dan tubuh anak yang ia selamatkan. Namun, belum sempat keluar dari ruangan, Brama rebah dengan punggung mendarat duluan. Erangan pun tak dapat ia tahan. Anak dalam gendongan Brama lepas, turut tersungkur dan meringis akibat hentakkan kuat yang menjatuhkan keduanya.

Nafas Brama telah patah-patah, tangan bertumpu pada lutut, susah payah ia bangkit, lalu digapainya tangan si anak untuk kembali berusaha keluar dari ruangan. Namun, Brama kembali terpental. Mendarat parah pada loker-loker besi matang. Punggungnya lagi-lagi jadi bantalan.

“Paman!”

Teriakan anak kecil itu menyadarkan Brama dari kabut yang membekap mata. Netra Brama menyesuaikan keadaan. Dengan intensitas lihatnya yang masih kabur, tiga depa di depan Brama, terdapat liuk-liuk bola api mengambang di udara. Perlahan bola-bola api itu melebur, membentuk diri serupa manusia, mulai dari kepala sampai kaki. Namun, kulitnya meleleh dan gosong akibat terbakar api. Bau sangit juga turut menginvasi penciuman. Brama pun disergap rasa familiar.

Sosok itu ada … saat Arun tiada.

Anak yang hendak ditolong Brama nyalang, dia histeris ketakutan. Opsi dia hanya satu, yaitu lari keluar dari ruangan ganti dan meninggalkan Brama bersama Banaspati.

Brama kembali tegak, berhadapan dengan Banaspati dan dikepal tinjunya siaga menyerang. Pertarungan satu lawan satu pun dimulai bersamaan dengan Banaspati yang menyemburkan api dari mulutnya. Suara berat berasal dari rongga tenggorokkan Banaspati begitu memilukan meski memekakkan telinga. Untungnya, Brama dapat mulus menghindar dari jilatan api Banaspati.

Di antara gemuruh reruntuh dan retak-retak benda yang diselimuti api, Brama melihat kondisi langit-langit ruangan dan mendapati rambatan menganga telah mendominasi permukaannya. Pertanda bahwa bilik-bilik ruang di lantai atas telah terbakar hebat. Banaspati memuntahkan apinya lagi, Brama pun menghindar lagi. Tiap semburan api yang Banaspati keluarkan, memperparah kebakaran yang ada di sekitar. Brama bersembunyi di balik badan loker hangus sambil mengatur nafasnya. Berlama-lama di ruangan penuh karbon dan nitrogen rangkap dua membuat paru-paru Brama ikut terbakar juga.

Brama melihat sekeliling, memandang elegi dari ironi bahwa aset kebanggaan kota—gedung gelanggang olahraga itu—terbakar begitu saja. Pandangannya pun terhenti manakala mendapati kapak tergeletak bebas tak jauh dari titik ia berdiri. Brama meraih kapak itu, remas tangannya kuat pada gagang kayu sambil ia mengatur strategi untuk menyerang Banaspati.

Teriakan Brama jadi preambule untuk serangan ditujukan pada Banaspati manakala makhluk gosong itu lengah menavigasi diri untuk menemukan dimana Brama sembunyi. Sendi antara bahu dan lengan dua tangan Brama berotasi, mengayunkan kapak sekuat tenaga dari sudut bawah untuk membidik tepat ke kepala Banaspati lewat bilah tajam yang ia hantamkan pada dagu makhluk tersebut. Banaspati yang tak siap saat diserang, terdampak kontan tanpa basa-basi: kepala Banaspati terbelah seketika.

Kekuatan yang Brama kerahkan maksimal saat melakukan penyerangan, membuat ayunan kapak digenggamannya tak terkendali setelah mengenai target dan tertancap di antara rambat retak langit-langit ruangan. Kini Brama kembali pada kondisi tangan kosong. Tapi, sialnya, Banaspati yang kepalanya telah terbelah, menyatu kembali begitu mudahnya.

“Ini akan sulit dihentikan,” gumam Brama.

Brama kembali memindai sekitarnya, mencari alat apa saja yang dapat digunakan ia melawan Banaspati. Dan Brama pun menemukan tabung Fire Stop Portable yang tadi ia bawa, tergeletak inosen tak jauh dari pintu keluar ruang ganti. Otak Brama membedah lagi strategi apa untuk ia dapat membalik posisi; agar Banaspati ke inti ruangan dan Brama mendapat tabung Fire Stop di persimpangan pintu keluar.

“Persetan.” Profaniti lolos dari mulut Brama. Tangan berpeluh dan terlapisi bercak serbuk jelaga meraih kapak yang menjuntai di langit-langit dengan paksa.

Banaspati tak kalah murkanya. Makhluk itu berlari menghampiri Brama diiringi erangan amarah menyaingi amuk panas api. Jarak Banaspati dengan Brama kian dekat. Sedangkan Brama masih menggantungkan tangannya pada badan kapak. Tepat jarak setengah depa, Brama mengeratkan pegangan pada gagang kapak—

Jika aku yang malah mati tertimpa reruntuhan, ini tidak akan lucu.

—lalu melepas paksa jeratan kapak dan mengayunkan lagi tuasnya pada kepala Banaspati hingga makhluk itu kembali terbelah sebelum membentur sisi ruangan. Kendati Banaspati kembali menyatu, waktu penyatuan tubuh Banaspati cukup untuk membuka jalan Brama meraih pintu keluar.

Tabung Fire Stop Portable yang jadi fokus Brama, berhasil diambilnya. Tapi, sejurus itu juga, Banaspati bangkit dan kembali pada kondisi siap menyerang. Lekas Brama menodongkan moncong tabung ke arah Banaspati, tapi ketika katup ditekan, tidak ada busa yang menyembur keluar.

Sial, pasti karena terlempar saat diserang Banaspati tadi.

Banaspati kian mendekat. Brama makin kepanikan. Dibukanya penutup Fire Stop itu secara total dan menembakkan lurus ke arah Banaspati. Fire Stop Portable di tangan Brama itu menyemburkan busa sekaligus yang tekanannya begitu kuat. Kekuatannya hingga melempar Banaspati ke inti ruangan ganti juga mendorong Brama keluar dari ruangan.

Kini Brama dan Banaspati terpaut jarak gapai cukup jauh. Kendati demikian, makhluk gosong itu bangkit lagi untuk menerkam Brama. Tapi, belum sampai setengah jalan, langit-langit ruang ganti rubuh total menimpa Banaspati hingga tertimbun tanpa ampun. Brama mengambil kesempatan untuk meninggalkan loka sebelum ada kerusakan susulan dan akses keluar ia dari gedung tertutup.

Anak yang hendak diselamatkan, Brama temukan telah tergeletak lemas tak jauh dari ruang ganti. Setelah Brama periksa, nafasnya masih ada meski amat lemah. Brama lekas memboyong anak itu kembali dalam pelukan, membawa mereka untuk keluar dari gedung yang ia yakin tak dapat lagi diselamatkan.

- - -

Bobby dan tim masih berupaya untuk memadamkan api yang melahap gedung olahraga. Tapi, fokus Bobby terpecah kala sayup-sayup rungunya menangkap percakapan kerumunan warga sipil yang tak jauh dari posisinya berdiri, 

“Bagaimana ini, orang tadi belum keluar juga.”

“Iya. Apa jangan-jangan ia terjebak di dalam.”

“Hush! Jangan ngomong begitu.”

Meski ekspresi wajah Batak itu tertutup topeng solid, jantung Bobby Simanjuntak—komandan Tim Damkar itu—mencelos seketika. Bram sialan. Selalu saja nekat.

Baru selesai frasa umpatan untuk Brama diloloskan ia, Bobby lagi-lagi dikagetkan dengan runtuhnya gedung yang tengah dipadamkan ia bersama tim. Kobaran api menghembuskan hawa panasnya, memuntahkan Brama yang tengah lari tunggang-langgang dengan anak yang berhasil diselamatkan terkulai lemas dalam gendongannya, menjauh dari radius panas loka kebakaran. Bobby segera berlari jua menghampiri Brama. Reruntuhan susulan muncul, menimbulkan ledakkan pada gedung olahraga hingga Brama dan anak dalam gendongannya terdorong uap panas lalu tersungkur ke depan. Namun, sebelum Brama sukses mencium aspal, Bobby tiba lebih dulu untuk menangkap mantan Komandan Pemadam Kebakaran Tim Alpha itu.

Tanpa perlu susah memindai, manik-manik kelabu Bobby merekam bercak-bercak luka ringan. Baik pada Brama maupun anak kecil dalam gendongannya. Kendati demikian, yang terpenting adalah keselamatan keduanya. Brama menurunkan anak dari gendongannya untuk dibaringkan ke aspal, tak lama kemudian ibu dari anak itu menghampiri dengan rapal-rapal penuh syukur dan terima kasih pada Brama yang berbalut air mata.

Bobby tersenyum kecil, tangannya diulurkan untuk Brama dan berkata, “Selamat datang kembali, Anjing Tua.”

Brama hanya tertawa lemah sebelum ia menutup mata.  [   ]



Bagian III
Teknologi dan Emosi


Brama tenggelam. Nyeri menggerogoti sebadan-badan, penglihatan kabur, dan segala yang tertangkap di telinganya hanya gumaman bagai kaset rusak. Dia tenggelam. Atau paling tidak, itu lah yang dirasakannya.

Brama menunggu sistem tubuhnya untuk berfungsi. Secara bertahap kepekaannya muncul; ia merasakan ada selang yang menyumpal lubang hidung untuk memberi udara segar, mengusir kepul asap yang berapa lama lalu ia hirup begitu konstan. Lalu ia merasakan posisinya; duduk bersandar pada permukaan yang belum berhasil ditebaknya. Kini pendengaran ganti yang membaik; segala lontaran kata ditukar kata lagi, gesek antara benda, seru tak berbalas, sirine ... semua berbondong-bondong masuk ke rungu Brama. Dan netra pun jadi terakhir pulih; menampilkan serempak suara dengan gerak visual direkam retina.

Brama akhirnya sadar sepenuhnya.

"Ugh.."

Bobby berdiri tak jauh dari Brama dievakuasi, untuk menjaga sendiri sang sahabat karib sambil tetap mengawasi anggota Tim Alpha dalam mengamankan lokasi. Erangan yang timbul dari balik tubuhnya buat Bobby memutar badan menghadap Brama. Bilah wajah Bobby tak tahan untuk terangkat. Bahkan badannya bergerak dengan sendirinya dan berjongkok di samping Brama.

"Bram, apa yang dirasa? Mau apa?"

"Haus.. Minum.."

"Oke, oke." Manakala Bobby ingin beranjak mengabulkan permintaan Brama, salah satu anggota timnya lewat. "Hei, hei. Tolong bawa air mineral ke sini. Cepat."

"Siap, Komandan." Maka, apapun yang hendak dilakukan anggota tim itu, ditanggalkan sejenak untuk memenuhi perintah sang komandan. Tak sampai dua menit, anggota tadi telah membawa dua botol air mineral dan diserahkan pada Bobby yang diberikan lagi pada Brama.

"Ada yang kau butuhkan lagi?" Tanya Bobby pada Brama setelah satu botol air mineral habis ditenggak. Sebelum minum, Brama membebaskan diri lebih dulu dari selang oksigen yang mencolok hidungnya.

"Tidak ada, ini cukup."

"Kau yakin?"

"Seratus persen."

Sekalipun Bobby ragu, ia tak akan mengatakannya. "Oke," ucap Bobby sebagai gantinya. Bobby kembali memberi perhatiannya pada anggota tim yang masih berdiri menunggu perintah selanjutnya. Ucapan, "kau boleh pergi," dari Bobby jadi penghantar anggota tim itu untuk kembali pada tugas awalnya.

"Selalu saja nekat. Sialan kau Bram."

Dikata begitu, Brama hanya tertawa. Botol air mineral kosong berlompatan di antara kedua telapak tangannya.

"Tapi, kau juga selalu keren, Bram." Bobby melanjutkan, "kau pahlawan. Penakluk si jago merah yang sesungguhnya."

"Terima kasih, Bob."

Ada jeda panjang sebelum Brama mengeluarkan tiga patah kata itu dan jeda itu digunakan otaknya untuk memutar gulungan film rekaman memori Brama pada masa kejayaannya. Lagipula, dipuji sebesar itu oleh—mantan—rekan kerja sendiri buat Brama kikuk harus membalas bagaimana.

Lalu, seolah tahu jika percakapan dua pria tua itu telah rangkum, seseorang menjadi konduktor atas ketuk sepatu bot berhak tiga senti pada konkret aspal itu menghampiri mereka. Brama dan Bobby kompak mengarah pandang pada interupsi ketuk sepatu itu; ialah milik wanita bersetelan resmi, tegak berdiri di hadapan Brama dan Bobby.

"Selamat sore," sapa wanita itu.

"Sore. Anda siapa, ya?"

Walaupun Bobby membalas sapa dan melempar tanya pada wanita itu, Brama merasa tidak asing dengan wajahnya. Tapi, Brama sulit menggapai memori atas siapa sang wanita dan itu amat mengganggunya.

"Saya Leti, polisi yang pernah terlibat dalam kasus kematian Aruna Manggala dan penangkapan Bramantyo Adiwilaga."

Betapa Brama tak menduga jika pertemuan pertama ia dengan Leti—yang tiga belas tahun lalu menjebloskannya ke penjara—malah jadi ajang membuka paksa perban pada luka hati Brama yang belum kering, membuat luka lama Brama menganga lagi.

Lencana yang ditunjuk Leti sambil mendeklarasikan siapa dia pada Brama dan Bobby membuat dua pria itu tahu jika kini Leti yang dulunya bertindak sebagai polisi wanita telah menjadi penyidik khusus kepolisian. Atau lebih umum disebut sebagai detektif. Lencana pun kembali diamankan Leti pada saku belakang seluarnya, dia pun berucap, "saya di sini ingin berbicara dengan Pak Bramantyo. Bisa minta waktunya sebentar?"

"Tidak," jawab Brama cepat. Tidak dengan kondisi seperti ini. Tidak dengan membahas masa lalu. Dan tidak untuk kau yang telah menjebloskan ku ke penjara.

Bobby yang peka terhadap situasi, hendak menengahi sebelum emosi Brama meroket. Tapi, Leti lebih dulu berkata, "saya menyelidiki kasus Banaspati. Mungkin terdengar aneh, tapi saya mulai menemukan kejanggalan dalam berbagai peristiwa kebakaran, juga kasus Anda adalah salah satunya, Pak Bramantyo."

Jika Brama terkejut dengan pengakuan Leti, dia tidak akan menunjukkannya. Topeng ekspresi datar Brama ikat kuat untuk menutupi keterkejutan itu.

"Mungkin kita bisa bicara di lain waktu." Tidak mendapat balasan apa-apa membuat Leti mengambil langkah sendiri. "Ini kartu nama saya. Jika Pak Bramantyo ada waktu dan /siap/, silakan hubungi saya," ucap Leti sekaligus menutup pertemuan dengan dua pria tua pada sore itu. Lempeng karton sembilan kali enam bertulis nama, nomor telepon, dan alamat instansi Leti bekerja terselip lugu di dua jari Brama.

Bobby mengerjap sekali. Dua kali. Dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Perhatiannya pun kembali ditujukan pada Brama. "Bagaimana, kau sudah lebih baik?"

Brama mengangguk. "Yeah."

"Oke, ayo kita pergi dari sini," ajak Bobby. Dia yang telah berdiri gagah, mengulurkan tangannya untuk membantu Brama bangkit. Dengan senang hati, Brama meraih tangan Bobby untuk berdiri pada kaki-kakinya sendiri.

Brama dan Bobby meninggalkan gelanggang olahraga yang seperempat bagiannya telah ludes dilalap api menggunakan mobil Bobby. Di perjalanan, Bobby menerka, "ke rumah bokin 'nih?"

Ditanya begitu, Brama justru terbahak. Itu adalah panggilan masa lalu Brama dan Bobby saat pertama kali keduanya punya pacar. Dan panggilan itu sudah lama sekali.

"Sial, memang masih ada di tahun ini yang pake sebutan itu?"

"Ada lah, yaitu kau." Bobby tertawa selesai mengucap frasanya.

Brama tertawa lagi, meski jauh di lubuk hati dia membenarkan akan hal itu. Hal di masa lalu yang mungkin hanya ada di 'dunianya'. Brama merasa waktu hidupnya berhenti di tahun 2009—tahun Aruna tiada dan ia dipenjara. Tahun-tahun di antara tahun setelah itu adalah dimensi lain yang lepas dari ikatan dimensi yang Brama kenali.

Hari ini Brama keluar dari lapas pun, untuk ia masuk ke dimensi lain lagi. Ekosistemnya asing. Segala yang tak ada di dunianya dahulu, kini lumrah dipakai orang. Dimensi yang Brama sebut rumah, yang mana segalanya utuh di dunia itu—kebersamaan keluarga, karier, dan kehidupan—, saat ini hanya fatamorgana belaka.

"Tapi, sebelum kuantar ke sana, ikut aku dulu ke markas damkar Alpha yang baru, oke?"

Brama menghembuskan nafasnya untuk membuang kemelut di kepala, "Iya, iya. Terserahlah."

Brama ikut saja ajakan Bobby. Hitung-hitung ada tempat berlandas untuk menutup hari karena bulan mulai menarik matahari agar dua bola tata surya itu dapat bergantian dalam menerangi bumi. Lagipula, jika dipikir lagi, bertamu ke rumah Michelle—yang notabene mantan istrinya—malam-malam hanya akan membawa Brama pada dua kondisi: pertama, ia dapat tinju di rahang—entah kanan atau kiri—dari suami Michelle, kedua, Brama akan diarak satu kampung setelah dipukuli suami Michelle akibat dianggap maling.

Brama bergidik sendiri. Atas apa yang terjadi hari ini, tentu Brama akan menjauhi segala pertikaian yang dapat menyulut emosi. Semoga bisa.

Oh, aku butuh istirahat.

Dan, iya. Bobby tahu jika Brama dan Michelle telah bercerai.

- - -

"Bram, kenalkan ini Reyhan, Wakil Komandan Tim Alpha. Kalau ini Haryo, Kepala Operator serta penanggung jawab peralatan mekanis di markas ini. Oiya, mereka ini kakak beradik dan masih di bawah 25 tahun."

Sesampainya Brama dan Bobby di markas, mereka disambut oleh anggota tim yang telah sampai lebih dulu dari lokasi kebakaran. Sebelum Bobby meninggalkan Brama untuk bersih-bersih diri, dia memperkenalkan Brama pada dua pemuda berposisi krusial di dalam tim, Reyhan dan Haryo, untuk kemudian menjadi pemandu Brama berkeliling mengetahui isi markas damkar yang baru.

"Mandi dulu, ya." Pamit Bobby pada Brama, lalu dilanjut "Rey, Ryo, amankan si tua itu," yang justru meledakan tawa di antara mereka.

Kecuali Reyhan.

Sejak Bobby tiba bersama Brama, air wajahnya keruh. Matanya tak pernah putus mengawasi segala gerak Brama. Filosofi Reyhan untuk kali ini berbeda dengan Bobby. Di mata Reyhan, kriminal tetap kriminal meskipun telah dibebaskan. Bahkan dosa-dosa kejahatannya pun tak pantas untuk diampuni. Riwayat jahat itu tetap ada, melekat dalam diri Brama yang mana dipenjara akibat menyiksa anaknya sendiri.

"Pak Brama, saya penggemar berat bapak!" Seruan Haryo memecahkan letup-letup benci dalam diri Reyhan.

Malu-malu Brama menjawab, "eh, masa' sih?"

"Iya, Pak! Saya selalu lihat bapak di berita saat beraksi memadamkan api sewaktu saya kecil dan itu super keren!" Terang Haryo penuh antusias. "Makanya saya senang sekali— tidak, tidak— ini suatu kehormatan bagi saya bisa jadi mendampingi Pak Brama berkeliling markas."

Haryo tak sadar jika ada ultimatum kuat dari tatapan Reyhan. Akhirnya Reyhan turun tangan sendiri, mengeluarkan kata pertamanya sejak kedatangan Brama. "Ryo."

Baik yang punya nama maupun Brama, sama-sama menatap tanya ke arah Reyhan. Sepersekian detik, mereka hanya saling tatap, sampai Haryo sadar sendiri dan berkata, "baik, ayo, Pak Brama, kita mulai berkeliling."

Brama ikut tanpa menolak. Ia berjalan di samping Haryo dengan Reyhan menyusul di belakang, berjarak seratus sentimeter.

Selama berkeliling, Brama menanyakan banyak hal soal teknologi masa kini yang digunakan dalam proses penjinakan api, salah satunya adalah benda seperti helikopter kecil yang dapat menggendong selang hydrant sampai lantai tertinggi yang tidak dapat dicapai truk damkar.

"Oh, itu drone, Pak. Import dari Amerika. Dia bisa mengangkat satu petugas damkar lebih cepat dibanding tanggal pegas dari truk. Nama lengkap drone itu Heavy Duty Carrier Drone with Turbo Nozzle Plug." Haryo menjelaskan begitu fasih kepada Brama.

Brama menggaruk sisi wajahnya, "namanya rumit juga. Apa ada sebutan lain?"

Dengan bangga Haryo menjawab, "kami menyebutnya Ular Terbang."

Brama menepuk dahi dan tertawa. Ia kira nama alat dengan bahasa rumit itu akan membuat ia makin terlihat gagap teknologi, ternyata ada sebutan lain yang lebih akrab di lidah pribumi sepertinya. Haryo malah ikut tertawa karena gestur Brama, sedangkan Reyhan tetap diam dan awas.

Brama meluapkan lagi rasa penasarannya dengan tanya, "lalu kenapa tidak ada anggota tim yang masuk ke gedung ketika ada ibu butuh pertolongan, anaknya masih terjebak di dalam?"

Ryo menjelaskan bahwa beberapa tahun belakangan, petugas damkar tidak lagi masuk area kebakaran karena sudah ada robot Tank Mini yang dikendalikan dari jarak jauh. "Ada operator dari truk damkar yang mengoperasikan Tank Mini. Oiya, tank itu adalah sebutan dari Multi-purpose Human Rescue and Fire Extinguisher Tank."

Dia juga menambahkan, "sebenarnya Tank Mini sudah memberi sinyal deteksi pertanda ada manusia di dalam gedung, tapi ternyata Pak Brama masuk lebih dulu karena setelah itu tank mendeteksi ada dua manusia. Tanpa fire suit, Pak Brama berhasil menyelamatkan anak kecil tadi. Pokoknya Pak Brama keren sekali!"

Tiga belas tahun berinteraksi sosial stagnan di lapas, membuat Brama benar-benar gagap dalam membalas pujian. Hanya, "terima kasih," kata yang mampu diucapkan.

"Kenapa Pak Brama yang berterima kasih, harusnya kami." Haryo pun menghentikan langkahnya dan menghadap Brama untuk menyodorkan telapak tangannya. "Saya atas nama Tim Damkar Alpha mengucapkan terima kasih, atas keberanian dan bantuan dari Pak Brama."

Lengan Brama terbata-bata membalas jabatan tangan Haryo. Ia sungguh tak menduga masih diapresiasi kendati ia adalah mantan narapidana. Ditambah sentum dan ekspresi tulus yang ditampilkan Haryo untuk Brama, membuat hati pria tua itu lembek seperti sawi rebus. Setelah jabat tangan mereka lepas, Brama terdorong untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ia menyelamatkan anak kecil tadi.

"Saya bisa selamat berkat kapak dan tabung APAR kecil yang saya temukan di samping truk. Ternyata tabung sekecil itu tekanannya bisa kuat sekali, ya. Berbeda dari tahun dua ribuan dulu." Walau ragu, Brama juga menambahkan, "dan benda itu yang menghantam Banaspati hingga terpental cukup jauh."

"Oh, memang semua tabung APAR saat ini ukurannya kecil dan mudah dibawa kemana-mana. Tapi, kecil begitu, daya tampungnya setara lima APAR besar. Omong-omong, APAR kecil itu disebut TAPA, singkatan dari Tabung Pemadam Api." Jelas Haryo, yang mana Brama simpulkan anak muda itu tidak mendengar ucapannya tentang Banaspati.

Brama ingin menanggapi lagi, tapi tawa sinis Reyhan—oh, bahkan Brama hampir lupa keberadaan pemuda itu—lebih dulu menginterupsi. Lagi-lagi perhatian Brama juga Haryo pun penuh diberi untuk Reyhan.

"Tiga belas tahun berlalu, kasus Spontaneous Human Combustion oleh Banaspati tetap jadi dongeng orang dulu. Tidak ada yang percaya makhluk mistis di zaman modern begini," ucap Reyhan penuh asam.

Brama mengkelap. Luka menganga yang baru dibuka Leti tadi, kini malah dibaluri garam dan diremas oleh Reyhan. Perih bukan main rasanya.

"Jaga ucapanmu, anak muda." Suara Brama begitu rendah dengan nafas menderu. Ia menahan diri untuk tidak tersulut emosi. Peristiwa Spontaneous Human Combustion dan Banaspati adalah entitas lekat dengan masa lalu Brama. Bahkan baru hari ini, setelah sekian lama, ia melihat kembali makhluk itu dengan kepalanya sendiri. Dan bisa-bisanya bocah tengik ini—

"Apa yang kau tahu, orang tua?" Wajah Reyhan telah tepat di depan mata Brama. Ternyata pada momentum Brama menjinakkan api dalam diri, Reyhan bergerak mendekatinya. Tatapan Reyhan menantang Brama si veteran. Akibat stigma yang telah dibangun, Reyhan tak pernah menganggap Brama sebagai orang yang terhormat.

Ditantang begitu, Brama justru melihat sosok Aruna dalam diri Reyhan. Aruna yang berusaha menantang dengan keberanian yang dimiliki, walau akhirnya ludes juga digerus pukulan Brama. Dan lagi, usia Aruna saat itu tak jauh berbeda dengan usia Reyhan saat ini. Kendati demikian, Brama harus menang dalam menjinakkan api dalam diri, meski kini kondisi sebagian rongga tubuhnya telah dipenuhi bara amarah.

Karena jika tidak, Brama berarti mengingkari janjinya sendiri.   [  ]



Bagian IV
Naratemu


"Hei, hei. Hentikan." Peringatan Bobby serta lengannya menyela di antara Brama dan Rey untuk kemudian mendorong mereka saling menjauh.

Usai mandi, Bobby mendapati dua rekan kerjanya—saat ini dan dulu—saling menyemburkan asap lewat hidung. Siap beradu jotos kapan saja jika kelambu merah dikibarkan. Maka, masih dengan handuk melingkar di pinggang dan rambut basah menetes ke pundak, Bobby melerai Brama dan Rey. Kendati secara fisik telah dipisah, Brama dan Rey masih saja saling tukar sengat siap pukul lewat tatap masing-masing.

Dalam intensitas suasana pekat itu Bobby berucap, "kau istirahat dulu saja, Bram. Besok aku akan mengantarmu ke rumah Michelle selepas shift."

Bobby ganti melihat Rey dan Ryo bergantian sebelum ia menggelengkan kepala. "Ryo, antar Brama."

Ryo mengangguk, Brama manut. Diantar Ryo, Brama digiring ke tempat dimana ia dapat beristirahat untuk satu malam. Dalam perjalanan menuju kamar yang dimaksud, Ryo merogoh kantung celananya, memperlihatkan teknologi baru buatan sendiri pada Brama yang bahkan Rey belum tahu. “Pak Brama, lihat ini, saya sedang merancang alat ini.”

Itu adalah benda seukuran genggaman tangan. Dahi Brama mengerut, “Mirip granat…?”

“Memang cara kerjanya dirancang seperti granat, Pak.” Semangat Ryo menjelaskan. “Tapi, substansi yang keluar bukan ledakan api, melainkan campuran kimia khusus yang dapat menurunkan suhu di sekitar hingga titik beku, lalu membentuk es.”

Brama hanya membalas dengan anggukan. Badannya terasa gamang ingin segera merebah.

“Tapi, alat ini belum diuji seberapa bahayanya bagi makhluk hidup karena masih dalam tahap pengembangan.”

Sambil menepuk pundak Ryo, Brama menutup percakapan mereka, “Terus kembangkan alat ini, tapi jangan sampai terlena dengan penelitian tanpa ujung. Akan ada saat genting dimana kau akan menyesal karena tidak menggunakan alat ini saat beraksi melakukan misi penyelamatan.”

Pundak Ryo seakan naik. Kendati dinasehati, ia tetap senang sekali dan jadi bersemangat karena itu adalah dari sang idola. Tentu saja, kata-kata Brama akan selalu ia ingat.

Setelah ritual bersih-bersih diri selesai dan ia merebah—lalu mengerang, baru terasa jika tubuhnya remuk akibat aksi siang tadi—kobaran api emosi dalam diri Brama telah redup. Tersisa arang panas yang hakikatnya menghangatkan. Brama pun terlelap tanpa mimpi malam itu.

- - -

"Eh, berhenti dulu, Bob. Iya, di sini."

"Ada apa?" Tanya Bobby setelah mobil berhenti di depan jajaran ruko.

"Kau tunggu agak kedepan saja. Nanti kususul."

Alih-alih menjawab, Brama justru menyuruh Bobby lagi dan meninggalkan sahabatnya itu sendirian dalam mobil. Satu alis Bobby terdongkrak. Kacamata hitam yang dikenakannya diangkat, mempertegas toko yang melenyapkan Brama dari penglihatan.

"Oh."

Lalu, Bobby pun menginjak pedal gas, membawa mobilnya ke tempat mana saja asal cukup jauh dari toko mainan itu.

Setengah batang rokok kemudian, Brama membuka pintu mobil, mendudukan diri di kursi penumpang sebelum mendudukan bingkisan bawaan dari toko mainan ke kursi penumpang belakang, kemudian suara kunci sabuk pengaman terdengar di akhir.

"Kau punya uang?" Tanya Bobby. Matanya lurus kedepan. Tangan kanan masih menggantung di jendela, menjepit batang nikotinnya.

Pertanyaan Bobby buat Brama oleng. Tanpa mengarah pada Bobby, Brama berucap, "Hei, Bob."

"Hm."

"Aku ini baru keluar dari penjara kemarin."

"Aku tahu."

"Berarti aku juga mantan narapidana."

"Tepat sekali."

"Jadi menurutmu bagaimana?"

"Kau mengambil benda itu diam-diam dari toko."

Kontan Brama menoleh ke arah Bobby. "Sialan kau." Lalu meninjunya tepat di lengan.

Bobby malah terbahak. Amat keras dan puas hingga batuk tersedak liur sendiri. Brama semula bersungut-sungut jadi ikut tertawa karena karma yang langsung sigap mengutuk Bobby. Setelah adrenalin menurun dan serotonin menjamin kondisi hati mereka siang itu, Brama dan Bobby kembali melakukan perjalanan menuju rumah mantan istri Brama.

"Itu boneka?" Bobby memecah hening. Matanya fokus pada jalanan, walau sempat melirik ke kursi belakang lewat spion depan.

Brama mengangguk. "Iya. Boneka sapi. Untuk Mayang."

Kini ganti Bobby yang mengangguk. Akibat tak ada topik pembicaraan ringan—membahas kondisi lapas agaknya tak sopan, membicarakan kontestasi perpolitikan hari ini juga tak mungkin, membahas masa lalu sama saja aku menguliti teman sendiri. Gumam Bobby—jadi alasan Bobby untuk mengeluarkan ponsel lalu dipasang pada penjepit di dashboard mobil.

“Hei PIRI, bacakan headline berita terbaru pagi ini." Perintah Bobby pada AI di ponselnya.

Brama yang khidmat memandang luar jendela, menoleh pada Bobby dan bertanya, "Kau bicara pada siapa?"

"Berita hari ini, dua pasangan selebriti yang pernikahannya sempat viral, dikabarkan cerai pada..."

“Skip.” Bobby memotong suara PIRI.

Ketika suara wanita muncul dari ponsel Bobby, mata Brama terbelalak. "Itu pacarmu?"

"Anak seorang pejabat elit tertangkap kamera sedang makan sederhana di Warteg..."

"Skip." Lanjut Bobby memotong PIRI baru kemudian menjawab Brama. "Bukan, itu robot." 

"Kebakaran di GOR Kota Senakarta diduga ada unsur kesengajaan dari..."

Bobby tersadar jika itu adalah berita terkait kebakaran kemarin. "Baca."

"Robot?"

Brama masih bingung sendiri dan PIRI melaksanakan tugas yang diberi.

"...dari pihak manajer pengelola gedung yang sempat menjadi tersangka kasus korupsi pemotongan dana anggaran pembangunan. Tersangka diduga putus asa dan membakar dirinya sendiri di dalam gedung tersebut, lantas hampir menewaskan istri serta anaknya yang sempat terkepung kobaran api."

"Aku seperti merasa tak asing," kata Brama yang ternyata turut mendengarkan celotehan pacar robot Bobby.

"Ya, mau bagaimanapun, itu bukan urusan kita. Yang penting anak itu sudah berhasil diselamatkan," balas Bobby. Tangannya memutar kemudi ke kanan.

"Bukan itu. Aku baru ingat, gedung olahraga itu adalah tempat dimana Arun sering latihan bela diri. Aku yang mendaftarkan ia ke sana."

"Dan kau sering melihatnya bertanding?"

Brama menggeleng. "Tidak juga sih. Kau tahu kan kita sedang sibuk-sibuknya waktu itu, tidak ada waktu libur."

Bobby terkekeh. "Memang rumit juga, ya, jadi ayah. Mungkin bisa dibilang aku diuntungkan karena memilih untuk tidak menikah, apalagi punya anak."

Inginnya Brama menjawab, tapi mereka telah tiba di depan rumah milik suami baru Michelle. Meski model rumah itu lebih modern dari rumah Brama dan Michelle dulu, tapi Brama dapat jelas melihat sentuhan tangan Michelle di sana. Pekarangan penuh tanaman hias juga perdu yang dijadikan pembatas antara kejamnya dunia dan amannya rumah. Di sana juga terproyeksi gambaran ia dan Michelle, senyum begitu lebar, tengah berkebun bersama kala Arun masih dalam kandungan. Yang makin buat hati Brama hangat adalah pohon bougenville mekar bunga kuning menyambut ia penuh suka cita.

"Ayo, Bram."

Suara Bobby melepas Brama dari jerap nostalgia masa lalu, mengembalikan ia ke masa sekarang. Kepala ditoleh ke arah Bobby, ternyata kawannya itu telah siaga. Berdiri di ambang pintu sambil melanjutkan rokoknya yang sempat dimatikan tadi.

"Kau mau kemana?" Tanya Brama, mengikuti posisi Bobby di sisi lain mobil.

"Ikut dengan mu, tentu saja." Ringan Bobby menjawab. Puntung tinggal seperempat itu dihisap kuat sebelum asapnya ia hempas ke udara bebas.

"Tidak usah, Bob." Lambaian tangan jadi memperkuat argumen Brama. "Aku sendiri saja. Aku sanggup sendiri."

Aku sanggup mengendalikan diri karena ini .... Michelle.

Tangan Bobby beserta rokoknya mengambang di depan mulut. Matanya memindai gerak-gerik Brama di seberang. Bobby membuang nafasnya kuat. Keheningan pun dipecah. "Baiklah." Aku percaya padamu, Bram.

Lalu Bobby menarik panjang batang nikotinnya sebelum diinjak ganas pada aspal. Bobby pun kembali ke dalam mobil sedangkan Brama—sambil menenteng bingkisan bonekanya—diam di trotoar.

"Sukses, komandan!" Pamit Bobby memberikan hormat, lalu tancap gas dan kembali membelah jalanan.

Brama menunggu mobil Bobby hilang dari pandangan sebelum memasuki pekarangan rumah. Tiap langkah ditapak, jantung di sangkar kian berdegup tak karuan. Di tangan kiri Brama menenteng bingkisan dan di kanannya membawa perdamaian.

Kini Brama berhadapan dengan pintu kayu; akses menuju suasana intim suatu keluarga. Di balik pintu itu, Brama buta akan siapa nanti yang menyambutnya. Bisa saja Mayang, atau Michelle, atau .... Suami Michelle. Brama pun mengatur nafas; hirup dalam-dalam lalu dihempas pelan, berulang kali. Dari sana baru Brama sadar jika ia menggenggam bingkisan begitu kuat hingga merusak bungkusnya.

Brama menekan bel di sisi rangka pintu setelah yakin dapat mengatur irama jantungnya.

"Iya, sebentar," ucap seseorang dari dalam rumah.

Ketika pintu terbuka, pria berperawakan perlente—baju licin, rambut disisir, tak ada rambut tumbuh di wajah—menyapa Brama.

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanya penghuni rumah itu pada Brama.

Brama agak gelagapan, tersandung di antara kata dalam mulutnya sendiri. "A, aku— saya— saya Brama. Ingin—"

"Oh! Pak Brama! Suami pertama Michelle."

Tak mengizinkan Brama menuntaskan kalimatnya, pria itu langsung menepuk dua tangannya saat berucap—tanda jika ia mengingat sesuatu—lalu menyodorkan tangan kanan pada Brama dan berkata, "perkenalkan, saya Thomas. Suami Michelle sekarang, Pak."

Brama membalas jabatan tangan menggunakan tangannya yang bebas, kemudian dalam diri ia mengernyit. Brama tidak tahu jika klandestin ia dengan batinnya tadi telah mendongkrak produksi keringat di telapak tangannya. Setelah taut dilepas, Thomas tak menyeka telapak tangan yang baru disentuh Brama. Brama jadi makin malu sendiri.

"Apa itu untuk...?" Pertanyaan Thomas menarik Brama dari ratapan rasa malunya.

"Oh, ini? Ini untuk Mayang. Saya beli boneka sapi, kesukaan Mayang." Jelas Brama. Buntalan dakron sepelukan orang dewasa itu dikeluarkan dari kandang plastiknya, menunjukkan pada Thomas.

"Wah, bagus sekali. Mayang memang suka sekali boneka berbentuk sapi begini, ya."

Brama mengangguk. "Iya, sejak kecil."

"Pasti Mayang akan senang sekali."

Segala perilaku dan bagaimana Thomas menyambut Brama, amat di luar dugaan. Ia pikir, dia harus adu otot dulu untuk dapat bertemu anak serta mantan istrinya. Tapi, nyatanya Brama disambut amat baik.

Pria ini pasti lebih banyak membawa kebahagiaan untuk Michelle dan Mayang daripada aku.

"Selain bertemu Mayang, pasti banyak hal yang ingin Pak Brama selesaikan dengan Michelle—"

Bahkan aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika bertemu Michelle.

"—sebentar, ya, saya—"

"Siapa itu, sayang?"

Itu suara Michelle.

Suara yang bertahun-tahun lamanya tak Brama dengar—meredupkan harinya, mematikan musik hidupnya—hari ini kembali ia dengar. Degup jantung Brama kian mendesirkan irama kerinduan.

Muncul di ambang pintu mengenakan apron warna ungu, Michelle terkejut mendapati Brama. Kendati demikian, di mata Brama, Michelle tetap seperti yang terakhir Brama lihat. Surai pirangnya, kolam hijau penuh kehidupan pada matanya, lekuk wajahnya—semua masih sama. Thomas memberi ruang hingga Michelle dapat berdiri di samping Thomas. Dan detik itu juga, Brama ditertawakan kenyataan. Jika di kediaman itu Brama bukan siapa-siapa.

"Michelle." Bisik Brama. Lidahnya kelu, sulit digerakkan.

Terbangun dari keterkejutannya, Michelle berkata, "apa mau mu, Mas?" Mengguyur Brama dengan nada dinginnya.

"Aku ingin bertemu Mayang." Balas Brama dengan sendu. "Sekalian juga aku ingin memberikan ini."

Hening menyelimuti. Untuk pertama kali, Brama dan Michelle bersua tatap. Namun, Brama tak lagi merasakan kehangatan dari dua manik hijau itu. Dulu Brama bisa begitu tunduk akan tatapan Michelle—bahkan hanya dengan tatap pun mereka dapat berkomunikasi—kini tatapan Michelle begitu dingin pada Brama. Tatap telepati mereka telah mati. Michelle telah membenci Brama.

"Tidak bisa, Mas. Mayang harus istirahat." Ucapan Michelle menancap tepat di hati Brama. Bukti lain jika praduganya adalah nyata.

"Kalau begitu akan kutunggu." Brama membalas ringan. Tak mau menyerahkan kuasa atas diri pada emosinya sendiri.

"Tidak. Mas Bram lebih baik pulang. Mayang banyak kegiatan dan tidak bisa diganggu."

Brama terkekeh, mengabaikan telinganya yang tergelitik kala Michelle masih sudi memanggil dengan panggilannya dulu, ia pun berucap, "Kau bilang tadi Mayang harus istirahat, sekarang bilang Mayang banyak kegiatan. Mana yang benar, hm?"

Rupanya Brama menekan tombol yang salah. Michelle geram. Ucapan Brama terdengar bagai ejekan di telinganya. "Itu semua bukan urusanmu, Mas! Pergi dari sini atau aku telepon polisi!"

"Polisi? Hei, aku hanya ingin bertemu Mayang. Bukan menculiknya."

"Mayang tak membutuhkanmu lagi!" Bentak Michelle. Kolam hijau pada mata Michelle nyalang menantang Brama.

Brama telah ditembak di tempat. Selama mereka bersama dulu, tak pernah sekalipun Michelle meninggikan suaranya—apalagi membentak—pada Brama juga anak-anak mereka. Apapun yang Brama lakukan dulu, jelas telah membangkitkan setan dalam tubuh keluarga kecilnya.

Brama memilih bungkam. Tak membalas apa yang Michelle utarakan padanya. Karena Brama tahu jelas sumber dari segala sumber permasalahan, keretakan, dan kehancuran rumah tangga tempo hari ada di tangannya. Tapi, tujuan utama Brama ke rumah ini adalah bertemu Mayang. Maka badan besar Brama dibawa menembus dinding pertahanan suami-isteri itu. Yang langsung dihadang kuat oleh Thomas. Suami Michelle itu pun berkata, "Michelle sudah cukup jelas mengatakannya, Pak. Saya tidak mau sampai ada keributan berlebih di sini." Thomas yang awalnya begitu ramah dan terbuka, berubah jadi kepala rumah tangga yang siap maju membela keluarga kapan saja. Dan jujur, Brama seperti dikhianati.

Belum usai adu tatap Brama dengan Thomas, "Lebih baik Mas Bram pergi dari sini." Michelle berucap mengalihkan perhatian Brama, mendapati wajah Michelle dibuang jauh ke samping bahu. Tak diizinkan Brama untuk melihat wajah itu.

Brama sudah kalah telak. Ternyata, kendati telah lama tak jumpa, apa mintanya Michelle tetap jadi selongsong senapan untuk Brama yang jadi peluru melesat kapan saja kala pelatuk ditekan untuk mengabulkan apa yang diminta. Tak terkecuali momentum kali ini. Perintah Michelle telah mutlak dan final. Perdamaian yang Brama bawa, diinjak-injak tepat di muka.

Sebelum beranjak, dua bola mata Brama mengabadikan ekspresi datar Thomas dan Michelle yang masih enggan mau dilihat. Bingkisan plastik di tangan kirinya ganti ia tatap nanar. Tanpa pamit, Brama berbalik. Baru tiga langkah menjauhi pintu, suara lain yang ia rindu mampir di rungu.

"Ayah?"   [   ]


Bagian V
Rekonsiliasi

“Ayah?”

Brama—belum jauh dari ambang pintu, Michelle, juga Thomas menoleh kompak pada asal suara. Suara ragu campur kejut dan kesenangan dari pintu yang tak sampai seperempat bagian terbuka. Keributan verbal detik lalu, meredup kontan dan ganti menggerogoti kepala masing-masing mereka yang dewasa. Kala kaki dipaku tanya, pikiran Brama menerjemahkan rujukan Mayang itu untuk Thomas. Sedangkan di pikiran Thomas, Mayang merujuk untuk Brama. Namun, wanita di sana lebih tahu siapa yang dirujuk oleh Mayang.

Pintu bergelantung bulu angsa warna merah jambu berangsur-angsur menganga kian luas, netra Brama jadi jelas memindai sosok perempuan muda keluar dari sana. Langkahnya hati-hati, takut barang kali menginjak duri lalu bangun karena dikira ia sosok tegap Brama sekadar khayalan belaka. Hingga detik kesepuluh hening berlalu Brama tahu—dari lekuk wajah dan warna mata, perempuan muda itu adalah anak bungsunya—

“Mayang?”

Bisikan Brama membuat langkah kaki yang punya nama cakram pada lantai. Lalu, yang Brama tahu kemudian, anak perempuannya itu telah ada di pelukan ia bersamaan dengan hentak suara Michelle.

“Biarkan, Michelle. Dia tetap ayah kandung Mayang.”

Sergahan Thomas membarikade apapun upaya yang hendak Michelle lakukan. Kali ini, Brama sungguh percaya jika Thomas betul pria mantap untuk keluarga kecilnya. Jaminan-jaminan kebahagiaan bukan hanya bualan belaka. Thomas betul memperlakukan Michelle bagai ratu dan Mayang sebagai tuan puterinya. Dan jika memeluk pria tua mantan narapidana ini dapat membuat anak sambungnya bahagia, Thomas percayakan pada apa yang dipercayakan sang anak. Mampu menerjemahkan asal peran Thomas begitu saja menerbitkan rasa syukur dalam relung Brama. Disalurkanlah syukur itu dengan merengkuh balik tubuh Mayang erat-erat yang mana tak lagi semungil dulu; sembilan belas tahun lalu.

Hati Brama penuh bahagia—nyaris meledak, tak terasa bilah wajahnya telah basah oleh kanal-kanal air mata.

“Oiya, ayah bawa hadiah untuk mu,” jadi kalimat pertama setelah sekian lama tak jumpa dari Brama untuk Mayang. Mereka melepas taut peluk meski masih ingin menebus rindu dan Brama memberikan bungkusan boneka sapi yang malah membuat sang anak tertawa dalam tangisnya.

“Oh, ayah masih ingat.”

Bangga Brama menjawab, “dan akan selalu ingat.”

Lagi-lagi Mayang tertawa. Boneka sapi ukuran jumbo itu dipeluk tak kalah erat.

- - -

Senakarta begitu syahdu saat matahari mulai bangkit dari peraduan. Ritual pagi Brama pada akhir pekan diawali dengan memakan sajian pisang goreng, dilanjut menyeruput kopi, kemudian membaca halaman pertama koran harian. Selain informasi harga cabai yang naik, santai pagi Brama cukup menenangkan hari itu. Nyanyian burung pipit liar yang hinggap di kabel listrik juga kupu-kupu yang berlompatan pada taman bebungaan racikan sang istri, jadi latar bagi Brama si pemeran utama kehidupan.

Lembar koran dibuka, cangkir tembus pandang pada tatakan kayu diangkat dengan tangan kanan tanpa memutus arus bacaan di genggaman sebelahnya. Namun, baru bibir Brama beradu temu bibir gelas, jeritan Mayang menggelegar dari dalam rumah. Burung pipit juga kupu-kupu diinterupsi tangis anak manusia.

“AYAAAHH.”

Panggil Mayang dalam sedunya pada Brama. Sigap Brama meninggalkan segala kegitan beserta pernak-perniknya, menghampiri Mayang dalam perjalanan ia menuju sang ayah.

“Hei, hei, anak ayah yang cantik. Kenapa nangis?” Ucap Brama sembari menggendong Mayang. Lalu, dibawalah anak bungsunya itu ke luar rumah tanpa alas kaki membiarkan bebatuan ragam ukuran mengakupuntur tapak ia. Tangan lain yang tak menopang tubuh sang anak, Brama jadikan penenang dengan mengelus-elus punggung mungil Mayang.

Masih dengan kondisi tersedunya, Mayang yang belum berumur tiga tahun itu menjelaskan sesuai kapasitas anak seusianya, “K, Kata.. Kak Alun.. Ayah nanti mau dicembelih.. gantiin capi…” Mayang menangis lagi.

Sambil menahan tawa, Brama berusaha kooperatif, “Loh, kok ayah gantiin sapi? Kenapa?”

“S, Soalnya.. pelut ayah.. uncit... kayak capi…” Air mata masih mengucur pada pipi gembil Mayang kecil. “Pokoknya ayah di lumah aja! Nggak boleh kelual!”

- - -

Percapakan antara Brama muda dengan Mayang kecil hari itu diakhiri dengan tawa, begitu juga saat ini dimana kaleidoskop masa lalu itu menyajikan kembali diorama masa lampau. Dulu ia pernah ada di masa tidak sebugar saat ini; perut buncit, setelan kaos oblong dan sarungan setiap saat, padahal anak masih kecil-kecil tapi peran bapak-bapak kompleks sudah dijiwai Brama amat total.

“Nanti kalau rindu ayah, peluk boneka itu, ya.”

- - -

Tatap Brama begitu nanar pada kilas-kilasan di balik jendela. Sesekali pun dari penglihatan periferal Bobby, ia memergoki Brama menyeka wajah pada kain lengan bajunya. Akumulasi itu lama-kelamaan membuat jejak basah jelas di sana. Kini Brama telah diboyong kembali oleh Bobby. Tak ada kata yang ditukar sejak pedal gas diinjak dan bertolak dari kompleks dimana Michelle tinggal. Kendati demikian, apapun yang tengah dirasakan Brama, menurut Bobby, adalah hasil dari campuran senyawa yang mana kebahagiaan jadi komponen salah satunya.

“Bagaimana kalau kita ke Starback? Kau masih ingat, kan?” Kalimat pertama yang diucap Bobby setelah bermenit-menit silam dalam mobil diam. Bahkan untuk memecah canggung, mulanya pengendara mobil itu berdeham lebih dulu. Sebagai peringatan juga agar Brama tak terkejut dan menata siap untuk berbicara.

“Starback? Bar café langganan dulu?” Kendati gumpalan emosi masih memasung pita suara Brama, endorphin Bobby jadi terpompa otomatis mendengar karibnya bersuara. Dia pun memproyekskan kesenangannya itu dengan jawaban sumringah, “One and only!”

“Boleh. Sepertinya aku butuh pelarian.”

“Bodoh. Tidak ada mabuk. Kita harus bertugas besok pagi.”

Brama tak ambil pusing pun kembali menatap cuplikan kegiatan manusia lewat jendela, menambal kaca dengan uap hasil hembusan napasnya.

Sepanjang perjalanan, Bobby terus membicarakan menu-menu baru Starback, di antaranya yaitu charcoal coffee jadi menu wajib Brama coba. “Kujamin, kau akan suka!” Ucap Bobby mantap. Ia juga menceritakan renovasi tipis-tipis pada bar café itu. “Agar menyesuaikan dengan gaya kedai kopi masa kini. Kau tahu, sekarang banyak anak muda suka nongkrong minum kopi. Kopi sudah jadi gaya hidup sekarang.”

Ucapan Bobby terbukti benar kala tiba di lokasi. Anak muda di sekitar mereka menikmati kopi sambil bercengkrama pada kursi-kursi tersedia jadi pemandangan. Brama pun memesan rekomendasi Bobby, charcoal coffee. Jadilah mereka, dua pria dewasa, duduk di tengah anak muda awal dua puluhan. Bahkan kursi yang diduduki dirasa kurang besar untuk mereka yang kekar dan besar.

Brama tak nyaman dengan pemandangan sekitar pun berucap, “Tapi, ini kan tetap bar café, menyajikan—“

“Alkohol. Yap, benar. Tapi, menu alkohol baru boleh dipesan di atas jam delapan malam.” Bobby enteng menjawab. Hafal betul operasional kafe langgangan mereka dulu ini bagai mantan pelayan.

Lima menit kemudian, kopi pesanan Brama dan Bobby tersaji. Semakin menikmati sergap rasa dan aroma kopi ditambah batang nikotin, dua pria dewasa itu jadi tak mau kalah dengan mereka yang muda, turut berbincang hingga memperdebatkan topik tak jelas tetapi penuh tawa.

“Bob, sebenarnya saat Michelle masih suka berkunjung ke lapas, aku minta dia puterin cuplikan video Arun kalau aku lagi kangen dia. Dari sana aku baru sadar, Arun suka kasih masukan dan saran ke orang-orang yang membutuhkan lewat videonya.”

Ditodong curahan hati mendadak yang meredupkan suasana seketika, tentu Bobby agak tak siap harus langsung menanggapi bagaimana. Jadi, diberikan lah waktu untuk Brama melanjutkan cerita agar Bobby dapat menyerap dan memberi tanggapan baik.

“Aku merasa bersalah,” lanjut Brama. Manik-maniknya enggan menemui milik Bobby, lebih seru melihat jemari ia yang mengikuti ukuran desain pada cangkir kopi pesanannya. “Arun ternyata juga menolong orang lain, tapi dengan cara yang berbeda.”

Bobby menyeruput kopi pesanannya, lalu memberi tanggapan, “lalu, kenapa selama ini kau begitu keras kepada Arun?”

Brama mengondisikan ritme napasnya, lima belas detik kemudian, baru dijawab dengan kalimat yang di luar dugaan Bobby, “aku punya kanker paru-paru, Bob.”

“Bram, apa begini candaan seorang mantan narapidana?”

“Nggak ada yang bercanda, Bob. Maka dari itu, pride sebagai ‘pahlawan lokal’ yang orang sematkan padaku nggak’ boleh sampai hilang. Aku mau Arun yang melanjutkan kehormatan itu, satu-satunya dengan membuat Arun sepertiku.” Jelas Brama.

Bobby telah ditembak di tempat. Tak mampu menanggapi informasi yang ditumpahkan tanpa jeda dari Brama padanya. Di kala Michelle dan Mayang telah mencapai bahagia, sedangkan Brama masih menutup lubang penyesalan yang entah sampai kapan. Ditambah juga penyakit yang dideritanya. Karma Brama atas bayaran ‘membunuh’ anaknya sendiri begitu berat, pikir Bobby.

“Ah, sudahlah. Tidak perlu ikut pusing, Bob,” ucap Brama santai lagi. “Kudengar anak Sophia Latjuba ingin menikah, kalau Sophia nya sendiri gimana? Sudah menikah lagi belum?” Bagaikan iklim, cuaca Brama begitu cepat berubah, Bobby jadi sulit mengikuti.

“Sialan kau, Bram, membicarakan penyakit serius seperti makan kacang rebus. Lalu bagaimana keadaan mu sekarang?” Tanya Bobby, nadanya dibalut kesal, meski Brama tak ambil hati.

“Bisa diatur,” jawab Brama enteng lalu menandaskan kopinya. “Ayo, pergi dari sini.” Ajak Brama, tapi lebih dulu meninggalkan Bobby.

“Brama gila.” Dengus Bobby setelah menghabiskan sisa kopinya juga, yang ternyata gerutunya itu dibalas tawa oleh Brama.

Obrolan Brama dan Bobby kembali hidup di dalam mobil berkat kafein menendang adrenalin. Tawa kian keras, topik bahasan kian tak jelas, tak jarang ucap sarkas dilepas. Yang pasti, kedua karib itu lebih cair daripada sebelum menenggak kopi. Kala Bobby terus bicara tiada jeda, mata Brama beralih pandang pada jalanan di balik jendelanya. Semula semua tampak normal. Mobil bus gandeng Trans Sena di jalur busway melaju beriringan dengan mobil yang ditumpangi Brama, hanya terhalang pembatas beton.

Namun, saat akselerasi bus jadi lebih cepat membuat mobil Bobby berada agak di belakang bus, tiba-tiba kilatan bola cahaya mengekori bus Trans Sena tertangkap mata Brama. Brama menegakkan posisi duduknya. Sejurus kemudian, bola cahaya itu memecah kaca untuk masuk ke dalam bus, lalu menggegerkan penumpang.

“Brengsek.”

Bobby menghentikan kereta katanya mendengar umpatan Brama. “Bram? Kau oke?” Tanya Bobby hati-hati. Bergantian melirik Brama dan jalanan di depan sana.

“Banaspati. Dia menyerang Trans Sena, Bob! Lihat!” Ucap Brama nyalang. Bobby pun mengikuti arah yang dimaksud Brama.

Pupil kelabu Bobby melebar. “Oh, shit.” disusul gumaman. Takjub bercampir takut karena untuk pertama kali Bobby melihat wujud banaspati.

Bobby melajukan mobil agar posisi mereka sejajar dengan bus, hingga memperjelas kondisi Trans Sena, begitu ribut dengan kehadiran banaspati ditambah kendali bus jadi tak stabil. Kaca di sisi bus digedor penumpang yang histeris ketakutan berharap bisa keluar.

“Kita harus menyelamatkan penumpang dan menghentikan banaspati keparat itu…”

Brama melepas kancing sabuk pengamannya. Bola-bola mata Brama mengawasi terus dimana banaspati itu berdiri dengan penuh determinasi.

“…bagaimana pun caranya.”    [ ]


Bagian VI
Bala

Singkatnya, waktu yang berlalu lebih syahdu sebelum bala Banaspati menyerbu.
 
“Aku ‘kan sudah pernah kasih tahu, jangan pakai cincin itu saat sedang bersama ku.”
 
“Kau tahu itu mustahil, setidaknya untuk saat ini.”
 
Lihat? Ada opera roman murah di dalam Trans Sena, yang mana sopir bersama kondekturnya jadi pemeran utama, seragam dinas mereka jadi kostum pentasnya, dan penumpang baris pertama jadi penonton kelas mahalnya. Penumpang paling belakang tersisa mual-mualnya saja; bisa jadi efek dari kontur jalanan yang mengguncang bus atau lenggak-lenggok pemeran utama di depan sana. Bagi penumpang di bagian tengah, mereka justru tidak bisa memilih. Sayup-sayup dialog terdengar, lenggak-lenggok pemeran bisa dilihat, guncangan bus pun didapat. Pada akhirnya, mau duduk di mana pun dalam bus ini, semua senasib; jadi penonton opera roman murah.
 
Tapi, apa mereka bisa protes? Mungkin setelah mencapai titik destinasi masing-masing. Untuk saat itu, tak ada pilihan lain selain menelan sajian.
 
Sopir Trans Sena itu seorang wanita. Rambutnya pirang dimodel ekor kuda karena diselipkan pada celah belakang topi. Bulu matanya gagah menyapu iklim mikro penglihatan tiap bergeraknya riak kolam biru ia dari jalur kemudi ke kaca spion di atas kepala. Tak jarang bibir yang dipoles itu—yang mana hanya penumpang wanita yang tahu—menukik kala kolam birunya bersiborok dengan kolam kelabu milik si kondektur.
 
Penumpang dekat sekat pembatas sopir dengan penumpang punya privilej untuk tahu rinci siapa pemain utama dalam pagelaran yang tengah tayang, data petugas nahkoda bus Trans Sena terpampang di sana. Hingga didapati bahwa kondektur yang bertugas itu lebih muda dari si sopir. Tukar-menukar pandang lewat kaca pantau berakhir setelah bus berangkat dari halte transit ke halte berikutnya. Sang kondektur pun mendekati sopir, lalu terjadilah percakapan barusan.
 
Sang sopir terus membagi fokusnya, kini kondektur ganti berucap dengan keyakinan hanya ia dan lawan bicaranya yang dapat mendengar, “Yah, setidaknya sebentar lagi suamimu akan mati karena penyakitnya. Aku bosan— capek diminta menunggu terus,” dia mengempas napas sebelum melanjutkan, “lagipula anak-anakmu sudah mulai akrab dengan ku.”
 
Sopir wanita tak diberi kesempatan sama privatnya untuk memberi tanggap sebab si kondektur lebih dulu berbalik memunggungi sang sopir. Senyum ramah kondektur itu ditebar pada penumpang. Dilihat ia semua penumpang sibuk dengan hiburannya masing-masing, maka ia pun mencari hiburannya sendiri. Pada kesempatan terbuka, jemari tangan di balik badan si kondektur itu dibawa lihai menjamah tengkuk sang sopir, menyingkap kerah seragam wanita itu lalu membelai lembut pundak hingga sopir wanita itu kegirangan. Lenguhan lolos di jam kerja tengah hari bolong.
 
Kontan sang sopir wanita itu menepuk tangan si kondektur pria.
 
“Jangan nekat. Simpan itu untuk nanti,” ucap sang wanita tegas.
 
Tanpa para pemeran utama tahu, di kursi prioritas, wanita paruh baya pucat melihat perilaku kerja mereka sambil membuat tanda salib.
 
Si kondektur pun berbalik lagi, kini kedua tangannya hinggap di pundak sang supir dan berbisik, “Ayolah, aku butuh sedikit pemanasan. Lagipula tidak ada yang—“
 
Belum selesai omongannya, si kondektur menangkap pusara bola api menyilaukan di luar jendela samping mengikuti bus mereka. Lalu, dalam hitungan detik, bola api itu mendobrak pintu masuk dan menghantam si kondektur hingga terpental, memecahkan kaca bus sebelum akhirnya jatuh terguling ke aspal dan tewas. Semua penumpang histeris, tak terkecuali sang sopir. Kala penumpang kelimpungan mengungsi pada sisi bus yang lebih aman, sang sopir pontang-panting mengendalikan emosi juga emisi demi keselamatan banyak orang.
 
Gupuh tak terelakan. Situasi di dalam Trans Sena kian mencekam kala bola api yang membumbung di pusat dalam bus perlahan menunjukkan wujud aslinya. Perlahan dari bentuk kepala, lalu merambat menjadi badan, dua tangan, hingga kaki. Satu kesatuan badan utuh itu menyala-nyala akan kobaran api.
 
“Kau pendosa,” ucap Banaspati dalam suara berat diiringi geraman. Hentak kakinya mantap menghampiri sang sopir, menyisakan lantai bus yang terbakar akibatnya. “Kau akan menerima hukumannya,” ucap Banaspati lagi.
 
Sang sopir wanita itu hanya bisa berteriak dengan tangannya terus rekat pada kemudi.  Teriakannya kian menjadi, mengiris telinga siapapun yang mendengar, kala si setan api mencengkram kepala sang sopir lalu sekejur tubuh sang sopir itu dijalari api. Tak ada penumpang yang berani mendekat untuk menyelamatkan nahkoda mereka, hingga akhirnya sang sopir tewas terbakar dengan posisi kakinya masih menginjak pedal gas. Laju bus pun makin cepat dalam lintasan lurus. Bau sangit daging manusia yang terbakar jadi jejak trauma bagi mereka yang ada di tempat kejadian perkara.
 
- - -
 
“Setan api brengsek!”
 
Brama mengambil TAPA dari kolong jok mobil Bobby setelah kejadian mengenaskan bertubi-tubi dijejali si Banaspati padanya.
 
“Bob, sejajarkan mobil dengan bus lagi, lalu rapatkan posisi.” Perintah Brama seraya membuka jendela mobil. “Seingatku, di depan sana ada perempatan dan tidak ada separator jalan untuk jarak beberapa meter, kesempatan itu bisa kugunakan untuk masuk ke bus itu,” ucap Brama mantap. Matanya tanpa putus mengawasi Banaspati juga kondisi penumpang bus yang kini tanpa pengemudi itu.
 
“Apa?! Kau gila, Bram! Aku sudah hubungi regu Damkar di area ini, mereka sudah dalam perjalanan," ujar Bobby, satu lengannya menjangkar kemudi, sedangkan lengan lainnya menahan bahu Brama.
 
"Tidak, Bob, mahluk itu mengincarku. Harus aku yang mengurusnya sendiri."
 
Bobby terpaku. Untuk beberapa saat, ia seperti diproyeksikan akan kehilangan sahabat karibnya. Hangus jadi abu bagai sopir malang dalam bus Trans Sena di sana. “Anjing kau, Bram.” Lirih Bobby berucap.
 
“Anjing tua, bukan?”
 
Brama dan Bobby menyempatkan berbagi tawa kendati hanya sekian detik—tak sampai seperempat menit bahkan. Bobby melepas cengkraman tangannya dari bahu Brama, lalu memantapkan genggaman pada kemudi mobilnya. Brama dan Bobby tertuju pada satu kesempatan. Dengan perempatan jalan sudah di depan mata, lampu lalu lintas menyala hijau, dan kepala bus Trans Sena kian terbakar hebat bersamaan laju konstannya diperkirakan mencapai 80 Km/jam; hanya ini kesempatan Bobby jika ingin menyokong Brama masuk ke dalam Trans Sena.
 
Setelah rentetan separator habis terlewati, Bobby menahan napas lalu langsung banting setir ke kiri dan mempertahankan jarak antara mobil dengan bus sampai Brama dapat masuk ke Trans Sena. Brama membuka pintu mobil, tangannya langsung meraih gagang pintu bus yang telah rusak terbuka akibat invasi Banaspati. Tak lama, kaki kanan Brama berhasil menjejaki tangga pintu bus, tapi Banaspati telah siaga di hadapan Brama hendak menyemburkan api. Sebelum hal itu terjadi, Brama menyemprotkan TAPA tepat ke wajah hangus meleleh Banaspati hingga setan itu terpukul mundur.
 
Dalam lingkar luar penglihatannya dan sesekali melirik, Bobby melihat seluruh adegan duel Brama dengan Banaspati. Namun, prediksi Bobby dalam beberapa detik jika Brama tak lekas masuk ke bus, ia akan tertabrak separator beton baru di ujung perempatan.
 
“Bram, berjanjilah kau akan menyelamatkan semua orang!” Seru Bobby. Pedal gas diinjak, setir dibanting lagi hingga mobil menempel pada badan bus, membuat Brama terdorong dan kini masuk total ke Trans Sena. Akan tetapi, sejurus itu juga, mobil Bobby menabrak separator beton. Tabrakan tak dapat dihindari. Mobil terpental bebas, terguling di udara sebelum jatuh dalam keadaan terbalik ke aspal.
 
Mata Brama nyalang melihat adegan cepat yang terjadi di depan matanya. Sontak Brama meneriakan nama Bobby penuh pilu. Mengumpat, merutuk pada keadaan, dilakukan Brama atas kematian sahabatnya yang rela mengorbankan diri. Bersamaan dengan air mata yang menetes dari mata kiri, Brama mengeraskan hati dan mengucap janji, “aku janji, Bob. Janji.”  [  ]


Bagian VII
Kilat Kirmizi

Detik-detik mobil Bobby terpental berputar sebelum terbalik kepala menantang awan, kaki menendang langit bersarang di kepala Brama. Di pundak juga dipikulnya janji pada sang sahabat.

“Bram, berjanjilah kau akan menyelamatkan semua orang!”

Seruan Bobby terngiang di gendang telinga.

Brama mengkelap. Pupil cokelatnya mengkilat bergantian dengan warna kirmizi, memandang si Banaspati yang mulai bangkit. Determinasi kukuh dikepalan, tabung TAPA siap sebagai senjatanya. Brama akan menghabisi Banaspati itu di sini. Demi Bobby dan demi keselamatan warga Trans Sena.

“Hei, setan brengsek! Berdiri kau!” Seru Brama.

Banaspati pun kembali tegak berdiri, emosi yang terpancing membuat ia menyemburkan api lewat mulutnya ke arah Brama. Namun, Brama lebih sigap, mengelak ke samping kiri. Tabung TAPA pun Brama condongkan ke arah si setan api, akan tetapi Banaspati mencengkram tabung TAPA itu dan menyalurkan kekuatan panas yang luar biasa hingga tabung itu meledak hebat dalam hitungan detik. Brama dibuat terpental ke kabin penumpang karenanya, menjadikan para penumpang sebagai bantalan tubuh Brama sebelum jatuh tak berdaya ke lantai bus.

Saat Brama lengah, Banaspati memanfaatkan keadaan, menyeburkan api ke segala sisi. Keadaan kian kacau dan penumpang pun histeris menjadi-jadi.

Brama terbaring setengah sadar, telinganya berdengung, penglihatannya kabur membentuk siluet-siluet yang ia yakini adalah kerumunan penumpang yang tengah mengitip kesadarannya. Berangsur-angsur kerumunan penumpang duduk jelas di retinanya, Brama menatapi langit-langit kabin yang mulai penuh kepulan asap, tetapi ada cercah nyala kemerahan berkedip konstan. Detik berikutnya Brama tersadar bahwa itu adalah pantulan lampu sirine dari mobil Damkar yang melaju di sisi bus Trans Sena.

Erangan dari mulut jadi pelumas otot dan persendian Brama untuk bangkit, menandas rasa sakit yang mengigit sekujur badannya. Ia mengamati kondisi sekitar; kabin depan penuh kepulan asap yang membarikade jangkauan pandang Brama satu meter di depannya. Brama pun berspekulasi bahwa Banaspati masih menguasai kabin di sana dengan kobaran apinya. Melihat kondisi luar bus, Brama  mendapati telah ada dua mobil Damkar: satu satu Tanker Truck penyemprot air di sisi kanan dan satu Rescue truck pembawa tangga yang mengekor di belakang bus Trans Sena. Bulir harap keselamatan penumpang muncul, mereka adalah tim Damkar Delta, divisi terdekat yang beroperasi di wilayah ini. Tim yang sempat Bobby hubungi sebelum—

“Anda Pak Brama kan? Si petugas Damkar itu?”

Di antara kepanikan penumpang dalam kobaran api, seorang penumpang wanita bersetelan kantoran dengan rambut kusut—yang pasti sebelumnya jelas tidak begitu—menyapa, melarang Brama untuk kembali meratap.

Brama masih mengkondisikan ritme napasnya, belum sempat menjawab, tetapi seorang penumpang lain menyeletuk, “Jika dia memang masih jadi petugas Damkar, dia tidak memakai peralatan apapun sekarang. Lagipula, dia kan mantan napi, mau apa dia di sini? Apa orang seperti ini bisa dipercaya lagi?”

Tak ada jawaban verbal dari Brama atas pertanyaan-pertanyaan yang diguyurkan padanya. Kendati demikian, Brama merobek bajunya lalu sobekan itu ia bebat untuk membungkus tinju lengan kanannya. Ia berjalan menuju jendela belakang, yang mana para penumpang membuka ruang untuk Brama lewat, kemudian meninju kaca bus itu hingga retak. Ngilu pada tulang-tulang timbul kepalannya beradu dengan kaca itu Brama abaikan, ia terus meninju kaca bus. Dalam jeda dan napas yang memburu Brama berujar tanpa membalik badan,

“Saat ini tidak penting aku siapa, yang penting adalah kalian keluar dari sini dengan selamat, karena laju bus tidak bisa dihentikan.”

Dari seluruh penumpang, wanita bersetelan bisnis tadi yang pertama menyingsingkan lengan baju. Mempercayakan kaki-kakinya pada kaos kaki tipis warna kulit, sepatu hak tinggi wanita itu dilepas untuk dijadikan senjata ia memecahkan kaca bus dan tas jinjing bahan kulit sintetis pun digunakan ia untuk membersihkan serpihan kaca. Hal ini diikuti beberapa penumpang lain kemudian.

Setelah jendela bus berhasil dijebol, Brama memberi isyarat kepada sopir Rescue Truck untuk mengulurkan tangga. Maksudnya agar seluruh penumpang bisa segera dievakuasi, selagi mobil Damkar lain berusaha memadamkan kabin depan bus yang amat buruk kondisinya.

Sopir Rescue Truck, sambil terus menyesuaikan kecepatan bus, menjulurkan tangga sampai kukuh tepat pada jendela belakang yang tanpa kaca. Brama melihat di atas Rescue Truck telah siap beberapa petugas yang akan membantu penumpang masuk ke dalam mobil evakuasi, ia pun menahan ujung tangga agar tetap berpangku pada rangka jendela kabin bus seraya memandu penumpang yang ketakutan untuk menaiki tangga kemudian merangkak menuju Rescue Truck.

“Semuanya harap naik tangga ini dengan tenang dan jangan mendorong siapapun! Lihat ke depan terus sampai petugas Damkar di sana membantu kalian!” Seru Brama.

Sementara itu di sisi kanan Trans Sena, Tanker Truck terus berusaha memadamkan kobaran api pada kabin depan bus, tanpa mengetahui penyebab api sulit dipadamkan adalah ulah Banaspati yang terus membara di dalam sana.

Sebagian besar dari penumpang bus, terutama lansia, telah dipindah ke Rescue Truck. Tersisa beberapa orang lagi, termasuk Brama, yang masih terperangkap. Namun, tangga Rescue Truck sedikit demi sedikit menjauhi bus Trans Sena.

“Tangganya!” Seru penumpang berseragam sekolah menengah. Wajahnya pucat pasi atas segala yang terjadi padanya dalam bus itu.

Dengan susah payah dan koordinasi spontan sopir Rescue Truck, Brama berhasil memegang tangga bantuan kembali dan menahannya pada rangka jendela. Brama berasumsi jika bus telah menginjak laju maksimal 80 Km/jam, yang mana akan terus melalui jalan lurus selama 10 kilometer ke depan. Akan tetapi lewat kilometer sebelas, bus gandeng berkepala api itu akan dihadapkan dengan pertigaan. Bagaimana pun caranya, bus harus segera dihentikan sebelum menabrak gedung di ujung jalan. Selain berharap para penumpang Trans Sena ini selamat, Brama juga berharap jalan raya di luar sana telah dialihkan ke jalan lain agar tak ada korban lain dalam situasi ini.

Di antara barikade asap tebal, Brama melihat dua titik merah menyala-nyala dari arah Banaspati. Dua titik itu mengawasi pergerakan Brama.

“Hei, pegang ini,” perintah Brama saat menarik lelaki berseragam pegawai negeri sipil. “Usahakan untuk tidak bergeser sampai semua berhasil masuk ke mobil evakuasi.”

“Lalu bagaimana dengan ku?!”

“Tunggu aku paling lama sepuluh menit. Jika lewat satu menit saja aku tak kunjung muncul, teriaki petugas itu, mereka akan menolong mu.”

Brama pun berlalu, berjalan mengikuti dua titik merah nyala itu. Tak mengindahkan seruan lelaki yang baru saja ia titipkan amanah.

“Kau mengincarku, kan? Kemari dan kita selesaikan berdua saja.” Tantang Brama ketika telah berhadapan dengan Banaspati.

Dengan suara geram, Banaspati menjawab, "Terlalu... mudah... aku ingin... kau... merasakan... penderitaan... penyesalan!"

Tiba-tiba Banaspati itu menggeram teriak dan memuntahkan api dari selujur tubuhnya, membuat api di kabin depan semakin menggila. Brama melindungi area kepala dari semburan panas Banaspati menggunakan kedua lengan yang dijadikan tameng. Hempasan karbon dari api Banaspati berhasil membuat bus oleng ke kanan kiri tak terkendali. Dari sela lengan sendiri Brama berlindung, manik-manik Brama dengan manik nyala si setan api bersiborok beberapa detik sebelum akhirnya wujud setan api itu lenyap setelah meledakkan diri yang mengakibatkan kekacauan di sana sini. Tak mungkin ia mati begitu saja, gumam Brama. Ia yakin, setan api itu hanya ingin mempermainkannya lalu melarikan diri setelah kekacauan sampai di puncak.

Di luar bus, ledakan amarah Banaspati itu juga menghempaskan asap panas sampai pada para penumpang yang tengah menaiki tangga untuk menyebrang. Mobil evakuasi terpaksa menurunkan kecepatannya hingga tangga bantuan lepas total dari rangka jendela dengan tiga penumpang masih bergelantungan di sana. Nasib serupa terjadi pada Tanker Truck, yang mana harus membelokan mobil agar jarak mereka lebih jauh dari bus akibat salah satu anggota Damkar tersambar lidah api. Masih ada tujuh penumpang di dalam bus yang belum sempat dibawa oleh tangga Rescue Truck, Brama harus menemukan cara untuk menghentikan laju bus Trans Sena itu.

“Bantu aku memecahkan kaca ini,” pinta Brama pada penumpang yang tersisa. Tak ada banyak tanya, semua membantu Brama memecahkan kaca samping bus Trans Sena dengan benda apapun yang bisa mereka raih. Bahkan ada yang langsung membogem dengan tinju sendiri. Pikiran mereka kompak mentasbihkan satu harapan; selamat, dan jika dengan berdarah sedikit bisa keluar dari kurungan bus yang terbakar itu, jelas suka rela akan mereka lakukan.

Satu lagi kaca persegi bus Trans Sena berkepala api dipecah habis. Brama pun berteriak pada petugas dalam Tanker Truck untuk mengirimkan fire suit. “Lupakan protokol dan aturan! Kita harus menyelamatkan warga sipil!” Seru Brama kala permintaannya tak segera dikabulkan. Warga sipil bukan berarti penumpang saja, tapi semua yang beradius kurang dari lima meter lokasi kejadian.

Tanpa pikir panjang, seorang operator dari dalam Tanker Truck pun mengirim drone ular terbang, tapi kali ini tidak membawa selang, melainkan suatu buntalan dan diarahkan ke dalam bus selagi Truck dan bus melaju bersisian. Drone berhasil masuk lewat jendela baru yang baru dipecahkan, Brama pun meraih bawaan drone tersebut yang mana adalah sebuah tas berisikan fire suit lengkap dengan helm, peralatan penyelamatan dasar, dan sepatunya juga.

Helm dan masker sudah terpasang, jaket dan sepatu siap jadi tameng di badan, serta dua tabung TAPA terikat mantap di pinggang dengan mulut tabung mengarah ke belakang. Brama memasang ancang-ancang, ia meminta penumpang untuk menunduk dan menutup muka masing-masing.

“Kau akan menyelamatkan kami, ‘kan?” Salah satu dari penumpang tersisa menahan kebersiapan Brama. Ia pun menoleh, mencari siapa yang bersuara. Namun, ketujuh warga sipil tersisa di dalam bus melantunkan nada harap kepada Brama lewat sorot mata mereka. Hati Brama teriris. Saat ini, tangan dan kaki Brama adalah kendaraan mereka untuk selamat. Tak seperti ia, kehadiran mereka dinantikan oleh keluarga, anak, kekasih, teman. Sedangkan Brama tak punya siapa-siapa selain Bobby, sahabatnya. Tetapi Bobby pun—

“Aku akan menyalamatkan kalian.”

Brama sudah tidak punya siapapun. Nyawa ia lebih murah daripada mereka yang amat berharga.
Brama pun berlari sekuat tenaga, kemudian menekan tombol untuk mengaktifkan semprotan gas pemadam api yang moncongnya mengarah ke belakang jadi menyerupai roket. Tekanan kuat dari tabung pemadam api itu sangat kuat, mendorong Brama hingga melesat membawanya pada kabin depan yang tengah terbakar hebat kurang dari lima detik dari kabin belakang ia bersiap semula. Dengan menghentakkan kaki pada dasbor bus, hembusan gas TAPA pun dimatikan.

Di tengah kepulan asap yang mengganggu penglihatan tapi tidak dengan pernapasannya, Brama menyingkirkan kaki jasad sopir yang sudah berbentuk kacau dari pedal gas. Mobil bus pun mulai menurun akselerasinya bersamaan dengan Brama yang menginjak pedal rem. Detik-detik waktu krusial menjadikan seluruh penumpang hidup yang tersisa di dalam bus jadi paling religius, tak terkecuali Brama. Detik berikutnya, bus berhenti total tepat di pertigaan jalan. Sedikit lagi akan menabrak pagar halaman gedung di depannya.

Brama menghempas napas yang tak sadar ia tahan sejak entah kapan. Ketika melihat kondisi penumpang di kabin belakang, semua memperagakan bentuk rasa syukur dan terima kasih mereka bermacam-macam. Tak dapat dipungkiri, senyum terpoles di wajah Brama yang masih bertopeng masker.

Saat mobil-mobil penolong tiba, Brama turut membantu dalam mengevakuasi tujuh penumpang tersisa dan memasangkan selang oksigen pada mereka, akan tetapi beberapa di antara mereka mengalami shock berat hingga tak sadarkan diri. Tak lama kebakaran bus Trans Sena pun bisa dipadamkan dengan maksimal dalam keadaan statis oleh Tanker Truck.

“Pak Brama, terima kasih, terima kasih banyak.”

“Terima kasih telah menyelamatkan kami, Pak Brama.”

“Kau memang pahlawan sejati Senakarta!”

“Terima kasih telah menyelamatkan nyawa kami, Pak Brama!”

Bergantian penumpang yang sadar merapalkan pujiannya pada Brama. Namun, Brama balas sekenanya. Fokus ia adalah sahabatnya, Bobby. Saat melihat petugas medis yang berdatangan bersama polisi, Brama segera menanyakan kondisi Bobby.

“Pak Bobby sudah dievakuasi dan langsung dibawa ke rumah sakit. Keadaannya memprihatinkan, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin.”

Jawaban petugas medis itu tak sama sekali menenangkan hati Brama.   [  ]


Bagian VIII
Obituari

Perban membalut kepala, dua lengan, juga buku-buku tangan Brama. Bau senyawa organik alkohol yang hanya menemani sepi Brama dalam sandar kepalanya pada tembok warna tulang, sambil mata dipejam. Di ujung sana, pintu kaca buram bertuliskan IGD besar-besar jadi fokus Brama bergantung pada Yang Maha, apapun di atas sana. Luka dan trauma tubuh membawa Bobby langsung ke IGD sejak kedatangannya lebih awal dari Brama. Hingga Brama datang ke rumah sakit yang sama kemudian selesai ditangani, Bobby belum tuntas juga berurusan dengan alat medis di ruang ujung lorong rumah sakit sana.

Pintu IGD yang terbuka, disusul roda-roda yang mengair pada lantai keramik, menggugah Brama dari kondisi setengah tidurnya. Beberapa perawat mendorong troli ranjang pasien dengan Bobby di atasnya terbaring tak berdaya, ada pula perawat yang mendorong tiang infus yang juga terhubung pada lengan Bobby. Dari kerumunan itu, satu dokter menjadi pemimpin jalan. Brama turut ikut dalam jajaran perawat untuk mendorong ranjang Bobby.

Keadaan Bobby amat mengenaskan. Intensitas perban di kepala Bobby lebih banyak, luka sobek kecil maupun besar membuka epidermis wajah ia. Lengan kanan dan kiri diberi gips pada posisi yang berbeda. Sulit bagi Brama membayangkan apalagi yang mengoyak tubuh sahabatnya, membuat sahabatnya remuk total tak berdaya dengan bantuan selang oksigen menyumpal hidung dan infus.

“Aku tahu siapa Banaspati itu, Bob. Aku punya dugaan kuat. Aku hanya tidak tahu kenapa dia bisa jadi seperti itu,” ucap Brama, selain memberi informasi juga untuk menjaga agar Bobby tetap sadar.

Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Bobby menatap Brama, mengisyaratkan kalau ia mendengar dan mengerti apa yang Brama ucapkan.

Brama melanjutkan ucapannya kendati hatinya diremas segala kemungkinan, “Aku tahu betul tatapan itu. Di balik mata apinya ia mengisyaratkan dendam terhadapku. Aku bersumpah kalau aku bertemu si setan brengsek itu, aku akan—“

“Memaafkannya. Kau akan— Kau harus memaafkan dia, Bram. Janji padaku.” Pita suara Bobby jelas diseret agar dapat mengeluarkan suara, memotong perkataan Brama jadi diam seketika. Sebelum Brama melepas sisi ranjang Bobby, bola mata mereka berkomunikasi: satu pasang menyorotkan agitasi, sedangkan satu pasang yang lain melafalkan salam pergi. Brama pun ditahan perawat, menyaksikan nanar Bobby yang kian jauh lalu hilang di balik pintu ruang operasi.

Lagi, Brama menunggu dan bergantung pada Yang Maha, apapun di atas sana.

Kali ini Brama benar-benar tertidur di kursi tunggu depan ruang operasi. Tengkuk ebas karena tidur dalam posisi duduk lah yang membangunkan ia dari tidur tanpa mimpinya. Brama mengerang berbarengan dengan otot-otot leher yang ia renggangkan.

“Jam berapa sekarang…?” Brama bergumam pada udara, kepalanya bergerak acak mencari wujud jam hingga terpaku pada jam digital di atas lampu indikator pintu ruang operasi. Pukul 21:40, sudah tiga jam berlalu sejak Bobby masuk ke ruangan. Brama menghempas napas, beranjak dari posisi duduknya untuk mencari ganjalan perut. Ia baru ingat kalau ia belum makan apapun selain kopi arang dan dua lembar roti bakar di kafe siang tadi.

Pukul 22:00, Brama kembali ke lorong menuju ruang operasi dengan kantong plastik berisi makanan dan botol minuman di tangan lain yang tinggal setengah isinya. Lampu indikator ruang operasi masih hijau, tanda jika Bobby masih dalam penanganan. Brama pun menyantap khidmat tahu goreng pedas yang ia beli di seberang rumah sakit.

Pukul 22:48, lampu indikator akhirnya nyala merah. Brama sigap mendekati pintu ruang operasi, menyambut dokter yang tadi jadi pemimpin dalam proses penanganan Bobby. Namun—

“Bagaimana, Dok?” Brama enggan membaca raut wajah sang dokter. Ia ingin dengar langsung, bukan dari asumsi sendiri.

Sang dokter menghirup napas dalam-dalam, lalu berkata, “Kami sudah berusaha sebisa kami, Pak. Cedera di bagian dalam kepala Pak Bobby begitu parah dan kondisi beliau tidak stabil. Kami turut berduka, Pak.”

Air mata Brama ditahan gravitasi. Detik itu juga, Brama benar-benar sendiri di bumi.
 
- - -

Bobby dikebumikan saat mulai terbit matahari keesokan harinya. Petugas Damkar perwakilan dari seluruh divisi juga Brama mengikuti proses pemakaman hingga selesai. Papan nisan pun ditancapkan terakhir bertuliskan, “Yang terkasih putra/paman/keluarga/sahabat kami, Bobby Simanjuntak dalam sisi Tuhan”. Satu Markas Pemadam Kebakaran amat terkejut mendengar berita keberpulangan Bobby. Bobby dikenal sebagai sosok teman yang loyal dan supel, sosok pemimpin yang tegas dan mengayomi. Satu persatu, kerabat duka meninggalkan gundukan tanah masih basah yang mengubur Bobby. Disusul Rey dan Ryo, berpamitan pada Brama sebelum kembali ke markas. Pada makan Bobby lah, pertama kalinya, Brama dan Rey berjabatan saling mengibarkan bendera perdamaian.

Kini tinggal Brama yang tersisa di pemakaman, berdiri tegap di antara nisan yang menancap tanpa menyadari seseorang berpakaian serba hitam memantaunya dari kejauhan. Dia adalah Leti. Sepatu pantopel berhak tiga senti itu menapaki jalan setapak begitu tenang, menuju satu entitas yang tak lain adalah—

“Mau apa kau ke sini,” ucap Brama dengan nada tak ramah. Brama tak menyukai kehadiran perempuan di sampingnya.

“Aku punya info penting tentang kasus Aruna.”

Kontan Brama menoleh ke arah Leti. “Pemilihan momen yang buruk.”

Setelah Leti mendoakan Bobby, bersama Brama, mereka duduk di saung kompleks pemakaman. Di sana, Leti menjelaskan penelusuran yang ia lakukan beberapa tahun belakangan dan menemukan fakta bahwa mayat yang terbakar sembilan belas tahun lalu bukan tubuh Aruna, “Tubuh itu milik orang lain yang sempat dikabarkan hilang sejak tahun 1874,” ucap Leti. “Identitas orang itu menunjukkan bahwa ia keturunan pribumi yang hilang dalam tragedi pertikaian akibat pembebasan lahan di hutan Senanga 148 tahun lalu.” Terangnya.

Dahi Brama berkerut, “Kenapa butuh waktu begitu lama untuk menyelidiki jasadnya?”

“Tidak mudah untuk mengidentifikasi jasad terbakar yang juga berusia ratusan tahun,” jawab Leti agak jengkel.

Brama tak menanggapi, tapi justru terpikirkan suatu hal. “Hm, besok Anda ada waktu? Saya ingin mengajak ke suatu tempat, terkait kasus ini.” Kendati Leti merasa heran, tapi ia tetap menyanggupi.
 
- - -

Setelah menyelesaikan beberapa berkas kepolisian di markas, Leti menemui Brama di titik temu yang mereka sepakati. Dengan mengendarai motor Scooty, Leti membonceng Brama yang mana badan besarnya terlihat kontras dengan motor kecil Leti. Postur Brama tegap dan menyilangkan tangan di depan badan karena tidak ingin bersandar ataupun pegangan pada sang pengemudi. Mereka menyusuri jalan pinggiran Senakarta yang mengarahkan mereka menuju kawasan perkampungan.

“Kalau Anda membawa saya ke tempat aneh-aneh, saya masukkan lagi, lho, ke penjara,” ujar Leti memecah hening.

“Panggil nama saja. Lagipula saya sudah bilang, ‘kan, Mbak. Jalanan ini Cuma bisa dilewati motor dan saya nggak punya motor. Jangan kan motor, kendaraan saja nihil,” jawab Brama.

Leti tak membalas Brama, sedikit kesal walau ada benarnya juga. Di sisi lain, jika Brama benar, maka tujuan mereka akan menjadi kunci terhadap misteri mayat yang ada di kamar Aruna. Penjelasan Brama kemarin soal kondisi saat di penjara, bahwa ia mengenal seorang napi yang dipidana akibat kasus pencabulan adalah seorang dukun sekaligus kuncen penunggu Hutan Senanga. “Dia bebas beberapa bulan lebih dulu daripada saya.”

Leti pun kembali fokus pada jalanan yang mulai agak berlubang, tanda bahwa mereka telah jauh dari pusat Kota Senakarta. Setelah melewati perkampungan dan memasuki area hutan Senanga, Leti dan Brama disuguhkan dengan satu-satunya rumah gubuk di tengah hutan, “Itu gubuk milik Kuncen Ki Rangga,” terang Brama yang telah menapak tanah pekarangan seluas hutan. Namun, betapa kagetnya Brama dan Leti ketika disambut seorang anak lelaki kisaran usia sepuluhan tahun keluar dari gubuk sambil berlari kecil dan menahan tangis.

“Bangsat. Aki-aki bajingan itu sepertinya belum tobat juga,” ucap Brama geram, tangannya tanpa sadar mengepal di sisi badan.

Leti pun bersiap dengan merogoh saku celananya, yang tanpa sepengetahuan Brama, bersarang sebuah pistol di sana.

Di dalam rumah gubuk bercagak bambu dan beratapkan jerami, Ki Rangga terlihat tengah mengencangkan sarungnya sembari meniup dupa bekas ritual ia bersama bocah yang lari tunggang-langgang beberapa waktu lalu. Hendak ia bersantai ria dengan merambah dunia maya lewat handphone Unidroid tipe lamanya, yang awet dipakai selama sepuluh tahun.

Namun, baru ingin merebahkan badan, suara seorang wanita bersamaan dengan ketukan pintu menahannya. “Assalamu’alaikum, Ki.. Assalamu’alaikum…”

Pria tua itu menghempaskan napas dan menggerutu, “Haduh, baru ingin istirahat.”

“Ki, saya ingin berobat. Tolong buka pintunya, Ki.” Perempuan di balik pintu itu bersuara lagi.

“Pergi, pergi. Ini sudah mau malam. Aki sudah nggak nerima pasien,” ujar Ki Rangga. “Lagipula aku nggak begitu doyan wanita, apalagi yang sudah dewasa,” gumamnya pada udara, sebelum kembali memberi fokus pada telpon genggamnya.

Untuk beberapa waktu tak lekas ada jawaban lagi dari wanita di luar sana, Ki Rangga tersenyum kemenangan. Akan tetapi, lagi-lagi, baru ingin merebahkan badan suara wanita itu muncul lagi dengan nada suara amat merintih. “Tolonglah Ki, saya sudah nggak kuat. Saya akan melakukan apapun asal penyakit ini bisa hilang dan saya akan bayar berapapun.”

Ki Rangga berpikir: membayangkan jumlah uang yang akan ia dapat dan memegang bagian depan sarungnya, “Masih bisa lah,” gumamnya sebelum terkekeh sendiri. Pria tua itu pun memutuskan untuk bangkit, membukakan pintu sedikit untuk mengintip. “Aku bisa baca penyakitmu. Langsung masuk ke kamar saja dan…”

Ucapan Ki Rangga terputus, kaget melihat sosok dibalik pintu adalah pria besar berbadan tinggi dan tegap. Namun, masalahnya dia buka pria besar biasa, dia adalah— “...Brama?”

Baru diberi celah sedikit, Ki Rangga lekas ingin menutup lagi pintu kayu rumahnya, tetapi Brama lebih dulu mendobrak kencang hingga wajah Ki Rangga terhantam pintu sampai hidungnya patah. Erangan pilu kesakitan dari pria tua itu pun menggema pada pepohonan sekitar.

"Aku maunya langsung main di sini aja, nggak apa-apa, ‘kan?" Ejek Brama saat menginvasi wilayah pribadi si duku, bibirnya menukikkan senyum tetapi matanya melotot penuh ancaman.

“Bangsat kau, Bram.” Gerutu Ki Rangga sambil terus memegangi tulang hidungnya. Saat menyadari bahwa Brama tidak sendiri, “Dan kau— Siapa kau?" Ucapnya sambil menunjuk Leti.

Sambil menodongkan senjata tajam pada si penanya, Leti berkata, “Aku bisa dengan mudah menjebloskanmu ke penjara yang lebih ekstrim setelah mengantongi bukti visum dari bocah yang kau cabuli tadi. Tapi untuk saat ini, kami ingin bertanya soal Banaspati.”

Brama sekilas terdiam dengan ketegasan sang detektif, lalu kemudian melontarkan bertanya pada Ki Rangga, “Kita memang beda sel waktu itu, tapi desas-desus tentang mu ramai di kalangan napi. Rumahmu ini dari dulu nggak pernah ikut dilahap api saat terjadi kebakaran hutan dihampir setiap tahunnya. Apa itu karena kau ada hubungannya dengan mitos mahluk Banaspati?”

Ki Rangga tak menjawab. Yang semula ia sibuk dengan rasa sakit di hidungnya, berganti jadi agitasi ketakutan. Mata tuanya bergantian memindai Brama juga Leti, sebelum berbalik badan dan hendak berlari pada pintu yang akan membawanya ke halaman belakang. Namun, senjanya kalah cepat dengan peluru yang menancap di pahanya.

Brama mendengkati Ki Rangga yang tersimpuh pada lantai tanah, kian mengerang kesakitan. “Aruna Manggala, anakku yang tewas terbakar di kamarnya sendiri sembilan belas tahun lalu, apa kau mengenalnya?" Tanya Brama, saat ia telah berjajaran dengan Ki Rangga.

Pria tua itu membuang napas, tanda bahwa ia melepaskan seluruh rasa sakitnya pada semesta untuk ia buat senyum simpul pada bibirnya. Brama tersentak dengan perubahan Ki Rangga, “Apa yang kau ketahui?!”

Kesabaran Leti habis, ia kembali memberi ultimatum, “Jika kau tidak buka mulut, kukebiri kau dengan peluru ini!”

Mengabaikan seruan dari Leti, Ki Rangga berbicara pada Brama, “Padahal kau dan aku sama saja, Bram. Kita sama-sama menjalani hobi lama kita setelah keluar dari penjara. Kenapa kau menggangguku hanya untuk kasus yang sudah basi?”

Kepalan tangan Brama sudah melayang hendak mendarat pada wajah pria tua di hadapannya, tetapi Leti lebih dulu mencegah. “Tenang. Wewenang untuk interogasi hanya untuk petugas kepolisian.” Lalu Leti berkata lagi, kali ini untuk menjelaskan pada Ki Rangga maksud ia dan Brama datang ke rumahnya. “Saya melacak ribuan berkas akun media sosial dari orang-orang yang pernah menghubungi Aruna dan setelah bertahun-tahun, hanya ada satu akun yang jejak pertama kali diaktifkannya di sekitar sini, di hutan Senanga. Akun it uterus aktif sampai waktu sebelum kau masuk penjara.”

Ki Rangga menganggukkan kepala, jadi karena jejak riwayat media sosial Aruna bersamaan juga ramai narapidana membicarakan kesaktiannya, yang mana semua itu berhubungan dengan Brama lah yang membuat ia dianggap sebagai dalang utama Banaspati. “Aku mengerti. Asal kau tahu, aku nggak pernah ada dendam pribadi denganmu, Bram. Tapi, yang datang ke rumahmu waktu itu adalah kakek ku. Dan yang mengundangnya adalah anakmu sendiri.”    [  ]


Bagian IX
Mulanya

Cara terbaik untuk menghabiskan hari tenang dan biasa saja adalah dengan duduk kaki sebelah diangkat, sambil menyeruput kopi pahit dalam gelas besi bercorak hijau, dan batang tembakau di selipan jemari. Tenggerek, jangkrik, juga gemerisik dedaun yang dicolek angin jadi musika pendampingnya. Di barat rumah, ayam jantan mematuk-matuk nasi kering bekas dua hari lalu—yang mana kadang kalau beruntung, si ayam dapat beras baru kualitas paling berkutu. Agak ke tenggara, asap tabunan daun kering menyelimuti depan rumah gubuk bambu, bergerak dibawa pasrah oleh angin.
Oh, suasana yang menyenangkan bagi seorang pensiunan dukun.

Batang tembakau pria tua berkalung bandul kayu bulat, rambut putih dibiarkan awut-awutan, itu telah habis satu—untuk sore itu. Tangan berkulit sudah tak kencang lagi, mengambil lembaran kulit jagung lalu ditaburi cengkeh, tembakau, dan rempah-rempah lainnya, kemudian ia gulung. Proses melinting tembakau dari bahan langsung jadi terapi tersendiri bagi pria tua yang tinggal seorang diri di tengah hutan. Namun, hendak rokok rakitannya dibakar, derap sepatu tapal tebal mengintrusi kegiatannya.
“Selamat sore,” sapa tamu tak diundang pada pria tua kita. Jasnya menyudut tanpa kusut. Rambutnya licin jelas disemir. Sang pria tua mendengus dalam hati.

“Tidak usah basa-basi. Anda orang ke lima yang datang menemuiku dengan tujuan sama, pun jawabanku juga. Silakan pergi.”

“T, tapi Ki Wilawuk, hutan ini sangat potensial. Bayangkan bagaimana masa depan cucu-cucu Anda di masa depan—“

“Yang akan menikmati hasil kekayaan alam ini. Aku sudah hapal pernyataan yang kalian jual. Jadi, silakan pergi.”

Tak mengindahkan ultimatum Ki Wilawuk, tamu itu justru duduk pada dipan di sebelah Ki Wilawuk. “Kami bisa memberi kompensasi besar pada Ki Wilawuk jika, sebagai tokoh adat juga kuncen wilayah ini, menyetujui apa yang kami tawarkan. Ayo, sebutkan saja nominalnya. Kami manut maunya, Aki.”

Ki Wilawuk hanya tertawa. Dipikir si tamu—utusan dari pengembang—ia menang dan mengantongi izin kuncen Hutan Senanga untuk buka lahan jadi kawasan industri, karena bahunya yang semula tegap jadi agak menurun dan turut tertawa ringan bersama Ki Wilawuk.

“Tidak.”

Si utusan pengembang tak tanggap, “Ya?”

“Pergi dari sini.”

Hening merenggang di antara pria tua pensiunan dan pekerja kantoran. Asap rokok dari mulut juga hidung Ki Wilawuk membaur bersama asap bakaran daun. Lambat laun, suara pepohonan tumbang hinggap di telinga mereka.

“Oh, sudah mulai rupanya,” ucap si tamu. Jam mengkilat di lingkar tangan kirinya diekspos untuk dilihat pukulnya.

“Bangsat. Apa yang kau rencanakan.” Geram Ki Wilawuk. Posisi duduk santainya berubah jadi tegap serupa si tamu beberapa menit lalu.

Utusan pengembang yang semula pasang tameng besar-besar, kini ganti menodong senjata pada si kuncen hutan. Dengusannya lepas sebelum berucap, “Orang tua terlalu lama berpikir, investor kami sudah berisik, kau tahu. Sejak percakapan ini dimulai, para pekerja sudah mulai membabat pohon-pohon di bagian barat hutan, yang mana jauh dari rumah reot mu ini.”

“Bangsat!” Umpatan lepas kedua kalinya, kini ditambah ludah yang hinggap di jas si pengembang. Ki Wilawuk pun tungang-langgang berlari ke sisi barat hutan, meninggalkan si tamu yang ganti tertawa lepas.

 
“Kamu harus bantu Bapak.”

Di rumah petak dekat jantung Kota Senanga, Ki Wilawuk mengunjungi anak laki-laki pertamanya. Garis-garis pada wajahnya menebal, napas memburu, telapak kaki kacau berlumur tanah juga keringan darah. Singkat cerita, Ki Wilawuk tak berhasil menyelamatkan hutan bagian barat. Dia terlambat. Benar-benar licik para tangan-tangan kapitalis dalam menjalankan misi mereka. Perilaku yang sudah kelewat batas dan Ki Wilawuk tak bisa tinggal diam.

“Herman harus bantu apa, Pak?”

Herman tak ‘sesakti’ bapaknya, akan tetapi Herman adalah pribadi yang tekun dan kerap membantu bapaknya sebelum ia pindah ke kota dan menikahi perempuan pilihannya. Ki Wilawuk percaya, lewat  keturunan Herman lah penerusnya akan muncul.

“Kita harus menggagalkan para pengembang dalam membabat hutan untuk dijadikan pabrik. Hutan itu adalah aset Tuhan berupa alam. Masa depan cucu-cucu ku lebih membutuhkan alam yang sehat ketimbang pabrik.”

“Lalu, bagaimana caranya, Pak?”

“Aku akan menjadi banaspati,” ucap mantap Ki Wilawuk. “Dengan begitu aku akan hidup abadi dan mengusir para pendatang yang hendak berniat jahat pada hutan.”

Banaspati adalah entitas yang berasal dari dosa-dosa, berupa dendam dan amarah tak terbalaskan dari manusia yang telah meninggal. Bergentayangan menjadi energi api yang melayang-layang dan akan terus ada selagi manusia masih hidup di muka bumi. Malam itu juga, Ki Wilawuk dan Herman melancarkan ritual dengan mengumpulkan dan memanifestasi energi kelam manusia ke dalam tubuhnya.

Sebelum itu, Ki Wilawuk berpesan pada Herman, “Setelah aku hidup sebagai banaspati dan kau mendengar kabar kebakaran berasal dari hutan, itu caraku melindungi hutan. Sehari setelahnya, siram lokasi kebakaran dengan satu gayung air dari kendi di pojok rumah ku, air itu dapat memulihkan pepohonan dengan cepat.” Herman mengangguk.

Sambil duduk bersila, satu tangan Ki Wilawuk mengepal dan rapa ke dada, sedangkan tangan satunya menengadah ke atas, mencengkram udara. Lalu, ia pun merapalkan mantra, “Dhuh setan geni kang manggon ing jagad raya, Dosa langgeng ana ing jiwa, ngobong aku kanthi daya kang maha kuwasa.”
Setelahnya, yang terdengar terakhir malam itu adalah erangan pilu, sebelum semua menjadi abu.

Dan setelah malam ritual itu juga, ia dan anak juga keturunan Ki Wilawuk bekerjasama untuk menjaga kelestarian hutan. Herman pun secara suka rela menjadi kuncen hutan menggantikan bapaknya, yang dianggap orang-orang ‘tewas dalam upaya menghentikan penebangan Hutan Senanga’. Namanya harum hingga ke seluruh turunannya. Dengan begitu juga, Herman jadi lebih mudah menjalankan amanat sang bapak untuk menyiramkan segayung air pada lokasi terbakar yang disebabkan oleh Banaspati.

Namun, seiring berjalannya waktu, Pemadam Kebakaran Kota kian sigap dalam memadamkan hutan yang kebakaran. Hal ini membuat Ki Wilawuk murka, hingga yang tadinya hanya bergerak dalam membakar hutan jadi beraksi juga di daerah perkotaan untuk menyibukkan Tim Damkar agar tak terfokus ke kebakaran hutan terus-menerus.

 
Suatu hari di rumah tengah Hutan Senanga, Ki Wilawuk menyampaikan pada Rangga, cucunya, bahwa, “Aku mulai jenuh dengan kekuatanku.”

Anak dari Ki Herman, Rangga—atau kini dikenal sebagai Ki Rangga, bukan karena umurnya melainkan kehebatan ilmu metafisikanya mendekati kehebatan sang kakek—terkejut akan pengakuan kakeknya, “Lho, kenapa, Mbah?”

“Tubuhku selalu terbakar, aku seperti hidup dalam siksa neraka. Panas. Kobaran api tepat di depan mataku,” Ki Wilawuk menjeda penjelasannya, untuk kemudian berkata, “Rasanya mati lebih baik, ketimbang hidup seperti itu terus-menerus.”

Ki Rangga paham apa yang diucapkan sang kakek. Tak terbayang betapa besar penderitaan yang ditimbun demi menjaga kelestarian Hutan Senanga, membakar diri untuk membakar egoisme mereka yang rakus akan kekuasaan dan kekayaan. Mungkin memang sudah tiba waktu sang kakek untuk istirahat yang sesungguhnya dalam ketenangan.

“Jika itu keinginan Mbah, aku akan turuti. Beritahu aku cara menghentikan mantranya.”

“Satu-satunya cara adalah dengan menurunkan kekuatan api ini. Tapi, tak bisa ke sembarang orang. Karena jika tak punya cukup dendam yang tertanam dalam hati orang itu, dia yang diberi kekuatan hanya akan tewas terbakar.”

Ki Rangga memutar otak untuk mencari kandidat tepat pengganti Banaspati kakeknya.

 
Kemajuan teknologi memunculkan internet lalu media sosial, bermodalkan ponsel, siapapun di segala penjuru dapat terhubung hanya dengan mencari nama pengguna mereka. Tak terkecuali Ki Rangga, yang juga ikut arus internet dan memiliki beberapa akun media sosial. Bermodalkan ponsel layar sentuh keluaran terbaru, Ki Rangga manfaatkan untuk menjaring anak-anak belia labil dan mudah dimanipulasi untuk diajak ke rumahnya. Namun, Banaspati Ki Wilawuk datang menginterupsi, membawa keluhan yang sama, yaitu gagal menemukan manusia yang cukup kuat untuk menggantikannya.

“Nanti ketemu, ‘kok, Mbah. Sabar, ya.” Ki Rangga menanggapi sekenanya. Untuk saat ini, kehadiran kakeknya dapat melindungi ‘bisnis birahi’nya agar tetap lancar beroperasi di Hutan Senanga. Tentu keuntungan besar bagi hormonnya sendiri.

Sampai suatu hari saat sedang berselancar di media sosial, Ki Rangga melihat sebuah video curhatan seorang anak muda yang mengaku mendapat siksaan fisik dari ayahnya. Video itu cukup viral di kalangan anak muda. Mulai hari itu, Ki Rangga pun memantau tiap update dari anak itu. Puncaknya pemantauan Ki Rangga berakhir dikala akun yang sama mengunggah video, tetapi dihapus beberapa jam kemudian. Kendati demikian, video itu sempat terekam dan dibagikan ulang beberapa kali hingga ramai diperbincangkan. Isinya tentang si anak muda itu yang ingin mencari pembunuh bayaran untuk menghabisi ayahnya.

Ki Rangga melakukan penelusuran mendalam, hingga diketahui bahwa anak muda itu adalah putra sulung dari seorang komandan Damkar yang selama ini mengganggu kinerja Banaspati.

“Aku menemukan wadah yang cocok untuk menggantikan, Mbah!” Seru Ki Rangga kegirangan. Ki Wilawuk melesat menghampiri seruan Ki Rangga, lalu menanyakan detail informasi dari wadah yang dimaksud.

“Namanya Aruna,” lalu Ki Rangga menyampaikan informasi yang didapat. Banaspati Ki Wilawuk pun langsung melesat ke lokasi dimana rumah anak muda, wadah penggantinya, berada. Dan benar saja, saat dilihat dari kejauhan aura dendam dan amarah anak itu terlihat menyala-nyala. Ki Wilawuk yakin betul bahwa Aruna adalah kandidat paling cocok untuk menuntaskan siksaannya.

Setelah Ki Wilawuk menyetujui bahwa Aruna memang tepat sebagai Banaspati, Ki Rangga bergerak untuk menggiring Aruna ke dalam jaringnya. Ki Rangga membuat akun palsu, lalu menghubungi Aruna dan memberi tawaran kekuatan maha dahsyat yang dapat membuat Aruna membalas dendamnya terhadap sang ayah. Tak sulit untuk membujuk Aruna kala itu, jelas sekali bahwa dia amat ingin menghabisi sang Komandan Damkar pahlawan kota. Dan dari situ lah tragedi kebakaran di rumah Brama bermula.
 
- - -

“Mengetahui bahwa anak seorang Komandan Damkar ternyata menimbun dendam pada ayahnya sendiri, ditambah ia menyampaikan secara gamblang ingin sewa tukang pukul untuk menghabisi kau— ayahnya, adalah solusi serba menang bagiku. Rasanya seperti… Hm, Apa ya, istilahanya? Hmm— Oh! Mencolok dua lubang dengan satu batang!” Tawa kemenangan menggaungi rumah gubuk.

Leti yang jijik dengan ungkapan Ki Rangga, menyiagakan jari telunjuknya pada pelatuk, pelurunya siap menembus kepala Ki Rangga kapan saja. “Bajingan kau!”

Akan tetapi, tiba-tiba bola api Banaspati muncul di belakang Ki Rangga. Nyala api yang menyilaukan dan panas, perlahan membentuk tubuh Banaspati. Brama dan—terutama—Leti kaku di tempat melihat setan api begitu jelas di hadapan mereka. Seketika saja, suhu dalam gubuk meningkat. Pengap. Ki Rangga yang juga menyadari perubahan itu, membalik badan, jadi menghadap Banaspati. Banaspati pun sontak mencekik leher Ki Rangga dengan kedua tangan apinya.

Dalam napas yang patah-patah, Ki Rangga berusaha merapalkan mantra untuk mentransfer ruh Banaspati, “Dhuh setan geni—”

Namun, semburan api dari mulut Banaspati lebih cepat menghanguskan wajah dukun cabul itu dalam hitungan detik.   [  ]


Bagian X
Kemudian

Lolongan Ki Rangga mengisi relung-relung hutan manakala wajah dan tubuhnya dibakar hidup-hidup oleh Banaspati. Leti kontan menodongkan pistol ke arah Banaspati, kendati Brama berusaha menahan, tindakan Leti lebih cepat tatkala ledakan moncong pistol disusul sebutir peluru menembus bagian belakang kepala Ki Rangga dan bersarang di wajah Banaspati. Tubuh gosong nan ringkih Ki Rangga ditembus peluru itu pun hancur jadi debu. Namun, angin enggan mengambil peran dalam ruangan, abu Ki Rangga berkumpul di kaki Banaspati, tak dapat bebas. Bahkan setelah kematian tragisnya, dukun cabul itu masih dikungkung Banaspati.

Brama mengabaikan sinematika horror, kendati itu bukan sinematika dan ialah kenyataan, yang mana mula dari segala mula adalah Brama yang menuntut lebih anak pertamanya. Satu tindakan membawa pada tindakan-tindakan lain, hingga mencapai taraf kekerasan anak dalam rumah tangga.

“Aruna, ini Ayah, Nak,” ucap Brama, mencoba untuk memperbaiki kesalahannya.

Setengah mati Leti menahan mual dan dunia yang berputar—menurut ia, ia berbisik pada diri, “Monster api benar-benar ada…” Bola mata wanita itu merefleksikan kobaran hebat tubuh Banaspati.
Banaspati menatap tegas Brama yang perlahan mendekati, dengan penuh kebencian, setan api itu berkata dengan suara nasal, “Selama ini... bagiku... kaulah... monsternya.”

“Lantas kenapa kau melakukan ini semua? Kenapa tak langsung kau bunuh Ayah saja?”

Ada kekehan sebelum Banaspati Aruna menjawab, “Terlalu mudah... aku ingin kau... hidup dalam penyesalan... penderitaan...”

Leti menanggapi, “Lalu kenapa kau membakar orang-orang selama ini? Membuat kekacauan di Senakarta?”

“Selama ini... aku mendengar... keluhan.. putus asa... penindasan…” Aruna mengepalkan tangannya, “…dengan api ini... akan kubalaskan... mereka yang... bernasib sama sepertiku!”

Api di tubuh Aruna seketika membesar. Plafon rumah gubuk Ki Rangga yang telah terbakar sejak kedatangan Aruna, kini telah merambat hampir menyelimuti rumah. Leti segera menarik tangan Brama karena asap bakaran yang kian tebal. Namun, kaki Brama dipaku keyakinan, bahwa ia ingin menyelesaikan masalah dengan putranya, walaupun harus mengorbankan diri.

Mata Leti membola kala Brama merendahkan tubuhnya, bersimpuh dihadapan Aruna, kepala menengadah tanda benar-benar berserah, kemudian Brama berkata, “Ayah mohon maaf atas semuanya, Nak. Ayah nggak akan kemana-mana, sampai kau memaafkan Ayah.”

“Kau meminta... untuk dimaafkan?... Cih, persis seperti Ibu... yang memaksaku... untuk memaafkan... setiap pukulanmu...” Amarah Aruna membumbung tinggi seraya tubuhnya semakin melayang bagai tak punya gravitasi.

“Kau tak pernah... memaksa Mayang... menuntutnya… memberinya tekanan... kau hanya melakukan... itu pada ku… padahal aku juga… putramu sendiri...” Lanjut Arun, matanya menyala-nyala.

Brama menjelaskan, “Ayah melakukan itu karena Ayah menyayangimu, Ayah ingin kau menjadi kuat. Tapi, Ayah sadar, cara Ayah salah. Karena itu—“

“Diam!” Aruna sang Banaspati semakin murka, teriakannya menghempaskan panas api yang luar biasa hingga Brama dan Leti terpental keluar dari rumah gubuk. Brama lebih dulu bangkit, lalu membopong Leti. Banaspati melayang di atas rumah yang sudah terbakar. Langit di sekitar hutan telah terselimuti awan hitam pekat, nyala-nyala api terlihat di beberapa titik dari kejauhan.

“Oh, Tuhan… Apakah akan ada kiamat…” gumam Leti melihat kondisi di sekitarnya.

“Apa yang kau perbuat?” Seru Brama.

“Membuatmu menderita... karena mereka tak akan pernah... memaafkan mu,” jadi ucapan terakhir Aruna sebelum kemudian ia melesat terbang meninggalkan Brama dan Leti.

“Ia akan pergi kemana? Apa yang dia maksud?” Tanya Leti.

Brama berpikir sejenak, jangan-jangan incaran Arun selanjutnya adalah... “Michelle dan Mayang… Oh, sial! Aruna pergi ke tempat Michelle dan Mayang. Dia akan membunuh suami Michelle. Aku harus segera ke sana.”

Hendak Brama berlari, tetapi Leti mencengkram kuat lengan Brama, “Hei, kau gila?!” Seru Leti. Brama baru sadar jika rambut Leti telah kacau berantakan dibandingkan saat awal mereka berangkat. Walaupun ia tahu kalau ia juga tak jauh berbeda. “Kita sendiri terjebak di sini, setidaknya harus menunggu teman-temanmu mengatasi api di sekitar sini, itupun sebelum kita dikremasi hidup-hidup!” Leti berseru lagi. Brama menangkap getar ketakutan dalam tiap hentak seruannya.

Brama dan Leti bertatapan. Dalam kilat mata masing-masing menggambarkan keos yang berbeda: Leti dengan kepanikan dan ketakutan tak keluar dengan selamat dari hutan, sedangkan Brama kesedihan bersamaan dengan keyakinan untuk mendapat maaf dari sang anak. Dan di antara kekacauan itu, mereka menemukan secuil ketenangan bahwa mereka tak sendirian.

Tak lama kemudian, tanah yang mereka pijak bergemuruh, bersamaan dengan sayup-sayup suara sirine.

Brama dan Leti berjarak. Brama berucap singkat, “Mereka di sini.”

Tetapi tak dihiraukan oleh Leti.

Ramai-ramai mobil Damkar dengan corak emblem khas dari berbagai divisi masuk menerobos lebatnya hutan. Dua mobil Tanker berhenti di hadapan Brama dan Leti, lantas langsung mengeluarkan drone pembawa selang hydrant untuk memadamkan rumah gubuk yang sudah terbakar dan tak berbentuk agar tak merambat ke tumbuhan di sekitar gubuk.

Haryo lompat dari atap mobil, sigap menghampiri Brama dan Leti untuk dievakuasi. Ada Reyhan juga yang siaga di kursi supir sambil mengawasi dari kejauhan.

“Apa kalian baik-baik saja?” Tanya Ryo saat tiba di hadapan Brama dan Leti. Ia memberikan air mineral juga mengajak Brama dan Leti ke tempat yang aman dan tidak menghalangi para petugas dalam pemadaman.

“Ya, kami baik-baik saja. Untung kalian cepat datang,” jawab Leti.

“Apa semua divisi ada di sini?” Ganti Brama yang bertanya kepada Ryo.

“Hampir semuanya, Pak, sekitar 90% dari personil dan alat berat di seluruh Damkar berbagai divisi kami kerahkan. Kebakaran ini cukup masif.” Terang Ryo.

“Kalau begitu tidak akan sempat,” gumam Brama, “Bisakah kau mengirim satu truk Tanker ke tempat lain? Akan ada kebakaran hebat di rumah anakku.” Pinta Brama kepada Ryo.

“Maksudnya bagaimana, Pak?” Ryo kebingungan.

Di tengah riuh proses pemadaman, ternyata Reyhan sudah ada di samping Ryo, menguping percakapan mereka karena ingin mengetahui yang sedang dibicarakan. Karena mendengar percakapan Ryo, Brama, dan Leti itu lah, Reyhan lekas memotong, “Kami tidak mungkin mengirim personil begitu saja jika kebakaran belum terjadi, kecuali jika memang kebakarannya direncanakan.”

“Kau menuduhku melakukan semua ini?” Emosi Brama tersulut saat waktu makin menipis.

Ryo menahan tubuh besar Brama yang sudah kelelahan, pakaian Brama pun sudah compang-camping dan wajahnya lusuh. Sedangkan Reyhan, begitu gagah dengan zirah fire suit-nya, berdiri diam menantang Brama.

Tidak ada cara lain, mau tidak mau, aku harus mencuri salah satu mobil Damkar di sini.

Kata hati Brama menjadi penutup atas kesabarannya, sebelum ia mengambil tindakan lebih jauh.    [  ]


Bagian XI
Mulai Pembalasan

Dalam sorai hiruk pikuk pemadaman di titik kebakaran, Brama dan Reyhan saling tantang lewat sorot yang saling ditukar sebelum Reyhan yang akhirnya lebih dulu buang muka. Diabaikannya Brama untuk dia kembali mengarahkan anggota tim dalam memadamkan api. Hendak Ryo menyusul sang kakak, tetapi cengkraman Brama kokoh melingkari lengan Ryo. Anggota muda pemadam kebakaran itu mengisyaratkan tanya sebelum Brama menjelaskan dalam bisikan.

Leti sejak tadi hanya jadi pengamat karena jadi penengah dalam situasi begini agak kurang diperlukan, menurutnya. Setelah Brama membisikan entah apa pada Ryo, pria besar itu ganti memberi perhatiannya pada Leti. “Mau ikut dengan ku? Butuh kira-kira tiga orang, minimal, untuk mengoperasikan truk Damkar itu.”

Tak dibiarkan Leti mengutarakan keputusannya berkat kerut heran di wajah wanita itu telah terbaca jelas oleh Brama, akhirnya Brama dan Ryo langsung saja bergegas menyelinap ke salah satu dari sekian banyak truk Damkar yang tengah sibuk-sibuknya beroperasi memadamkan api. Dengan harapan mereka, Leti mengikuti di belakang. Mereka mendapati salah satu mobil Damkar yang jarang lalu lalang petugas, secara otomatis saja Brama bersembunyi dan Ryo berlagak santai untuk dapat mengambil alih mobil.

“Hey,” Ryo menyapa petugas yang menjadi sopir mobil tersebut, “aku perlu pinjam truk ini untuk—untuk membawa para penyintas ke zona aman.” Perintah Ryo, kendati terbata-bata. Rupanya, setelah Ryo lihat-lihat kembali, petugas ini hendak mengoperasikan selang robotik dari ruang kemudinya.

Sejenak sang petugas keheranan, “Tapi, Pak, apa tidak baiknya menunggu ambulan?” Balas operator robotik itu.

Ryo berdeham, “Ini perintah dari Komandan Reyhan. Saran saya, Anda bantu personil di truk lain saja kalau begitu.”

Petugas semula dalam mobil itu pun nurut. “Baik, Pak.” Nama keramat ‘Komandan Reyhan’ yang dijual oleh Ryo berhasil membuat ia mendapatkan mobil truk Damkar, sesuai rencana Brama.

Ryo duduk di kursi sopir dalam bilik kemudi, di susul Brama juga Leti yang duduk di kursi sebelah. Mereka bertiga pun bertolak dari lokasi kejadian, menjauhi hutan yang tengah terbakar, tanpa menghidupkan alarm dan lampu peringatan mobil Damkar agar tak memicu perhatian. Dalam perjalanan, Brama merengek terus pada Ryo untuk mengakselerasikan mobil lebih cepat, menerobos kemacetan pengendara lokal (akibat alih jalan utama agar menjauhi sekitar hutan) hingga melawan arus mobil-mobil Damkar dan tim penyelamat yang mengarah pada pusat kebakaran hutan.

Di episenter kebakaran, Reyhan tak henti-hentinya menyerukan komando pada bawahannya. Sengatan panas api ditambah harus ke sana ke mari, membuat kuyup keringat tubuh di balik fire suit itu. Untungnya, seluruh petugas mengikuti arahan sang komandan dengan baik dan cekatan. Namun, janggal muncul tiba-tiba kala petugas yang ia tugaskan siaga di sayap barat daya hutan turut dalam pemadaman api sentral—menata selang yang melilit pada drone. Itu bukan tugasnya. Sungguh, Reyhan adalah komandan yang hapal seluruh bawahan beserta tugas-tugasnya, apalagi jika ia yang memandatkan tugas itu. Maka melihat begini— “Lho, kenapa kau ada di sini?” Tegur Rey. Andai saja petugas itu dapat melihat kerut di balik helm zirah Rey.

“Mobil saya dibawa Pak Ryo untuk membawa dua orang penyintas tadi, Pak. Dia bilang itu perintah Pak Rey.”

“Saya tidak pernah bilang begitu—“ Kontan mata sang komandan membola, Rey teringat sengat sengit tatapan Brama di awal pertemuan tadi,

 
“Bisakah kau mengirim satu truk Tanker ke tempat lain? Akan ada kebakaran hebat di rumah anakku.”

“Kami tidak mungkin mengirim personil begitu saja jika kebakaran belum terjadi, kecuali jika memang kebakarannya direncanakan.”

“Kau menuduhku melakukan semua ini?”
 

“Argh! Brama sialan! Sekarang kau buat Ryo jadi pion. Kau bawa ke mana adikku, bangsat!” Rey menyerukan profaniti dalam momentum enersi disleksi ini. Petugas mengurungkan rasa kepedulian mereka dengan mengerang melawan kobaran api lebih lantang, menghentak kaki lebih keras, mengabaikan sang komandan yang mengutuk langit tanpa gemerlap kecuali kepulan asap yang menantang awan.

Kembali dalam mobil Damkar yang melarikan diri dari Hutan Senakarta, perjalanan membelah kemacetan menuju rumah Michelle, Ryo berucap pada Brama, “Aku mungkin akan di skors untuk hal ini. Tapi, jika apa yang bapak ucapkan benar, maka kita harus menyelamatkan keluarga Pak Brama.”

Brama terenyuh, menepuk-tepuk pundak Ryo disertai ungkapan, “Terima kasih, Ryo. Ini sangat berarti bagiku.”

Sedangkan Leti masih memproses setiap kejadian beberapa waktu ke belakang. Ki Rangga, Ki Wilawuk, Banaspati, Ki Rangga mati di tangan Banaspati, yang ternyata Banaspati itu adalah Aruna, hutan terbakar, pemadam kebakaran, dan kini ia bersama mantan napi dan petugas pemadam kebakaran yang membelot ke rumah Michelle yang mana menurut Brama Banaspati akan melakukan penyerangan di sana… Oh, sial terlalu banyak yang terjadi dan betapa beruntungnya aku masih hidup hingga detik ini. Leti menghempaskan napasnya. Tanpa menolehkan kepala, sudut mata Leti mengkalkulasi garis-garis halus pada wajah kumal Brama. Pria ini sungguh berbahaya.
 
- - -

Kediaman Thomas dan Michelle begitu tenang; Michelle mencuci piring di dapur, Thomas menonton televisi di ruang keluarga, Mayang ada di kamar—mungkin sedang mengetik di laptop atau video call bersama pacarnya. Di tengah sibuk Michelle menyabuni gelas-gelas bersamaan ia melantunkan tembang lawas, sekelebat cahaya melewati jendela dapur. Mulanya, Michelle tak pikir banyak, mungkin itu adalah lampu dari kendaraan tetangga yang tengah parkir. Tapi, cahaya itu lewat lagi, lagi, dan lagi. Michelle meletakan piring yang masih penuh busa, ia pun melongok ke luar jendela. Barulah Michelle sadar bahwa itu adalah nyala-nyala bola api yang melayang mengelilingi halaman rumahnya. Michelle seakan ditarik ke masa lalu, dimana kejadian ini serupa saat sebelum kehilangan Aruna. Dia pun berlari meninggalkan meja cuci piring sambil meneriakkan nama Mayang.

Teriak seruan nama Mayang bersamaan dengan pecah belah yang berteriak juga, menggugah ketenangan Thomas. Pria itu segera menghampiri Michelle yang telah pucat dan amat panik sambil terus meneriaki nama Mayang. “Hey, hey. Tenang. Mayang ada di kamarnya. Ada apa?” Tanya Thomas. Kedua tangannya menggenggam tangan Michelle yang ternyata masih memakai sarung karet mencuci piring.

“Tolong periksa halaman depan rumah, Mas.” Hanya itu ucap Michelle pada Thomas sebelum wanita itu menuju kamar Mayang di lantai atas.

Thomas pun mengikuti arahan Michelle. Namun, baru akan membuka pintu, tiba-tiba Thomas terdorong oleh badan pintu rumah yang lepas dari engselnya bersamaan dengan ledakan api yang berasal dari luar rumah. Michelle telah bersama Mayang dan keluar dari kamarnya, menyaksikan horror kejadian dari lantai atas.

Thomas setengah sadar, kepalanya begitu pening terbentur saat ia mendarat. Tetapi lewat penglihatannya yang kabur, nyala api perlahan membentuk diri menjadi badan manusia berdiri berkobaran beberapa meter di hadapannya. Thomas masih tak bisa berdaya, ditambah juga kaki ia terjepit badan pintu. Lalu Banaspati itu melayang menghampiri Thomas. Dia pasrah. Dengan satu tangan, Banaspati mengangkat pintu yang menghimpit kaki Thomas, lalu dibuangnya asal.

Dalam lengah Banaspati, kepalanya terkena lemparan benda tumpul. Ia mengikuti kemana benda itu jatuh, rupanya botol kaca, lalu mendapat serangan lagi, kali ini vas bunga. Banaspati pun geram, mencari dari mana asal benda-benda itu hingga mendapati Mayang di lantas yang melemparinya. Di sana ia bersama Michelle.

…Ibu?

Banaspati menggenggam tangannya kuat-kuat. “Pergi!” Serunya, “sebelum aku… berubah pikiran…!” Perintah si setan api kepada kedua wanita itu.

Namun, Mayang tak menggubris. Tangannya siap melempar patung Bali seukuran dua kepalan terbuat dari marmer pada Banaspati, tetapi Michelle menahan lengannya.

Banaspati pun mengambil kesempatan itu dengan menembakkan bola api yang melewati kepala Mayang dan Michelle, tepat bersarang pada plafon rumah sebelum kemudian terbakar.

“Pergi!” Ultimatum terakhir Banaspati.

“Tak apa-apa, pergilah. Yang penting kalian selamat dulu.” Seru Thomas dengan susah payah. Badannya masih ngilu kendati badan pintu tak lagi menimpa kakinya. Meski ragu meninggalkan sang suami sendiri melawan setan api, Michelle tetap membawa Mayang menuruni tangga, membelakangi Banaspati yang tidak bergerak sedikitpun, lalu mereka berdua keluar melalui pintu depan.

Setelah Michelle dan Mayang keluar dari rumah, Banaspati mengaum keras dan menyemburkan api dari sekujur tubuhnya, hingga menyelimuti seluruh sudut ruangan, mengepung dia bersama Thomas.
Thomas menyerukan tanya, “Kau bisa bicara, kan? Apa mau mu? Uang? Akan kuberi semua—“

“Diam!”

Detik berikutnya Thomas terpental lagi ditambah rahang kanannya ngilu berat akibat tonjokan Banaspati di wajahnya. “Argh..”

Belum sempat Thomas pulih dari serangan kedua Banaspati—yang mana tak main-main kekuatannya, tubuh Thomas diangkat Banaspati lalu dihempas ke dinding berkali-kali. Selain itu, suami Michelle itu juga dihajar Banaspati dengan kepala tangan kosong seperti bara hitam tanpa selubung api yang membungkus tangannya. Banaspati Aruna begitu menikmati setiap tulang yang patah dan darah yang berceceran keluar dari tubuh Thomas. Finalnya, Banaspati mencekik Thomas hingga lemas total hingga tak ada lagi perlawanan.

“Tidak seru lagi… saatnya kuakhiri…” ucap Banaspati Aruna. Energi apinya dipusatkan pada telapak tangan yang tidak melingkar pada leher Thomas.

Namun, suara gaduh pecahan kaca berasal dari lantai atas mengganggu penutupan aksi Banaspati malam itu. Kemudian, derap langkah kaki cepat terdengar seperti tengah mengalokasi dimana ia dan Thomas berada. Sampai kemudian, seseorang berdiri pada railing balkon lantai atas dengan zirah fire suit dan helm anti api, membopong selang hydrant di pundak juga dua tabung TAPA di pinggang kanan dan kiri. Banaspati geram, ia tahu betul siapa orang di balik fire suit itu.

“Jangan ganggu kesenangan ku kau Brama brengsek!” Seru Banaspati lalu api di sekitarnya berkobar kian liar.

Brama pun membuka katup TAPA di kanan dan kirinya, menyemburkan isi ke arah belakang selayaknya roket, lalu terjun menuju Banaspati Arun. Tanpa Banaspati sadari, di kedua tangan Brama terdapat kapak yang kuat digenggamnya. Beberapa meter jarak mereka tersisa, Brama pun mengayunkan kapak tepat ke arah Banaspati. [   ]



Bagian XII
Penyelesaian

Thomas dihempas dan mendarat pada lantai penuh reruntuhan ulah Banaspati, bersamaan itu juga Brama terjun menyambar Banaspati menggunakan kapaknya. Agaknya, Banaspati yang melepas cengkraman leher Thomas jadi keuntungan bagi pria yang sudah tak berdaya itu karena setan api itu melengos dan jika saja Thomas masih dikungkung, jelas kepala Thomas lah yang bergabung dengan reruntuhan rumah di lantai. Selain itu, Brama juga tak mau ambil risiko untuk masuk penjara lagi. Lekas Brama pun mengayunkan kapaknya lagi, mengincar kepala sang setan api.

Namun, gerakan Brama terbaca oleh Banaspati karena ia kadung mengelak lagi, kemudian bersiap untuk ganti memberi serangan gumpalan energi api lewat telapak tangannya. Brama masih bergelantungan di langit-langit rumah itu membiarkan momentum menghentikan ia hingga mendarat di depan Thomas, saat henti itu lah ia mencabut kepala selang hydrant yang ada di pundaknya, dalam hitungan detik air bertekanan tinggi merambat dalam badan selang yang tersambung dari truk Damkar di luar rumah menjadi piston Brama melawan Banaspati.

Detik berikutnya, semburan api melawan air. Kekuatan iblis melawan kekuatan mesin buatan manusia, sama-sama dipukul hingga kekuatan penuh. Baik Brama maupun Aruna, keduanya memaku kaki pada lantai tempat mereka berpijak, keras tekad menahan posisi agar tak terhempas ke belakang.

“Ini kesempatan mu! Cepat keluar dari sini!” Perintah Brama pada Thomas.

Banaspati mengeluarkan kekuatan tambahan dari tangan kirinya, kekuatan api maksimal pun disemburkan pada Brama.

“Argh.. brengsek!” Erang Brama saat tubuhnya terdorong.

Energi panas yang kuat bertemu air menimbulkan kepulan asap hingga mengepung pandangan mereka dalam rumah. Thomas merasa ini kesempatan baik untuk menyelamatkan diri. Namun, erangan Brama kian keras dan makin terpukul mundur, hingga akhirnya terhempas kuat sebelum Thomas beranjak dari tempatnya berlindung.

Banaspati Aruna mengaum kegirangan setelah berhasil menjatuhkan Brama. Energi panas pun ia pendarkan, menaikan suhu ruangan sampai uap air dan asap di ruangan dalam hilang begitu cepat. Saat ruangan tanpa kabut, Aruna mendapati yang tersungkur bukan lah tubuh Brama—pun Thomas, melainkan sebuah tabung TAPA. Sejurus kemudian, dari arah kirinya, suara kokangan pistol terdengar detik berikutnya ganti teriakan Banaspati Aruna lah yang terdengar.

Brama menembak tabung TAPA, mengakibatkan ledakan hebat yang tak terelakan. Gas karbon dioksida itu menelanjangi api di sekujur tubuh Aruna, menyisakan tubuh hitam nan gosong ia. Serangan susulan kembali mengejutkan Arun yang terbujur di lantai, yaitu semburan air dari selang hydrant, membuat ia meringkuk melindungi diri. Selang hydrant itu adalah yang Ryo sebut sebagai ular terbang, bisa beroperasi secara mandiri dengan membentangkan sayap baling-baling di kanan dan kiri bak telinga bersayap di kepala hydrant. Belum selesai air itu menghantam tubuh gosongnya, Brama berjongkok di depannya sambil menodongkan pistol tepat ke dahi.

“Ayo, kita hentikan semua ini, Nak. Ayah hanya ingin bicara,” pinta Brama pada Arun yang ia yakin ada di balik sosok setan buruk rupa itu.

“Aku tidak akan… tidak bisa… berhenti… Ini takdirku! Aku yang memilih… untuk jadi… begini!” Seru Aruna dalam erangan patah-patahnya, sambil terus menahan semburan air.

Kilat mata Aruna perlahan mulai terbentuk lagi kobaran api, Brama segera berucap sebelum kekuatan setan Aruna kembali, “Kalau begitu, ini juga takdir Ayah untuk menghentikanmu. Maafkan Ayah.”

Brama mengisyaratkan Thomas untuk pergi. Dengan jarak dekat begini sudah memudahkan Brama untuk menarik pelatuk dan peluru terakhir itu pun disarangkan ke mata Aruna.

Saat pandangan Aruna lengah dan lumpuh, Brama menyiapkan freeze bomb untuk membekukan ia. Namun, lengah dan lumpuh Banaspati membuatnya merubah wujud menjadi ruh bola api. Dalam sekejap, Aruna pun menghilang sebelum Brama menanam freeze bomb pada tubuh Aruna. Yang tersisa hanya percikan bunga es bercampur abu jejak api yang berterbangan tersiram air hydrant. Brama terkesiap, melewatkan kesempatan emas untuk menghabisi sang setan api akibat ia kalah cepat.

Diam Brama tak lama, hawa panas terasa di belakangnya. Saat Brama berbalik, Aruna telah dalam proses membentuk kembali tubuh apinya. Detik itu Brama sadar bahwa yang ia hadapi adalah kemustahilan.

Mata api Aruna bersiborok dengan Brama. Di sana lah Brama mendapati bahwa gejolak dalam mata sang anak adalah kekesalan abadi tanpa ujung. Berbanding terbalik dengan kilatan mata Brama yang merefleksikan seorang ayah dengan penyesalan mendalamnya.

Sekarang atau semua akan sia-sia…

“Sejak kelahiran adikmu,” Brama memakai waktu sempitnya sebaik mungkin, “Ayah sempat didiagnosa mengidap kanker paru-paru. Seharusnya Ayah sudah berhenti menjadi Tim Damkar saat itu.” Ia menundukkan kepalanya, “Ayah merasa, kamu sebagai putra sulung, harus siap menggantikan posisi Ayah yang sedang tinggi-tingginya kala itu. Ayah terus melihatmu sebagai warisan, aset, bukan individu yang mempunyai takdirnya sendiri.”

Aruna telah dalam mode Banaspati total seperti semula, tetapi ia tak dapat bereaksi mendengar pengakuan sang ayah. Kendati begitu, matanya menangkap aura Brama yang berubah kemerahan. Penggambaran dari amarah dan dendam, harusnya. Namun, Brama yang berlutut sambil menahan tangis jadi kontra posisi arti. Hal ini juga bertolak belakang dengan harapan Aruna yang ingin melihat Brama hidup membawa beban, rasa bersalah, dan kebencian pada diri sendiri. Justru malah fragmen aneh—memohon maaf dan pasang badan siap mati, yang tersaji.

Ada rasa tak nyaman dalam diri Aruna, rasa yang sama saat melihat Mayang—sang ibu. Turbulensi iblis dan kemanusiaan terjadi dalam palung batinnya. Energi panas pun ia pusatkan pada kepalan tangannya, sebagai penyalur kalut yang muncul. Di sisi berlawanan, Brama memejamkan mata, siap dihantam pukulan mematikan Aruna versi Banaspatinya.

Recana setelah nyawa sang ayah habis di tangannya, Aruna akan kembali jadi setan api yang membalaskan dendam orang-orang yang pernah menceritakan kesulitan hidupnya saat Aruna masih hidup berwujud manusia. Tetapi, sebelum pukulan dilayangkan, mata Aruna membuat kecoh dengan memunculkan gores senyum kecil pada wajah Brama.

Bangsat..

“Mati kau!” Seru Banaspati Aruna.

Udara menjadi kedap. Keheningan menyergap. Bola mata Brama menganga, begitu juga Aruna.

“Ugh..”

“Ryo..? A, apa—“

Di sana lah Ryo, jadi tameng bagi Brama dari serangan Banaspati. Tubuh lelaki muda itu dihunus tangan api Aruna hingga tembus ke organ dalamnya. Seketika bau anyir berbaur dalam bakaran dan pengapnya udara ruangan. Ryo yang setengah sadar, menahan tangan Banaspati agar tak lepas dari tubuhnya dan menyerang Brama.

“Pak Brama..”

Napas Ryo mengeja di tenggorokan.

“Y, Ya—Iya, Ryo..?”

“Beritahu mereka, bahwa aku telah menjadi pahlawan,” ucap Ryo sambil tersenyum lebar, meski darah deras bercucuran dari dada juga mulutnya.

Gerakan patah-patah Ryo adalah sisa terakhir ia untuk mengeluarkan freeze bomb, kemudian ditancapkan lah ke tangan Banaspati.

Frezee bomb pun langsung bekerja, menjalarkan es yang membekukan ke tubuh Aruna juga Ryo—karena tangan Aruna masih bersarang di rongga tubuh Ryo, kendati Aruna berusaha melawan. Sedangkan Ryo telah kaku turut tak bernyawa.

Tersadarlah Brama dari keterkejutan luar biasanya, lekas ia menghampiri Aruna, meletakkan telapak tangannya pada kening Aruna dan tangan lain pada dadanya.

Aruna mendengus, “Apa… yang ingin kau… lakukan? Kau gagal… kau mati percuma, Brama…” ucap Aruna. Ia tak dapat berbuat apa-apa saat Brama mulai melakukan ritual pemindahan ruh Banaspati.

“Kalau pun gagal, setidaknya dendam mu sudah terbalaskan. Kalau berhasil, kau bisa istirahat dengan tenang. Biar Ayah yang menanggung beban ini,” balas Brama. Kontak mata antara anak dan ayah, dalam jarak sedekat itu pun tak dapat dihindari.

“Dhuh setan geni kang manggon ing jagad raya…”

Rapalan mantra Brama terhenti. Bodohnya, di saat begini ia malah lupa lanjutan mantra pemindahan ruh Banaspati yang sempat diucapkan Ki Rangga.

“Dosa langgeng.. ana sing jiwa…”

Tak disangka, Aruna membantu pengucapan mantra itu. Brama jadi menilai, pada akhirnya, Aruna juga ingin lepas dari penderitaan dalam neraka abadi di tubuhnya. Brama pun mengikuti rapalan Aruna, “Dosa langgeng ana sing jiwa…”

“Ngobong aku kanthi daya… kang maha kuwasa…” Bait terakhir diucap bersamaan oleh Brama dan Aruna.

Selesai mantra dilantunkan, seketika tubuh Brama merasakan panas luar biasa. Kedua tangan Brama terbakar perlahan dari dimana ia bersentuhan dengan Aruna dan menjalar ke seluruh tubuh. Di sisi lain, tubuh Aruna memucat akibat suhu tubuh yang terus menurun, hingga tak kuasa lagi menghalangi efek dari freeze bomb, kemudian membeku.

Tak sanggup lagi Brama menahan sakit tubuhnya yang kian terbakar total. Fire suit yang ia kenakan leleh, tak tahan dengan api di tubuh Brama, sampai yang tersisa hanya kulit hitam arang dengan retak-retak bara api bagai tattoo urat permanen di sekujur badannya.

Kini Brama telah menjadi Banaspati total.



Panas. Panas dari neraka…

…Jadi hal pertama yang muncul di kepala Brama setelah menjadi Banaspati. Mulanya, api yang ia keluarkan begitu liar dan tak terkontrol, membumbung tinggi nyaris membakar lampu gantung di ruangan. Brama pun mencoba menstabilkan hembus napasnya, hingga ia sadar kalau tingkat panas tubuh dan semburan api dapat ia kendalikan.

Brama pun lantas mencairkan es yang telah menyelimuti Aruna dan Ryo, kemudian melepaskan tangan Aruna dari dada Ryo. Brama mengernyit prihatin melihat kondisi Ryo yang begitu mengenaskan. Setelah jasad keduanya dibaringkan bersebelahan dan dikondisikan dalam keadaan layak—menutup mata dan mulut yang menganga, juga menutup lubang di dada Ryo—Brama berusaha memadamkan sisa-sisa api di dalam ruangan hanya dengan mengendalikan napas dan menenangkan diri. Kompak api pun menjadi tenang, sebelum bertahap memudar dan lenyap sepenuhnya.

Brama jadi berasumsi bahwa api Banaspati Aruna yang begitu menggebu-gebu dan membara berasal dari dendam dan amarahnya semasa hidup dulu. Suatu yang tak dapat Aruna kuasai saat mengendalikan api neraka itu.

Api yang telah padam jadi petunjuk bahwa sirine Damkar ramai telah ada di luar rumah. Brama bergegas pergi, karena tak ingin dikenali atau diakuisisi jadi penyebab huru-hara atas kejadian ini. Jasad Ryo dan Aruna ditinggalkannya agar mereka dapat dikebumikan dengan layak. Walaupun, mungkin saja, taka da yang mengenali jasad Aruna yang tubuhnya hitam gosong.

Brama pun mengkonsentrasikan energi panasnya pada kaki dan tangannya. Perlahan ia pun melawan gravitasi, melayang tanpa keseimbangan. Ia berpijak kembali dan mulai dari awal, tetapi terus jatuh dan tak jua seimbang. Brama kembali menenangkan alur napasnya dan berkonsentrasi. Pada percobaan kelimanya, baru Brama dapat melesat pergi dari rumah Michelle. Dihantamnya langit-langit rumah, mengejutkan dan menimbulkan tanya bagi mereka yang sedari tadi--juga yang baru datang, menyaksikan aksi kebakaran dari luar rumah.

Leti adalah salah satu penonton yang menyaksikan kebakaran dari awal hingga api dari rumah Michelle mereda saat ini. Saat Thomas berhasil keluar dari rumah, pria itu sempat menceritakan situasi di dalam sebelum pingsan karena dehidrasi dan banyak luka memar di tubuhnya. Michelle bersama Mayang pun membawa Thomas ke klink terdekat untuk mendapat pertolongan pertama, mempercayakan kondisi rumahya pada Leti seorang. Maka, saat tiba-tiba ledakan disusul sosok setan api terbang melesat dari dalam rumah, Leti masih jadi saksinya. Leti enggan membuat anggapan, alih-alih ia membaca itu sebagai tanda untuk memerintahkan tim penyelamat masuk ke rumah dan melakukan evakuasi bersama Leti.

Di sana, terbaring dua jasad.

“Oh, Tuhan..” Leti menutup mulutnya. Tak kuasa melihat kenampakan yang tersaji.

“Astaga, ini Pak Ryo,” ucap salah satu anggota penyelamat.

“Dan sepertinya ini Pak Brama.”

Mendengar itu, Leti kembali menegaskan jenazah di samping Ryo, hingga keraguan pun muncul.

Ini bukan Brama.

Leti pun teringat akan mantra pemindah ruh Banaspati yang sempat Ki Rangga ucap. Ia pun melihat langit-langit rumah, jejak dimana Banaspati menjebol atap berserta asapnya tersisa di sana.

Mungkinkah…?

- - -

Banaspati Brama pun terbang menuju tempat kebakaran hitan, di sana rekan dan juniornya masih berjibaku dalam proses pemadaman api. Perlahan, Brama terbang rendah, melintasi jalur-jalur yang diselimuti api. Dengan kendali pernapasan dan konsentrasi, Brama pun memadakan api yang tersisa dicelah pepohonan dan perbukitan.

Tim Damkar di sana tersadar akan sesuatu yang terbang di atas mereka dan turut memadamkan api, menghentikan aktifitas mereka, termasuk juga Reyhan yang ada di sana.

Radio dari salah satu mobil Damkar memecah perhatian Reyhan atas bola api yang masih terbang di radius dekat tempatnya bertugas.

“Damkar Alpha.. Damkar Alpha, di sini tim penyelamat, ganti.”

Reyhan mengambil mikrofon radio dan menjawab, “Kepala Damkar Alpha di sini, ganti.”

“Oh, Komandan! B, Begini, Komandan..”

“Ada apa?”

“Saat ini kami tengah berada di rumah mantan istri Bramantyo Adiwilaga dan kami menemukan Pak Ryo telah meninggal dunia, Komandan. Kami mohon maaf dan turut berduka cita, komandan.”

“Apa?! Oh, Tuhan…”

Dunia Reyhan seperti berhenti berputar. Tak lagi ia mendengar apa yang diucapkan di seberang radio sana, mikrofon di tangannya juga telah tak berdaya di lantai truck Damkar.

Ini ulah Brama.. Ini ulah Brama… Racau Reyhan dalam kepalanya. Amarah campur sedihnya pun dimuntahkan lewat teriakan pelu dan kanal air mata yang diam-diam lewat di bilah wajahnya.

“Brama bangsat!!” Teriak Reyhan kacau dan terus meracau.

Para petugas Damkar di sana hanya menyaksikan keheranan, bingung akan kah menenangkan atau dibiarkannya sang komandan seorang diri. Di sisi lain, bola api yang berterbangan di atas mereka tadi membuat pekerjaan Damkar berkurang banyak dan mereka tentu senang sekali.

- - -

Setelah api di Hutan Senakarta padam seutuhnya, teriakan pilu terdengar samar-samar menyebut namanya.

“Rey, maaf tak dapat menjaga adikmu,” ucap Brama pada udara, berharap bahwa angin dapat menyampaikannya pada Reyhan yang berduka di bawah sana.

Brama pun menjauhi hutan. Tekadnya dibulatkan untuk mengubah citra Banaspati yang semula jadi eksekutor pendosa, jadi sang penyelamat bagi yang membutuhkan. Ia sadar, setelah ia menjadi Banaspati, ia tak dapat kembali menjadi manusia dan berinteraksi dengan manusia pada umumnya. Kendati demikian, sebagian besar orang terdekatnya pun telah tiada dan menganggapnya tiada. Jadi, mungkin ini adalah balasan setimpal atas apa yang pernah ia perbuat di masa lalu. Kegagalan ia atas mendidik hingga berujung pada kematian sang putra, akan ia tebus suka rela dengan menyelamatkan dan membantu manusia.

Untuk hari ini dan seterusnya.   [  ]


Selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar