Sabtu, 24 Agustus 2019

Melihat Potensi dari Personaliti

Fatimah Az Zahra | PK IMM Faperta UMJ
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah cabang Cirendeu, dengan umur berdiri yang tak lagi muda, cabang Cirendeu ini menaungi tujuh komisariat yang berakar di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Zillion sumber daya yang dimiliki, yang diikat dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dengan latar belakang yang berbeda-beda dari tiap komisariatnya, membentuk ciri khas tersendiri bagi cabang di kampus Muhammadiyah tertua ini. Banyak kader dengan heterogenitas dinamik, mengharuskan adanya pemetaan sumber daya dalam ikatan di cabang Cirendeu. Bertujuan agar tiap personaliti dapat maksimal di bidangnya sesuai dengan keinginan, potensi, dan personalitasnya.
Kesesuaian penempatan individu sangat mempengaruhi kinerja akan hal yang dilakukan. Pemetaan potensi atau sering disebut dengan istilah Talent Mapping dapat membantu mempersiapkan suatu organisasi dalam mengelola sumber daya sehingga dapat terhindar dari berbagai ekses negatif karena kurang efektifnya atau bahkan tidak adanya perencanaan dalam pengelolaan sumber daya dalam organisasi. Sehubungan dengan itu, Werner dan Desimone (2011)  dalam Mufid dan Wahyuningtyas (2016) mendefinisikan pengembangan sumber daya manusia (human resources development) sebagai serangkaian aktivitas yang sistematis dan terencana yang dirancang oleh organisasi untuk memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk mempelajari keahlian yang diperlukan dalam memenuhi persyaratan kerja saat ini dan yang akan datang.
Kepribadian sendiri merupakan cakupan keseluruhan pikiran, perasaan dan tingkahlaku, kesadaran dan ketidak sadaran yang membimbing orang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Sejak awal kehidupan, kepribadian adalah kesatuan atau berpotensi membentuk kesatuan. Rollow May, berpendapat: personality is asocial stimulus value, artinya personality itu merupakan perangsang bagi orang lain. Jadi bagaimana cara orang lain itu bereaksi terhadap terhadap kita, itulah kepribadian kita.
Dalam tulisan Suprawinata (2014), pemetaan potensi sumber daya merupakan sebuah proses yang proaktif. Manakala dilakukan dengan baik akan juga memungkinkan perusahaan mampu memiliki modal manusia secara just-in-time karena dengan menganalisa potensi pengembangan akan dapat diketahui juga kekuatan dan kelemahan dari setiap orang yang sudah ada dalam perusahaan, mempersiapkan langkah-langkah untuk dapat mengisi celah kompetensi tersebut, serta pada saat bersamaan perusahaan dapat mengetahui kebutuhan tambahan modal manusia untuk dapat merealisasikan sasaran-sasaran yang sudah ditetapkan maupun untuk dapat menyesuaikan kemampuan perusahaan dalam mengikuti perkembangan dinamis yang terjadi di pasar sehingga perusahaan tetap kompetitif. Hal ini sama dengan ketepatan dalam memetakan kader-kader sesuai dengan keinginan, minat, dan potensinya. Jika penempatannya tepat, kader di ikatan cabang Cirendeu dapat senang dan aktif di bidangnya. Memberikan inovasi dan rela mencurahkan keseluruhan diri demi ikatan. Dan yang lebih penting, keikhlasan akan ridha Allaah SWT lah yang hanya diharapkan.
Pemetaan untuk mencapai keseimbangan pergerakan ini bisa dilakukan salah satunya dengan mengetahui personalitas dari tiap kader. Di era berkemajuan seperti sekarang ini, internet bukan lagi hal yang tabu di tiap kalangan maupun ranah lapisan masyarakat. Pengujian untuk mengetahui personalitas kader dapat mengunjungi https://www.16personalities.com/. Di sana dapat diketahui secara detail kepribadian seseorang dan potensi yang dapat dikembangkan berdasarkan 16 tipe kepribadian, di antaranya si penganalisa INTJ, INTP, ENTJ, ENTP; si diplomasi INFJ, INFP, ENFJ, ENFP; si penjaga ISTJ, ISFP, ESTJ, ESFP; dan si petualang ISTP, ISFP, ESTP, ESFP. Semua kepribadian itu merupakan fundamental dari jiwa seseorang yang apabila orang itu bekerja sesuai dengan dasar personalitasnya, diharapkan dapat passionate dan dapat berdaya guna bagi ikatan di komisariatnya juga untuk cabang Cirendeu.
Pengujian personaliti di atas dapat dilakukan saat melakukan pengkaderan dasar yaitu Daarul Arqam Dasar. Biasanya setelah DAD atau resmi menjadi kader, kader-kader muda ini akan dipersilahkan untuk memilih bidang mana yang sesuai dengan keinginannya. Tapi, tak sedikit pula kader-kader yang masih perlu asupan nutrisi ini bingung akan bidang yang akan ia pilih. Nah, di sini lah peran hasil dari pengujian personaliti tadi. Bidang Kaderisasi yang dibantu dengan Bidang Organisasi, dapat membuat formulasi pemetaan pra kader memilih bidang yang diinginkan. Dengan begitu, masalah kader merasa tak sesuai passion dapat ditekan.
Seperti contohnya, seorang kader memiliki kepribadian dan minat di bidang media dan komunikasi, tapi karena dirasa ia berpotensi di bidang kaderisasi, kader itu diboyong untuk masuk ke bidang kaderisasi dengan harapan dapat melobi calon-calon kader. Tapi, seiring berjalannya waktu, karena ia tidak berada di wadah yang sesuai keinginannya, ia malah setengah hati dalam mengemban amanahnya. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memang diperuntukan untuk akademisi yang sering mengedepankan intelijensi, tapi, bukan kah personaliti juga penting?
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang member kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadanyalah kamu akan dikumpulkan. (Q.S. Al-Anfal : 24)
Pada dasarnya, trilogi ikatan adalah religiusitas, intelektualitas, dan humanitas, namun apalah arti ketiganya tanpa dibingkai dalam personalitas. Pemetaan berdasarkan personalitas ini dapat mengimbangi trilogi tersebut. Tipe kepribadian ekstrovert-introvert didasarkan atas perbedaan respon-respon, kebiasaan-kebiasaan, dan sifat-sifat yang ditampilkan oleh individu dalam melakukan relasi interpersonal. Pada bidang tertentu di IMM, ada yang diperuntukan untuk si ekrovert ada juga untuk introvert. Karena dua label tersebut cukup akrab di telinga kita, bukan?
Eysenck mengemukakan bahwa seseoarang   yang memiliki tipe kecenderungan ektrovert akan memiliki karateristik sabagai berikut: mereka tergolong orang yang ramah, suka bergaul, menyukai pesta, memiliki banyak  teman, selalu membutuhkan orang lain untuk diajak berbicara, dan  menyukai  segala bentuk kerja sama. Mereka tidak jarang selalu mengambil kesempatan yang datang pada mereka, tidak jarang menonjolkan diri, dan  sering  kali  bertindak  tanpa berfikir terlebih dahulu, secara umum termasuk individu yang meledak-  ledak. Individu ekstrovert menyukai lelucon, mereka cepat tanggap dalam menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya serta menyukai perubahan. Mereka individu yang periang dan tidak terlalu memusingkan suatu masalah, optimis dan ceria. Mereka lebih suka melakukan kegiatan dari pada berdiam diri, cenderung agresif, mudah hilang kesabaran, kadangkadang kurang dapat mengontrol perasaannya dengan baik, kadang-kadang mereka juga tidakl dapat dipercaya.
Menurut Jung, orang ektrovert dipenggaruhi oleh dunia obyektif, diluar dirinya. Orientasi tertuju pada: pikiran, perasaan terdasarnya terutama ditentukan oleh lingkungan. Baik lingkungan sosial atau non sosial.
Sedangkan tipe kepribadian introvert ditandai dengan trait yang bertolak belakang dengan ekstrovert. Trait tersebut seperti tenang, pasif, tidak ramah, hati- hati, pendiam, bijaksana, pesimis, damai, tenang, dan terkendali. Sedangkan orang introvert menurut Jung tidak dipenggaruhi oleh dunia obyektif, tetapi cenderung dari dalam dirinya. Orientasi tertuju ke dalam: pikiran, perasaan terdasarnya terutama ditentukan dari dalam dirinya sendiri bukan ditentukan oleh lingkungan
Formulasi berdasarkan 16 kepribadian dengan tipe ekstrovert dan introvert, untuk pemetaan Ketua Umum, Bidang Kader, Bidang Hikmah, Bidang SPM, Bidang EKW, dan Bidang SBO  lebih baik yang ekstrovert atau untuk perbidang sendiri paling tidak ada yang ekstrovert. Seperti yang kita tahu, bidang-bidang tersebut memerlukan keaktifan, luwes, dan retorika yang mumpuni dalam bertemu dan menghadapi banyak orang. Kemampuan berkomunikasi menjadi sangat penting dalam bidang ini. Dengan adanya dominasi dari orang-orang ekstrovert, bidang-bidang tersebut diharapkan dapat berdiaspora membangun relasi antar komisariat.
Tentu setelah ada ekstrovert, pasti ada juga introvert. Sekretaris Umum, Bendahara Umum, dan bidang-bidnag yang belum disebutkan di atas, cocok untuk kader yang berkepribadian introvert. Dan tentu saja orang-orang ini lah yang menjadi penyeimbang ke’gegabahan’ si ekstrovert dalam keorganisasian baik tingkat komisariat maupun cabang. Tidak menutup kemungkinan juga, untuk ektrovert masuk ke wadah introvert pun sebaliknya. Kajian teoritis ini hanya berisi inovasi dalam melakukan pemetaan sesuai personaliti kader dan meretas kesenjangan antara minat dan amanah yang diemban.
Memang upaya pemetaan ini terdengar merepotkan namun upaya untuk mewujudkan sistem perkaderan yang autentik tentu memerlukan usaha lebih. Pencapaiannya, kader-kader diharapkan mampu berdiaspora tak hanya di dalam lingkup cabang Cirendeu saja, tapi juga memiliki daya saing dengan cabang IMM lain. Lagipula, sudah seyogyanya bidang kaderisasi sebagai formulator untuk memperhatikan kader-kader bukan hanya dari progress kinerjanya setelah masuk ke dalam bidang atau menjadi Badang Pimpinan Harian, tapi juga saat masih berkecambah yang perlu unsur hara dan arahan gerak untuk menjadi tumbuhan kuat nan utuh. Dengan melakukan apa yang sesuai dengan kepribadiannya juga, loyalitas pada ikatan dapat ikut tumbuh demi memperkuat barikade trilogi dan trikompetensi dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Cabang Cirendeu.

Referensi:
Mufid., dan Wahyuningtyas. 2016. Pemetaan Kebutuhan SBM Berdasarkan Analisis Beban Kerja (ABK) dan Mutu Layanan Perpustakaan Di Pusat Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Libraria Vol. 4 No. 2
http://etheses.uin-malang.ac.id/2260/6/08410139_Bab_2.pdf

**ditulis untuk memenuhi persyaratan membuat esai seleksi Latihan Instruktur Dasar PC IMM Cirendeu tahun 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar