Selasa, 07 April 2020

Pause

tepat tulisan ini diunggah, lockdown dan/atau social distancing udah sebulan berjalan. diprediksi situasi kayak gini bakal terus berlangsung sampai bulan ramadhan dan syawal menyapa. sejak pekan pertama bulan april --itu juga karena baru gue sadari-- mushollah deket rumah udah tidak lagi melaksanakan sholat wajib berjamaah, dan entah dari masjid atau mushollah mana, tiap adzan berkumandang bukan lagi seruan sholat berjamaah tapi sholat di rumah. menirukan cara adzan rasulullah saw ketika kondisi hujan dan tidak menyerukan ummatnya untuk sholat di surau.

kita semua ngerasa sedih dengan kondisi begini pasti. ramadhan dan syawal tak lagi sama. jangankan untuk bersua dengan sanak saudara, damba-damba berbuka bersama dan semarak hari raya tinggal angan belaka.

kondisi saat ini bener-bener menghentikan sejenak segala aktifitas luar rumah, walaupun gak semua, karena di aspek dan kondisi lain kita dipakasa harus kebal dengan anjuran karantina mandiri ini. tagar #dirumahAja yang diromantisasi tidak berlaku untuk sebagian kalangan yang tidak punya privilage penuh akan hal ini.

namun, mayoritas kita emang seakan di-pause. dijeda.

ragam aspek yang dijeda paksa buat kita gak terima, awalnya. tapi ya mau gimana? begini adanya..

gak cuma satu dua aspek yang 'fall down' karena kondisi ini, tapi semua. semua kena imbas. seperti konsep domino. jatoh satu ya jatoh semua.

sekolah-sekolah akhirnya nerapin sistem belajar di rumah secara online, ujian online, bahkan meniadakan ujian nasional, kalender akademik tak luput kena imbas jadi berantakan. koorporasi mati, makin ke sini karyawan kena pemutusan hubungan kerja karena gak mampu bayar gaji lagi. mahasiswa yang harusnya seminar proposal, penelitian yang harus kontak dengan orang, seminar hasil, sidang, bahkan wisuda jadi ketunda juga. cari kerja? mana bisa wong ijazah masih di meja. oke, udah freshgraduate, udah ngelamar kerja, tapi apa dengan kondisi begini suatu koorporasi akan adain interview kerja? ck- nihil, boss..

tapi di sisi lain apa semua paham dengan kondisi begini?

engga, cuy. cycle begini malah bikin sebagian orang untuk 'neken' satu sama lain. padahal diteken juga percuma. terkhusus aspek yang ogut bahas di atas, gak bisa dipaksa karena aspek tersebut adalah template. udah terkonsep. gak ada pilihan lain selain manut dengan keadaan.

....tapi ya balik lagi, gak semua punya privilage penuh atas tagar #dirumahAja ini...

dengan pergerakan dibatasi begini, tapi tagihan tak berjeda. kebutuhan pangan sandang papan aman, tapi token listrik, paket internet, air harus tetap diperhatikan. gue jadi kesel sendiri sampai bisa menghujat keadaan, "persetan dengan kebutuhan primer! sekarang yang sekunder malah jadi primer!!" haduhh.. saking emosinya dengan keadaan kayaknya.

kalau di-stage gue pribadi, dengan adanya keadaan begini, gue jadi gak yakin setelah kondisi aman, no longer social distancing, akan bisa kerja di koorporasi. lamaran-lamaran gue mungkin gak dicolek karena koorporasi lagi sibuk-sibuknya mutusin hubungan kerja dalam rangka mengembalikan stabilitas perusahaan. i don't know, just my putus asa thinking said so..

...karena semua kena jeda.. jadi ada penundaan.. ketunda semua..

ya, kalau udah dalam kondisi kayak begini gak saling dukung dan saling ngerti, bisa-bisa pada mati. bahkan bisa aja, krisis moneter 98' kejadian lagi.. ya, waullahu'alam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar