Rabu, 01 April 2020

Accomplishment: the Double Edge Sword


Setelah sebulan lebih gue resmi jadi Sarjana Pertanian --Alhamdulillah, ditambah belum ada agenda permanen –baca: masih nganggur, dan kondisi sosial yang lagi begini, bikin gue cukup punya banyak waktu untuk mikirin hal-hal kecil, misalnya gue suka mikir, “Naruto sekarang lagi ngapain ya di Desa Konoha?”, “Di episode Boruto minggu depan, Naruto atau Sasuke muncul gak ya?”, dan hal lainnya salah satunya yang akan jadi topik tulisan gue kali ini..

Tentang sebuah pencapaian.

Kadang kalau kita lagi berfilsuf pada diri sendiri, pasti ada aja pertanyaan ringan yang malah menggiring ke jawaban berat. Kayak misal akhir-akhir ini gue lagi mempertanyakan eksistensi diri gue. Tentang pencapaian-pencapaian yang udah gua dapet dan perasaan atas pencapaian tersebut. Sebagian orang yang tau gue mungkin tau juga kalau gue punya buku jurnal, nah di masa berfilsuf ria, gak jarang gue juga jadi buka-buka buku jurnal gue untuk liat how young and naïve I was back then. Seru dan malu pastinya baca tulisan dulu dulu hahaha. Dan dari tulisan-tulisan di jurnal itu, gue tau apa yang udah gue capai dan momentum yang udah gue lewati sampai sekarang.

Not to sound cocky, tapi jujur aja perasaan bangga dan besar kepala udah gak mungkin ditepis. Walaupun itu cuma dirasa sendiri tanpa diungkapin atau ditunjukin. Karena berkat dukungan semesta juga usaha gue untuk dapetin ini dan itu, gue berhasil mendapatkannya. Dan memuji diri sendiri tentang how I’ve become until now.

Sampai akhirnya gue menghukum diri gue sendiri dengan masuk ke perangkap komparasi.

Padahal semua punya pencapaian kebanggaannya masing-masing.

Sedikit berkunjung ke masa remaja, jujur, gue ngerasa enam tahun di sekolah menengah, minim hal yang bisa gue banggain. Gue merasa gak pernah fit in aja baik dari segi pertemanan maupun akademik. Yang gue inget, gue selalu ranking sepuluh besar dari bawah di kelas hahaha. Tapi walaupun begitu, gue inget betapa bangganya gue bisa juara dua lomba mengarang/nulis cerita waktu di SMP dan juara dua lomba pidato bahasa jepang waktu SMA. Sirkumtansinya sama sama dalam rangka bulan bahasa pula hehehe. Piala-piala plastik sebagai wujud validasi jadi pajangan di rumah, jadi pengingat kalau gue pernah berkilau di masa itu hahaha. Dan tentu aja, gue bangga banget dengan pencapaian itu.

Peralihan dari SMA ke kuliah. Lagi-lagi masih naïve, ditambah gengsi kalau cuma kuliah di kampus swasta sedangkan temen seangkatan SMA ada yang bisa kuliah di kampus bergengsi dan negeri. Gue pernah ngerasain hal gitu kok. Bahkan di semester kedua gue di kuliahan, udah sempet ambil kursus online persiapan SBMPTN 2017. Ceritanya masih belum terima kenyataan kalau gak bisa jadi anak teknik waktu itu hahaha. Tapi a long the way, Fatimah di umur 18~19 tahun berpikir, “udah terlanjur basah, berenang aja sekalian!” Dan with her bold determination, online course yang udah gue bayar full tiga bulan intensif dari hasil tabungan nyisihin uang jajan kuliah gue lepas. Waktu itu akhirnya akun online course-nya gue kasih ke junior di SMA buat dia belajar persiapan SBMPTN juga.

Secercah determinasi itu lah yang membawa gue ke ragam pencapaian sampai sekarang. Alhamdulillah.. Paling engga, tindakan pertama yang gue lakukan saat itu adalah menerima keadaan kemudian ngebuang rasa malu karena kuliah di kampus swasta dengan jurusan underrated.

Apa? Gimana? Underrated?

Woya jelas underrated. Fakultas pertanian, pertanian, asosiasinya ya pasti institusi di bogor dong. Pasti. Loh, kok ini di jakarta? Emang mau nggarap lahan dimana? Bercocok tanam dimana? Dan pertanyaan lainnya yang non-substansial di era 4.0 sekarang ini. Dan gue selalu ingat sebuah percakapan dengan tetangga waktu awal jadi mahasiswa,

“Fatimah udah kuliah ya? Kuliah dimana?”
“Iya, bu. Di Muhammadiyah Jakarta.”
“Jurusan apa?”
“Pertanian, bu.”
“Oh? Kok gak ke IPB aja?”
“Hehehe, engga, bu.”

Awkward ya? Hehehe. Dan setahun kemudian –iya, anaknya setahun di bawah gue—anaknya satu kampus sama gue, di fakultas yang berbeda. Hehehehehe. Hehehe. Hehe.

Pencapaian demi pencapaian tergapai as the semester goes by. Mulai dari IPK yang stabil gak pernah lewat dari 3.70, diamanahin ini dan itu, dipercaya ini dan itu, jadi finalis mahasiswa berprestasi di kampus yang kemudian dipermudah untuk daftar beasiswa dan dapet beasiswa untuk satu tahun, dan yang paling anyar adalah bisa lulus 3.5 tahun dan penulisan skripsi gue dinilai bagus dengan minim kesalahan jadi dikasih waktu revisi pasca sidang cuma tiga hari. Super duper seneng banget ketika ada yang muji tulisan gue. Selama ini gue –kalau ada ide—pasti selalu nulis cerita dan gue post di akun nulis gue. Mungkin beberapa temen gue tau kalau gue nulis, tapi gak tau how the flow of my writing –maybe?--, jadi ketika penulisan ilmiah gue dicap bagus ya itu yang akan gue carried a long the way. Dan gue bangga dengan diri gue sendiri. Gue bisa nulis!

Seperti yang khalayak ketahui kalau saat wisuda pasti ada predikat-predikat yang disemat ke wisudawan/watinya. Diukur berdasarkan IPK atau presentasi tersier lain tentu aja. Gue pernah obrolin ini sama temen, tapi seperti yang gue bilang, justru malah percakapan ini jadi buat gue terperangkap di perangkap komparasi dan insekyur dengan masa nanti. Mungkin temen gue ini super baik untuk gak buat besar kepala dan tetep mijak bumi. Tapi rasanya, pecapaian gue jadi gak ada nilainya.. I mean…

Oke, gue cumlaude misal, tapi cumlaude-nya gue gak sebanding sama mereka yang cumlaude dari kampus prestige dan negeri. Experience jadi asisten dosen atau praktikum, lulus 3.5 tahun, finalis mapres, organisasi kenceng, akademik kenceng, semua pencapaian lain pasti bakal masih kalah sama mereka yang juga ngelakuin hal yang sama tapi asalnya dari kampus prestige dan negeri. Gue.. Ternyata masih belum bisa apa-apa.. Walaupun gue bangga dengan segala pencapaian selama ini, semua masih bisa dipatahin.. Ngeliat ke atas yang paling atas, dan ternyata gue – kita—bukan apa-apa..

Jadi sebenarnya, pencapaian itu bukan pencapaian kalau masih ada komparasi.. Ya gak sih?

Intinya, pencapaian gue selama kuliah serasa nirmakna untuk masa nanti. Realistic wise.. Komparasi sulit dihindari.. Paling tidak untuk momentum sekarang.

Tapi bukan berarti gue memojokkan atau mendiskreditkan mereka bahkan temen-temen gue yang jebolan dari kampus negeri.. this is just how I thought, currently.. and at the end of the day, we compete to each other.. right?

Oh, boy.. why this turn out to sounds pathetic…

Ya.. di satu sisi, adanya pencapaian bikin gue punya tujuan dan bergerak tentu aja.. Tapi di sisi lain, aftermath dari tercapainya pencapaian itu bikin gue membandingkan diri dengan yang lain. Bahasa gaulnya, insecure lah ya. Mempertanyakan ini dan itu, “Apa gue pantes?”, “Kalau gue begini kesannya sombong gak sih?”, “Yaelah, norak banget gue beginian aja orang seluruh dunia harus tau. Ada yang lebih hebat dari gue..”, “Anjir annoying banget gue hal sepele gini aja diromantisasi”, dan hal negatif lainnya.

Like the tittle itself, accomplishment is a double edged sword..

Oh, atau mungkin kita cuma manusia yang memang gak pernah dan gak akan pernah puas atas apa yang telah dicapai?

...

Gue tau semua orang punya porsi dan masanya masing-masing, dan gue jadi belajar ketika ada yang seneng atau bangga atas pencapaiannya, let them be. Rasa itu temporer, kayak petasan aja. Udah meledak langsung hening panjang lagi, banyakan ragunya sebenernya. Ya, setidaknya dalam kasus gue sih begitu.

…. I know the passages above isn’t make any sense at all other than gue rambling perihal pencapaian dan komparasi. Just.. Let it be, okay? We just a bundle of insecurities mixed with flesh actually.. ;_;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar